Kebutuhan air bersih di kota besar yang semakin meningkat, sayangnya belum bisa terpenuhi dengan maksimal. Beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain, pencemaran sungai, tata kota yang buruk, dan masih banyak lagi. Dalam rangka memperkuat kesadaran masyarakat melalui gerakan #BersamaDemiAir, PALYJA dan Kompasiana menggelar acara Kompasiana Nangkring Bersama Demi Air yang digelar pada 21 Maret 2016 lalu di Instalasi Pengolahan Air (IPA) 1 PALYJA Pejompongan. Melalui acara ini, Kompasianer diajak untuk mengunjungi langsung instalasi pengolahan air dan workshop Bersama Demi Air.

Dari 30 Kompasianer yang ikut serta, telah terkumpul artikel reportase atau pengalaman selama kegiatan. Kompasiana dan PALYJA kemudian memilih 5 artikel review paling menarik, yaitu:

Selamat bagi para pemenang!

Sumber : http://www.kompasiana.com/kompasiana/ini-dia-pemenang-review-kompasiana-nangkring-palyja-bersama-demi-air_571dfff69893735b09a8517e

sungai2-56f72b5602b0bdf9046e06e7

Deskripsi : Alat berat memberisihkan sampah disertai buih bahan kimia di kali Cipinang, Jakarta Timur I Sumber Foto : kompas.com

Lima tahun lalu saat aku masih tinggal di Jakarta, sesuatu yang menjadi pandangan umum melihat tetangga mondar-mandir pagi hari mengambil air di kamar mandi rumah ku. Itu yang terjadi ketika musim kemarau tiba di Pondok-Pinang, Jakarta Selatan. Rumah orang tua ku di selatan jakarta itu terletak di daerah dengan posisi yang tinggi di Pondok-Pinang. Daerah tersebut dikenal daerah langganan banjir apabila musim hujan. Daerah yang dilewati oleh sungai pesanggrahan. Walaupun dekat dengan sungai tetapi pada musim kemarau mengalami kesulitan air.

Kepadatan penduduk merupakan jawaban yang tepat, kenapa masyarakat yang tinggal disana mengalami kekurangan air. Rumah orang tua ku saja sampai sulit sinar matahari masuk kedalam rumah. Karena kanan kiri rumah sudah dipenuhi rumah tetangga yang mulai merenovasi rumah menjulang keatas. Melihat kesumpekan itu, aku akhirnya memutuskan membeli rumah di daerah yang sunyi di Cikeas Udik, Gunung Putri, Bogor dan tinggal disana.

Keluarga ku beruntung karena sudah mempersiapkan diri jauh-jauh hari menggunakan Jet Pump dengan kedalaman 25 meter di Pondok-Pinang. Rumah ku menjadi langganan tetangga di musim kemarau untuk dimintakan air. Entah kenapa kami diberikan rezeki dari ALLOH SWT tidak kekurangan air. Apabila tidak dituntaskan masalah ini maka Jakarta akan mengalami krisis air.

Air merupakan salah satu kebutuhan utama bagi manusia. Air digunakan untuk memenuhi kebutuhan akan asupan air ke tubuh, mandi, membilas setelah buang air kecil / besar, mencuci peralatan, mencuci pakaian, dll. Apabila masyarakat kekurangan air akan menimbulkan permasalahan sosial.

Tetapi ironisnya, manusia sering menyia-nyiakan dan tidak menghargai air sebagai bagian dari penopang kebutuhan hidupnya. Mari kita lihat disungai-sungai disekitar kita dipenuhi sampah, limbah rumah tangga serta industri. Seolah tidak perlu lagi memikirkan masa depan, para perusak sungai itu tutup mata dan telinga terhadap masa depan anak-cucu mereka kelak. Karena kejahatan manusia seperti itu berujung kita tidak bisa menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari dan berujung membelinya.

BERSAMA DEMI AIR PALYJA

Menyambut Hari Air Dunia 2016 yang jatuh setiap tanggal 22 Maret, PT PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA), operator penyediaan dan pelayanan air bersih untuk wilayah Barat DKI Jakarta, mengkampanyekan “Bersama Demi Air”. Kampanye ini guna mendorong kebersaamaan menjaga ketersediaan air Jakarta. Hal ini Sejalan dengan tema Hari Air Dunia tahun ini “Water and Jobs”.

dirut-56f721934c7a61d81967b31b
Deskripsi : Budi Susilo (Direktur Costumer Service PALYJA) menyampaikan permasalahan air baku dari 13 sungai yang mengalir di Jakarta. I Sumber Foto : Andri M

Bapak Budi Susilo (Direktur Customer Service PALYJA) di acara Kompasiana Nangkring dan PALYJA, Senin (21/03/2016),menjelaskan “Ketersediaan air bersih di Jakarta semakin sulit didapatkan. Tiga belas sungai yang berada di Jakarta, sudah kurang bagus lagi untuk diolah menjadi air bersih. Hal ini disebabkan kandungan deterjen dan keberadaan sampah. Air sungai telah terkontaminasi deterjen dan amonia. Untuk itu harus melalui pemrosesan agar dapat digunakan oleh masyarakat” ucapnya

Perusahaan operator air bersih tidak diperkenankan mengolah air yang bersumber dari air tanah. Hanya air permukaan seperti air sungai atau air waduk saja yang bisa digunakan sebagai sumber air baku. Bagaimana masyarakat bisa mendapatkan air bersih apabila air baku permukaan sudah tercemar. Untuk itu perlu peran masyarakat menjaga air sungai agar layak dijadikan air baku.

PT PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) hadir di Jakarta untuk meningkatkan penyediaan dan pelayanan air bersih kepada masyarakat di wilayah Barat DKI Jakarta sejak 1 Februari 1998. Ternyata PALYJA sudah melalui 25 tahun kerjasama dengan PAM Jaya. PALYJA merupakan bagian dari SUEZ ENVIRONNEMENT, lini usaha Grup GDF SUEZ – Perancis, yang bergerak di bidang: air, pelayanan limbah, peralatan terkait yang penting bagi kehidupan sehari-hari dan pelestarian lingkungan; dan juga merupakan bagian dari PT Astratel Nusantara, lini usaha Grup ASTRA – Indonesia yang bergerak di bidang infrastruktur.

maskom-56f722829397739e18f1467e
Deskripsi : Ibu Meyritha (Corpoorate Communication & Social Responsibility Division Head) mengulas tentang pencapaian PALYJA I Sumber Foto : Andri M

Menurut Ibu Meyritha sebagai Corporate Communication and Social Responsibility Division Head “sejak tahun 1998 PALYJA telah berhasil meningkatkan akses air bersih menjadi lebih dari 404.769 sambungan melalui air perpipaan di wilayah Barat Jakarta. Saat ini PALYJA telah melayani lebih dari 3 juta masyarakat Jakarta yang tinggal di wilayah barat sungai Ciliwung. Peningkatan populasi yang terlayani mencapai 2 kali lipat sejak tahun 1998 yang melayani hanya 1,5 juta orang” pada saat sessi tanya jawab dengan para blogger di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Pejompongan, jakarta.

pengolahan-56f7249f02b0bd02048b4585
Deskripsi : Air Baku yang di olah di IPA Pejompongan I Sumber Foto : Andri M

Saat ini, baru 60 persen warga Jakarta yang mendapatkan akses air bersih melalui air perpipaan. Sekitar 40 persen penduduk Jakata belum mendapatkan akses air bersih perpipaan yang memenuhi persyaratan kualitas air berdasarkan Permenkes No.492/201. Sehingga masih banyak masyarakat mengkonsumsi air tanah yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan.

Dari peningkatan jumlah pelanggan yang naik 2 kali lipat, pertumbuhan pelanggan masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) sangat signifikan. Sejak tahun 1998 masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang mendapatkan pelayanan air perpipaan lebih dari 8 kali lipat, dari 60.000 penduduk menjadi lebih dari 500.000 penduduk.

Permasalahan Ketersedian Air Baku

UUD 1945 menyatakan, ”Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan” (Pasal 33 Ayat 1); ”Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara” (Pasal 33 Ayat 2); ”Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”

Air disebutkan secara jelas dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kenapa masyarakat harus membeli !!!! …. Semua itu hanya angin surga yang diimpikan para penggagas dan pendiri republik ini. Sementara yang berjalan dan dipraktikkan sampai hari ini, yaitu sistem ekonomi yang dualistik.

Apakah perusahaan pengolah air bersih yang melakukan kerjasama operasional (KSO) patut disalahkan? ….. menurut ku pemerintah lah yang memiliki tanggung jawab ini, karena negara yang disebutkan dalam Undang-Undang. Dahulu KSO ini dijalankan pada akhir era 90an karena ketidakmampuan pemerintah daerah mengurus pengelolaan air dan kenudian dilimpahkan ke swasta. Berujung mengalirkan uang negara kepada perusahaan tersebut untuk mengolah air baku menjadi air bersih. Seharusnya pemerintah boleh membeli jasa dan tehnologinya kepada pihak asing, tetapi negara harus memberikan air kepada masyarakat seperti udara yang dihirup.

Sumber air baku memegang peranan yang sangat penting dalam industri air minum. Air baku atau raw water merupakan awal dari suatu proses dalam penyediaan dan pengolahan air bersih. Air baku berasal dari sumber air pemukaan, cekungan air tanah dan atau air hujan yang memenuhi ketentuan baku mutu tertentu sebagai air baku untuk air minum. Sumber air baku bisa berasal dari sungai, danau, sumur air dalam, mata air dan bisa juga dibuat dengan cara membendung air buangan atau air laut.

Berdasarkan studi PAM JAYA ketahanan air di Jakarta sekitar 3 %, Dimana penduduk yang tinggal di Jakarta sebanyak 10 juta dengan kebutuhan air bersih 100 liter / hari / orang. 26.100 liter/detik kebutuhan air di jakarta dimana hanya 17.000 liter / detik kebutuhan air bersih yang dapat dipenuhi oleh operator air bersih. Sehingga defisit air bersih yang harus dipenuhi sebesar 9.100 liter / detik.

Menyediakan air bersih bukanlah perkara mudah. Kualitas air permukaan untuk dijadikan air baku di Jakarta sering kali tidak memenuhi standar. Buktinya, sumber air baku dari dalam kota Jakarta hanya 5,7% dari total air baku yang dibutuhkan Palyja sebagai salah satu operator penyedia air bersih di Jakarta. Air baku untuk wilayah Jakarta diperoleh dari Kali Krukut sebanyak 4% dan Cengkareng Drain sebanyak 1,7%. Sedangkan 94,3% air baku lainnya bersumber dari luar Jakarta, yaitu dari Waduk Jatiluhur 62,5%, Instalasi Pengolahan Air (IPA) Serpong 31%, dan IPA Cikokol 0,8%.

Ada beberapa tantangan untuk mendapatkan air baku dan memberikan air bersih bagi masyarakat yang dihadapi PALYJA.

  • Tambahan air baku dan peningkatan kualitas air baku yang ada saat ini.
  • Pengembangan dan peningkatan distribusi jaringan.
  • Penanganan tindakan ilegal.
  • Sinergi dengan multistakeholder.
air-kotor-56f723c71f23bd2e057c9f1c
Deskripsi : Air Baku yang diterima oleh PALYJA dengan membelinya I Sumber Foto : Andri M

Air baku yang didapatkan oleh PALYJA di IPA Pejompongan ternyata membeli, walaupun itu masih belum air bersih, keruh , dan kotor. Masih perlu mengalami proses pengolahan terlebih dahulu untuk menjadi air bersih yang bisa dikirimkan ke rumah-rumah pelanggan PAM JAYA.

Pipa yang mengalir juga menjadi masalah tersendiri. Masih banyak terdapat pipa-pipa tua yang digunakan menjadi jalur distribusi air bersih ke masyarakat . Pada tahun 2016 terdapat 20 km jaringan yang harus direhabilitasi dan terdapat 32.000 titik kebocoran ditangani. Tidak hanya itu terdapat 3.100 penyalahgunaan dan 1.900 kasus sambungan ilegal. Untuk tahun 2016 PALYJA melalukan upaya rehabilitasi, menyelesaikan permasalahan dan menutup kebocoran tersebut. PALYJA dan Pemerintah DKI untuk menangani tindakan ilegal pencurian air menyusun MoU bersama Polda untuk proses penindakan bagi pelaku pencurian air.

*****

Masalah perpipaan berkarat karena umurnya yang sudah tua sebaiknya dicari solusinya. Pipa – pipa tua inilah yang menimbulkan air dari instalasi pengolahan air (IPA) tidak dapat langsung di komsumsi oleh pelanggan PAM JAYA, harus dimasak terlebih dahulu. Semakin banyaknya jumlah manusia yang membutuhkan pasokan, membuat pemerintah berinvestasi lebih besar untuk membangun jaringan perpipaan baru.

Untuk menjaga kelesterian air baku dan mendapatkan air bersih yang layak, sebaiknya masyarakat bersama-sama menjaganya. Jangan membuang sampah di sungai dan mengurangi penggunaan unsur kimia yang membuat air baku kualitasnya berkurang.

#Bersama Demi Air

unnamed-56f751176123bd0905eda417
Deskripsi : Bersama Demi Air I Sumber Foto : Kompasiana
palyja-56f7547302b0bd0d056e0728
Deskripsi : Kompasianer mengunjungi Instalasi Pengelolan Air (IPA) PALYJA, Pejompongan I

Sumber Foto : Indah Noing Salam hangat Blogger Rusuh – Andri Mastiyanto

email : mastiyan@gmail.com

Artikel ini adalah opini dan pendapat dari penulis kompasiana dan dilombakan dalam kegiatan Kompasiana Nangkring Bersama PALYJA 21 Maret 2016″

Sumber : http://www.kompasiana.com/rakyatjelata/sungai-tidak-dirawat-berujung-air-harus-membeli_56f6771ed69373a807722595

air-1-56f648cb9993737807ba90d9
Instalasi Pengolahan Air 1 PALYJA Pejompongan. Sumber Foto : Kompasiana

Air merupakan kebutuhan paling mendasar bagi manusia. Tetapi ironisnya, manusia sering menyia-nyiakan dan tidak menghargai air sebagai bagian dari penopang keberlangsungan hidupnya. Lihat saja. Masih ada sungai-sungai disekitar kita dipenuhi sampah, limbah rumahtangga serta industri. Air tanah dieksploitasi habis-habisan tanpa memperimbangkan resiko yang akan muncul sesudahnya. Seolah tidak perlu lagi memikirkan masa depan.

Mengenang Hari Air Dunia (Selasa, 22/03/2016), seharusnya menjadi refleksi dan evaluasi bagi setiap orang. Ditengah-tengah krisis air bersih di berbagai belahan dunia, kita harus lebih prihatin dan mulai berpikir dan bertindak nyata. Bagaimana kita bisa berkontribusi untuk penyelamatan air bersih dari hal-hal kecil yang bisa kita lakukan di rumah dan kantor kita masing-masing.

Tetapi kita bersyukur, ternyata masih banyak orang, kelompok atau organisasi yang masih lantang menyuarakan tindakan penyelamatan air. Ingatlah, ini bukan hanya tugas mereka. Seharusnya menjadi tanggung jawab kita bersama.

Defisit Air Bersih 9.100 Liter/Detik

Dalam acara nangkring Kompasiana dan PALYJA, Senin (21/03/2016), Bapak Budi Susilo (Direktur Customer Service PALYJA) mengatakan bahwa air bersih di Jakarta semakin langka. Dari lebih kurang 13 sungai yang mengalir di Jakarta, hampir semua tidak ekonomis lagi untuk diolah menjadi air bersih. Hal ini disebabkan kebiasaan sebagian masyarakat membuang deterjen dan sampah ke sungai. Sehingga air sungai tersebut telah terkontaminasi deterjen dan amonia.

Sementara air tanah di beberapa wilayah Jakarta sudah tidak aman secara kualitas dan kuantitasnya. Hal ini berdasarkan penelitian BPLHD DKI Jakarta pada tahun 2008. Berdasarkan persentasi kelayakannya, bahwa daerah Jakarta Utara hanya layak dikonsumsi 12%, Jakarta Barat 7%, Jakarta Pusat 9%, Jakarta Selatan 35% dan Jakarta Tinur 30%. Hal ini disebabkan tingkat pencemaran air tanah oleh bakteri E-Coli serta Fecal Coliform yang disebabkan oleh rembesan septic tank dan meresapnya zat kimia, logam, zat pewarna, sabun dan berbagai zat berbahaya lainnya dari industri-industri rumahan.

Terbatasnya sumber air bersih dari air permukaan dan air tanah telah menjadi ancaman serius bagi penduduk Jakarta. Berdasarkan studi PAM Jaya, bahwa tingkat ketahanan air di Jakarta hanya sekitar 3% saja. Hal ini dilihat dari kebutuhan air bersih di Jakarta mencapai 26.100 liter/detik. Sementara kebutuhan air bersih yang dapat dipenuhi oleh kedua operator tersebut hanya 17.000 liter/detik. Itu artinya, Jakarta mengalami defisit air bersih 9.100 liter/detik. Bisa anda bayangkan dengan penduduk Jakarta saat ini sudah lebih dari 10 juta jiwa. Berapa air bersih yang dibutuhkan setiap harinya. Apalagi setiap orang ternyata membutuhkan air 100 liter/hari.

Upaya PALYJA dalam Menanggulangi Masalah Air di Jakarta

Sejak tahun 1997, PAM Jaya telah melakukan kerjasama dengan dua operator pengolahan dan pelayanan air bersih untuk masyarakat Jakarta, yaitu PALYJA dan Aetra. Kedua operator tersebut memiliki wilayah pelayanan masing-masing. PALYJA berada di bagian barat Jakarta, sementara Aetra dibagian timur Jakarta. Sungai Ciliwung merupakan batas wilayah pelayanannya.

Menurut Ibu Meyritha (Corporate Communication and Social Responsibility Division Head) bahwa pendelegasian pengelolaan air bersih dari PAM Jaya kepada swasta dalam bentuk kerjasama saja. Segala aset utilitis akan dikembalikan kepada PAM Jaya pada saat kontrak berakhir. Dalam hal ini, kontrak kerjasama yang telah disepakati untuk masa waktu 25 tahun.

air-2-56f649dded9273b30b7a7af4
Presentasi Meyritha (Corporate Communication and Social Responsibility Division Head). Sumber Foto : Kompasiana

Sebagai pengelola air bersih di Jakarta, PALYJA memiliki ruang lingkup kerja mulai dari produksi, distribusi, customer services (metering-billing-collection), perawatan dan rehabilitasi serta investasi. Melalui investasi, PALYJA telah menginvestasikan dana sebesar 2.089 triliun. Fokus investasi tersebut bertujuan untuk meningkatkan pelayanan, penjualan dan transfer teknokogi. Melalui investasi tersebut terlihat jelas pencapaian utama PALYJA di tahun 2015. Jikalau tahun 1998 telah memiliki 201.000 sambungan, 89.2 juta m3 volume air terjual, 59.4% Non Revenue Water, serta 32% telah dapat mengakses air bersih. Maka tahun 2015 telah memiliki 404.769 sambungan, 160.3 juta m3 volume air terjual, 39.3% Non Revenue Water, serta 73% telah dapat mengakses air bersih.

Sementara dari sisi pertumbuhan pelanggan PALYJA dari tahun 1998-2015, Ibu Mey juga memaparkan bahwa dari enam kelompok pelanggan yaitu kelompok usaha skala besar, kelompok rumah tangga mewah dan usaha menengah, kelompok rumah tangga menengah dan usaha kecil, kelompok rumah tangga sederhana, kelompok penghasilan rendah dan kekompok sosial, bahwa pelanggan kelompok masyarakat penggasil rendah memiliki peningkatan yang lebih tinggi yakni lebih 571%.

Itu adalah komitmen PALYJA kepada masyarakat berpenghasilan rendah. Bahkan hingga saat ini, telah diupayakan 58 kios air dan master meter untuk melayani 70.000 warga. 245 public hydrants untuk melayani 73.500 warga. Bahkan telah mencapai 5000 koneksi GPOBA (Global Partnership on Output Based Aid).

Seiring dengan meningkatnya kebutuhan air bersih, PALYJA tetap melakukan pengembangan operasi. Misalnya tahun 2015 telah mengoperasikan Instalasi Pengambilan Air Baku Kanal Banjir Barat (500 lps) dengan inovasi terbaru yakni Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) yang merupakan teknologi pertama dan satu-satunya di Indonesia dan Asia Tenggara. Teknologi ini merupakan pemanfaatan bakteri alami dalam proses pengolagan air yang mampu menghilangkan 87% amonia. Disamping itu, telah diupayakan peningkatan kapasitas produksi IPA Pejompongan (8.600 lps-8.800 lps).

Sementara tahun 2016 akan diupayakan peningkatan kapasitas produksi IPA Pejompongan (8.800 lps-9.200 lps) untuk mensuplai wilayah Jakarta Barat dan Utara. Peningkatan kualitas air bersih di jaringan (re-klorinasi di booster pump Grogol, Gajah Mada dan Tubagus Angke). Serta pengembangan operasi melalui instalation of motorized valves for controlling suplly.

Disamping itu, akan ada proyek pekerjaan tahun 2016 untuk penambahan jaringan pipa dan booster pump yang meliputi Proyek Fatmawati (kira-kira 1.2 km), Proyek Muara Baru (kira-kira 3.1 km) dan Proyek Kuningan (kira-kira 3.7 km). Serta di Instalasi Pengolagan Air (IPA) Cilandak akan ada pengerjaan teknologi biological pretreatmen yaitu MBBR untuk menghilangkan amonia hingga 70%. Juga optimasi reservoir yaitu dengan penambahan pipa koneksi.

Bersama Demi Air

Dalam kesempatan nangkring bersama PALYJA, saya mengamati langsung betapa kompleksnya ternyata untuk menjadi operator air bersih bagi Jakarta. Setidaknya ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Pertama, tambahan air baku dan peningkatan kualitas air baku yang ada saat ini. Kedua, pengembangan dan peningkatan distribusi jaringan. Ketiga, penanganan tindakan ilegal seperti pencurian air. Keempat, menciptakan sinergi dengan berbagai mitra (stakeholder).

Bicara tentang suplai air baku, IPA Pejompongan harus membeli air baku, bukan air baku bersih, tapi masih dalam bentuk air keruh. Jadi air baku yang keruh tersebut perlu mengalami proses pengolahan lagi.

air-3-56f64a5c107f615e073370be
Pak Khamid menjelaskan dan mendampingi para Kompasianer selama di mengunjungi IPA-1. Sumber Foto : Kompasiana

Pak Kamid, yang memandu 30 kompasianer, menjabarkan dengan rinci tentang sumber air baku hingga proses pengolahannya. Beliau menjelaskan kalau air baku tersebut berasal dari waduk Jatiluhur. Kemudian dialirkan melalui Tarum Barat hingga Cawang. Dari Cawang dipompakan dan dialirkan ke venturi yang ada di Pejompongan. Dari venturi dialirkan melalui accelator untuk melakukan proses koagulasi, flokukasi, dan sedimentasi. Setelah selesai diproses di accelator dilanjutkan dengan penyaringan (filter) hingga ke shipon. Air yang sudah selesai pengolahan tersebut kemudian ditampung di reservoir. Dan kemudian siap didistribusikan ke pelanggan rumahan dan industri melalui pipa oleh PALYJA. Proses tersebut ternyata butuh 4 jam, mulai dari venturi hingga proses distribusi.

Untuk membuktikan hasil pengolahan tersebut. Para akhirnya, Kompasianer mencoba meminum air hasil olahan tersebut. Wow…luar biasa segar, tidak kalah dengan air mineral kemasan yang selama ini saya konsumsi. Tidak perlu kuatir, walaupun belum dimasak, air PALYJA telah memenuhi standar air minum sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengwasan kualitas air. “Tapi bagaimana kalau air PALYJA ini kalau sudah sampai di rumah, apakah perlu dimasak?” tanya seorang Kompasianer. Pak Kamid, menjawab “Perlu, karena dalam pipa selama diperjalanan menuju rumah, mungkin ada pipa yang korosi, atau pipa bocor, sehingga airnya kurang steril”

air-4-56f64ac09297731907c9080a
Salah seorang Kompasianer mencoba meminum air hasil olahan IPA-1 Pejempongan. Sumber Foto : Dokumen Pribadi

Inilah salah satu tantangan terberat masalah air yang harus dipikirkan saat ini. Semoga masa pemerintahan Ahok, air permukaan yang ada diberbagai sungai bisa ditangani dan dimaksimalkan kembali. Daerah-daerah resapan air lebih terperhatikan serta penambahan area hutan kota ditingkatkan. Demikian juga masyarakat meningkatkan kesadaran untuk menjaga kebersihan dari setiap sungai yang ada disekitarnya. Jadi ini adalah tanggung jawab bersama, butuh kerjasama semua pihak, seperti slogan yang dikampanyekan oleh PALYJA, Bersama Demi Air. Semoga bisa.

Sumber : Materi presentasi PALYJA pada acara nangkring bersama Kompasiana

Artikel ini adalah opini dan pendapat dari penulis kompasiana dan dilombakan dalam kegiatan Kompasiana Nangkring Bersama PALYJA 21 Maret 2016″

Sumber : http://www.kompasiana.com/thurneysen/mengakhiri-dilema-sumber-air-bersih-di-jakarta-dengan-ajakan-bersama-demi-air_56f64bbb0523bd401482c5cc

palyja-minum-air-oke-1-56f61be7ed9273350b7a7ab8

Bersama minum air dari Palyja. Air itu langsung dialirkan dari pipa ke dispenser. Air yang sama pula yang disalurkan kepada pelanggan, di berbagai wilayah di Jakarta. Untuk pelanggan di rumah, Meyritha Maryanie, Kepala Corporate Communication & Social Responsibilities Palyja, menganjurkan, agar memasak air dari Palyja terlebih dahulu, sebelum dikonsumsi. Foto: dokumentasi palyja

Di kantor Instalasi Pengolahan Air Palyja, di Pejompongan, tidak ada galon. Air dialirkan dari pipa ke dispenser, langsung diminum. Saya, 30 Kompasianer, para admin Kompasiana, dan para karyawan Palyja ya meminum air tersebut. Insya allah, hingga hari ini, kami baik-baik serta sehat-sehat saja.

Kami berkunjung ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) 1 PAM Lyonnaise Jaya (Palyja), di Jl. Penjernihan 1 No. 1, Pejompongan, Jakarta Pusat, pada Senin (21/3/2016). Memasuki ruang Tirta Ananta, yang berada di lantai dua kantor IPA 1 Palyja itu, saya tidak melihat galon bertengger di atas dispenser. Sementara, sejumlah cangkir kopi dan gelas plastik, berjejer di dekatnya. Ada yang sudah digunakan, ada pula yang masih bersih. Dari mana sumber airnya? Ternyata, ada pipa air yang dihubungkan langsung dengan dispenser. Saya mendekat, mengambil gelas plastik, dan sengaja memencet tombol cold, untuk mendapatkan air dingin. Airnya bening dan rasanya fresh banget.

Dimasak Dahulu, Kemudian Diminum

Sebelum berdiskusi tentang air di ruang Tirta Ananta tersebut, kami mengelilingi area IPA 1 Palyja, untuk melihat step by step pengolahan air bersih di sana. Saat diskusi, ada yang bertanya, apakah air dari Palyja bisa langsung diminum? Meyritha Maryanie, Kepala Corporate Communication & Social Responsibilities Palyja, tersenyum simpul mendengar pertanyaan tersebut. Ia balik bertanya, ”Apakah tadi Anda minum dari sana?” sambil mengarahkan pandangan ke dispenser. Yang bertanya pun mengangguk, meng-iya-kan. ”Yang sudah Anda minum itu, air dari Palyja. Air itu langsung dialirkan dari pipa ke dispenser. Air yang sama pula yang kami salurkan kepada pelanggan, di berbagai wilayah di Jakarta,” ujar Meyritha Maryanie menjelaskan.

Kompasianer yang lain, bertanya, apakah pelanggan di rumah-rumah juga bisa langsung meminumnya? ”Kami menganjurkan untuk memasaknya terlebih dahulu,” jawab Meyritha Maryanie. Kenapa? Karena, air dari Palyja disalurkan ke rumah warga melalui jaringan pipa. Dan, pipa-pipa tersebut berada dalam tanah. Meski senantiasa dikontrol, ada kemungkinan sebagian pipa bocor, retak, atau sambungan pipa merembes. Misalnya, ketika terjadi kebocoran pipa di Jalan Balikpapan, Jakarta Pusat, pada Sabtu (16/1/2016) sekitar pukul 16.40 WIB. Sedikit-banyaknya, keadaan tersebut bisa memengaruhi kondisi air yang tiba di rumah pelanggan.

palyja-minum-air-oke-2-56f61c578323bdcf04c20207
Kompasianer Tamita Wibisono mengambil air dari dispenser yang berada di lantai dasar kantor Palyja, Pejompongan. Menurut Tamita, air yang langsung dialirkan dari pipa ke dispenser tersebut, benar-benar segar, fresh. Kunjungan 30 Kompasianer ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) 1 PAM Lyonnaise Jaya (Palyja), di Jl. Penjernihan 1 No. 1, Pejompongan, adalah kesempatan bagi netizen untuk memahami pemrosesan air bersih di Jakarta. Foto: dok. tamita wibisono dan isson khairul

”Maka, lebih baik air dari Palyja dimasak lebih dahulu, sebelum diminum,” imbuh Meyritha Maryanie kemudian. Irma Gusyani, Deputi Operasional Palyja, memberikan gambaran teknis tentang jaringan perpipaan kepada 30 Kompasianer yang mengikuti diskusi tersebut. Menurut Irma Gusyani, dari tahun 1998 hingga tahun 2015, Palyja telah merehabilitasi jaringan pipa air sepanjang 1.060 kilometer. Perehabilitasian pipa tersebut dilakukan, selain karena ada pipa yang sudah cukup berumur, juga untuk mengganti pipa yang cedera: bocor atau retak. Ini bagian dari perawatan rutin perpipaan yang terus-menerus dilakukan Palyja.

Secara teknis, Nancy Elvina, Kepala Devisi Manajemen Aset dan Non Revenue Water (NRW) Palyja, menjelaskan, ada dua metode yang digunakan Palyja untuk mendeteksi gangguan perpipaan. Pertama, dengan menggunakan gas helium. “Dengan teknologi gas helium, kebocoran pada pipa yang tidak nampak, karena tertanam dalam tanah, dapat dideteksi,” ujar Nancy Elvina. Metode gas helium ini adalah ide karyawan Palyja, dari Kompetisi Palyja Innovation (PIN) yang diadakan setiap tahun. Kedua, dengan metode JD7. Teknologi JD7 ini mampu mendeteksi penyumbatan, sambungan lateral, dan sambungan illegal.

Pencuri Air, Mengeruhkan Air

Nancy Elvina, di ruang Tirta Ananta tersebut, menunjukkan kepada 30 Kompasianer, gambar pipa-pipa yang merupakan sambungan illegal. Sambungan illegal adalah sambungan pipa yang dengan sengaja dilakukan oleh para pencuri air Palyja. Sebagai contoh, pada tahun 2014, di Pejagalan, Jakarta Utara, Palyja bersama Polda Metro Jaya berhasil membongkar pencurian air berkedok Instalasi Pengolahan Air (IPA). Pencurian itu tidak tanggung-tanggung. Air yang dicuri mencapai 40 liter per detik atau setara pemakaian air untuk 36.000 orang. Itu baru di satu wilayah, belum lagi di wilayah yang lain.

palyja-minum-air-oke-3-56f61ca5107f61e2053370ce
Instalasi pemrosesan air dirawat secara teratur. Seperti yang dituturkan Irma Gusyani, Deputi Operasional Palyja, air yang dihasilkan oleh Palyja telah melalui proses desinfektasi dan pengujian berulang oleh tim laboratorium bersertifikasi. Secara kualitas air hasil olahan dan bulk water, Palyja mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 492 tahun 2010. Acuan Palyja lainnya, adalah Permenkes No. 416 tahun 1990, tentang kualitas air bersih di jaringan. Foto: print.kompas.com

Modus pencurian air cukup beragam. Ada yang membuat sambungan illegal dari pipa distribusi, tanpa melalui meteran air. Ada pula yang mencuri air dengan cara merusak meteran air. Dengan berbagai aksi pencurian tersebut, pasokan air bersih ke pelanggan terganggu secara kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Aksi pencurian itu juga menyebabkan air menjadi keruh, tekanan air rendah, hingga air yang tiba di pelanggan jadi kecil dan tidak kontinyu. Artinya, pelanggan Palyja yang tidak mendapatkan air secara normal, segeralah melapor. Bisa jadi, di seputaran wilayah tersebut, ada pipa yang cedera karena bocor atau retak. Atau, mungkin ada pihak-pihak yang dengan sengaja mencuri air Palyja.

Bagaimanapun juga, seperti yang dituturkan Irma Gusyani, Deputi Operasional Palyja, air yang dihasilkan oleh Palyja telah melalui proses desinfektasi dan pengujian berulang oleh tim laboratorium bersertifikasi. Secara kualitas air hasil olahan dan bulk water, Palyja mengacu kepada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) No. 492 tahun 2010. Acuan Palyja lainnya, adalah Permenkes No. 416 tahun 1990, tentang kualitas air bersih di jaringan. Kedua Permenkes tersebut menjadi patokan serta ukuran yang menjadi pegangan Palyja, sebagai operator penyedia air bersih di Jakarta.

Dengan adanya laporan dari pelanggan air Palyja, ini tentu merupakan masukan yang berharga untuk meningkatkan pelayanan. Di era internet saat ini, mekanisme pelaporan bisa dilakukan dengan mengakses http://palyja.co.id. Di sana, ada fitur call center dan layanan short message service (SMS), yang memungkinkan pelanggan terhubung secara langsung dengan pihak berwenang di Palyja. Secara berkala, Palyja melakukan Survey Kepuasan Pelanggan, bekerjasama dengan Taylor Nelson Sofress (TNS) Indonesia sebagai konsultan pelaksana. Secara keseluruhan, persentase Kepuasan Pelanggan (Overall Satisfaction) Palyja, berada di posisi 70 persen pada tahun 2008 dan meningkat menjadi 76 persen pada tahun 2013.

palyja-minum-air-oke-4-56f61cf2c4afbd9906a2abf1
Instalasi Pengolahan Air (IPA) Palyja ada di 4 lokasi: IPA Pejompongan 1, IPA Pejompongan 2, IPA Taman Kota, dan IPA Cilandak. Berbagai inovasi dan investasi terus dilakukan Palyja untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga Jakarta. Pada tahun 1998, volume air yang didistribusikan Palyja kepada konsumen, hanya 89,2 juta meter kubik. Pada tahun 2015, melonjak mencapai 160,3 juta meter kubik. Foto: isson khairul

Full Time Control

Sebagai penyedia layanan air bersih, PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) memiliki komitmen yang tinggi untuk menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas. Salah satu wujud komitmen tersebut, bisa kita saksikan di Distribution Monitoring and Control Centre (DMCC) yang berada di lantai dasar IPA 1 Palyja, Pejompongan. Tim yang bertugas di DMCC ini memonitor pasokan air baku dan air bersih ke pelanggan secara full time, 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu. Untuk itu, tim kerja dibagi dalam 3 shift. Demikian pula halnya dengan perawatan seluruh tahapan pengolahan air. Akselerator, misalnya, dibersihkan tiap 2 bulan, reservoir dibersihkan per 1 tahun, dan filter dirawat tiap 72 jam. Di IPA 1 Palyja, Pejompongan, ada 48 filter.

Kontrol yang ketat dan cermat ini dilakukan, karena titik-titik penting dari operasional IPA 1 Palyja berada di beberapa tempat. Sumber air baku, misalnya, didatangkan dari Waduk Jatiluhur yang berada di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Lokasi waduk tersebut sekitar 100 kilometer dari Jakarta. Waduk itu memasok 19.000 liter air baku per detik ke IPA 1 Palyja. Sumber air baku lainnya adalah dari pusat pra-pengolahan air Kanal Banjir Barat, di tepian kanal di Karet Tengsin, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pusat pra-pengolahan air tersebut memasok air baku dengan kapasitas 550 liter per detik ke IPA 1 Palyja. Lokasinya berdekatan dengan IPA 1 Palyja, tapi berbeda area.

Kondisi air baku tersebut bisa berubah sewaktu-waktu. Baik karena musim hujan, maupun karena musim kemarau. Menurut Khamid, petugas yang memandu kami mengelilingi area IPA 1 Palyja untuk melihat step by step pengolahan air bersih di sana, pencermatan kondisi air dilakukan terus-menerus. Karena itu, Khamid beserta petugas lainnya, senantiasa mengitari bak-bak beton tempat pemrosesan air. Juga, menyusuri jaringan pipa pemrosesan air yang membujur serta berkelok-kelok. Semua dilakukan dengan berjalan kaki. Dengan luas area IPA 1 Palyja yang mencapai 5 hektar, maka dalam sehari Khamid bisa berjalan kaki ratusan, bahkan ribuan meter.

Tiap kali ada perubahan kondisi air, maka komposisi perangkat pengolahan air juga harus di-adjust alias disetel sesuai situasi dan kondisi air. Artinya, selain pengontrolan di Distribution Monitoring and Control Centre (DMCC) yang dilakukan secara komputerisasi, pencermatan secara manual di lapangan, juga tidak kalah pentingnya. Ini adalah bagian dari upaya PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Jakarta. Baik secara kualitas, kuantitas, maupun kontinuitas. Saat ini, Palyja dan Aetra memasok 17.000 liter air bersih per detik, untuk warga Jakarta. Palyja dan Aetra adalah dua operator penyedia air bersih di Jakarta. Sementara, kebutuhan air warga Jakarta, 26.100 liter per detik. Artinya, ada 9.100 liter air per detik untuk warga Jakarta yang belum terpenuhi.

Oleh: isson khairul (id.linkedin.com/pub/isson-khairul/6b/288/3b1/ – dailyquest.data@gmail.com)

Jakarta, 26 Maret 2016

Artikel ini adalah opini dan pendapat dari penulis kompasiana dan dilombakan dalam kegiatan Kompasiana Nangkring Bersama PALYJA 21 Maret 2016″

Sumber : http://www.kompasiana.com/issonkhairul/di-palyja-air-dialirkan-dari-pipa-ke-dispenser-langsung-diminum_56f62101e422bde8041f58a1