Arsip: Bersama Demi Air
Bersama Demi Air
Air adalah salah satu komponen penting bagi kehidupan. Hampir 80 persen tubuh kita terdiri atas air. Kita bisa menahan rasa lapar, namun kita tidak bisa menghindar dari rasa haus. Itulah sebabnya, air adalah bagian penting dari kehidupan.
Pada minggu lalu, 03 November 2016 tepatnya, saya bersama beberapa kompasianer berkunjung ke salah satu pengolahan air bersih di Jakarta dalam rangka Kompasiana Visit bersama Palyja: Optimasi Instalasi sebagai Solusi Defisit Air Bersih Jakarta. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Taman Kota menjadi tujuannya. Namun sebelum kesana, kami berkumpul terlebih dulu di IPA Pejompongan I. Di IPA Pejompongan I, kami di beri pencerahan tentang apa Palyja beserta peran dan tugasnya. Hadir di IPA Pejompongan I kala itu Budi Susilo, Direktur Customer Service Palyja, Meyritha Maryani, Kepala Divisi Corporate Communications dan Social Responsibility Palyja serta Emma Nedi, Kepala Department Produksi Palyja.

Sekilas Mengenai Palyja
PT PAM Lyonnaise Jaya atau PALYJA merupakan operator penyedia air bersih di Jakarta bagian barat Sungai Ciliwung. PALYJA adalah bagian dari SUEZ Environment (Perancis) dan PT Astratel Nusantara (divisi infrastruktur dari Astra). Dibentuk pada tahun 1997 dengan tujuan untuk mengolah dan menyediakan air bersih untuk masyarakat Jakarta bagian barat. Untuk masyarakat Jakarta bagian timur dilayani oleh Aetra.
Palyja memiliki 4 instalasi pengolahan air, yaitu: IPA Pejompongan I & II, IPA Cilandak dan IPA Taman Kota. IPA Taman Kota adalah yang terkecil dari IPA lainnya dari jumlah kapasitas air bersih yang dihasilkan, yaitu 150 liter per detik. Sedangkan IPA Cilandak mampu memproduksi sekitar 400 liter per detik. Yang paling besar adalah IPA Pejompongan II dengan kapasitas produksi 3.600 liter per detik. Sedangkan di IPA Pejompongan I dengan kapasitas produksi 2.000 liter per detik.
Selain memiliki 4 instalasi pengolahan air baku menjadi air bersih, Palyja juga memiliki 2 tempat penampungan air bersih sementara atau disebutnya Distribution Central Reservoir (DCR). Ada 2 DCR yaitu: DCR 4 Kebun Jeruk dengan kapasitas 2.000 liter per detik dan DCR 5 Lebak Bulus dengan kapasitas 1.000 liter per detik.
Selain itu, juga terdapat sebuah instalasi pengolahan air sungai menjadi air baku di Kanal Banjir Barat, dengan kapasitas 550 liter per detik.
Jakarta dan Air Bersihnya
Jakarta adalah kota yang memiliki banyak air. Ada 13 sungai yang mengaliri Jakarta. Bayangkan, betapa melimpahnya air yang tersedia, yang bisa digunakan sebagai sumber air bersih. Saat ini sekitar 10 juta orang tinggal di Jakarta. Ironinya, semakin bertambah jumlah penduduk Jakarta, tak membuat sungai di Jakarta semakin terjaga. Penduduk semakin banyak, sungai pun semakin tak layak. Miris!
Dari 13 sungai yang melewati Jakarta, hanya dua sungai yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Itu pun kondisi ke-dua sungai tersebut dari tahun ke tahun semakin menurun. Dua sungai tersebut yaitu Sungai Krukut dan Sungai Cengkareng drain. Sungai Cengkareng Drain merupakan anak sungai dari Kali Pesanggrahan. Dua sungai ini hanya mampu menyumbang 5,7 persen saja dalam operasional pengolahan air bersih Jakarta.

Untuk bisa memenuhi kebutuhan air bersih warga Jakarta, selanjutnya Palyja mengimpor atau membeli air baku dari Waduk Jatiluhur, di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Pasokan air baku dari Waduk Jatiluhur ke Jakarta saat ini mencapai 62,5 persen atau 19.000 liter per detik. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Serpong “menyumbang” 31 persen, dan IPA Cikokol 0,8 persen.
Dengan kondisi air baku seperti itu, saat ini Palyja dan Aetra hanya mampu memproduksi 17.000 liter per detik. Sedangkan Jakarta, dengan 10-an juta penduduk, membutuhkan pasokan air bersih sekitar 26.100 liter per detik. Angka tersebut dengan ukuran per hari per orang dengan konsumsi air bersih 100 liter per detik. Angka tersebut berdasarkan studi yang pernah dilakukan oleh Palyja. Jadi, kekurangan 9.100 liter per detik yang menjadi tantangan Palyja untuk bisa mengairi Jakarta dengan air bersih, dengan kendala minim air baku.
Untuk itulah, Palyja terus berupaya mengembangkan teknologi untuk bisa memanfaatkan air sungai di Jakarta yang masih layak olah. Demi kebutuhan khalayak banyak.
Mengenal Lebih Dekat IPA Taman Kota

Dengan segala kendala tentang air baku, Palyja tetap berusaha meningkatkan produksinya. Salah satunya dengan menciptakan teknologi baru untuk membantu pengolahan air baku.
Dan dengan inovasinya, Palyja berhasil memberdayakan kembali IPA Taman Kota dari mati surinya. Ya, tahun 2007 IPA Taman Kota pernah ditutup karena masalah air baku. Air baku dari Sungai Cengkareng Drain mengandung amonium dengan kadar yang sangat tinggi yaitu 8 ppm, jauh dari jumlah normal 1 ppm yang menjadi standar pengolahan air bersih. Instalasi pengolahan air yang berdiri dan beroperasi sejak 1982 itu beroperasi kembali pada Juli 2012, berkat teknologi.
Instalasi Pengolahan Air Taman Kota berada di kawasan perumahan padat penduduk. Beralamat di Jl. Komplek Taman Kota A1 No. 1, Jakarta Barat. Nah, IPA Taman Kota beroperasi kembali dengan teknologi Biofiltrasi, memanfaatkan mikroorganisme alami yang hidup di dalam air tawar. Teknologi ini dikembangkan oleh Palyja bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), di bawah pengawasan supervisi SUEZ Environment sebagai pemegang saham terbesar Palyja.
Menurut Vita, Kepala IPA Taman Kota, air baku IPA Taman Kota sangat tinggi akan amonium. Amonium ini banyak berasal dari limbah domestik yang didominasi oleh limbah rumah tangga. Hal tersebut juga diamini oleh Meyritha Maryani. Dengan teknologi Biofiltrasi ini, kadar amonium dalam air baku bisa dikurangi hingga 87 persen.
“Teknologi Biofiltrasi dengan mikroorganisme alami yang hidup di dalam air, dengan bantuan media tumbuh. Bentuknya kayak plastik yang di crosspack gitu,” terang Vita di meja kerjanya.
Teknologi yang sama juga digunakan di Instalasi Pengambilan Air Baku Kanal Banjir Barat dengan dengan bantuan media yang disebut meteor. Kalau di IPA Taman Kota disebut teknologi Biofiltrasi, di Kanal Banjir Barat disebut dengan teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR). Dan teknologi MBBR ini merupakan teknologi pertama di Indonesia dan Asia Tenggara di bidang pengolahan air.


Namun kelemahaan dari teknologi Biofiltrasi adalah, ketika ada air laut teknologi ini tidak berfungsi maksimal. Untuk info, IPA Taman Kota berjarak hanya 5 km dari laut. Itu sebabnya, kenaikan (intrusi) air laut adalah masalah kedua bagi instalasi ini. Meski sudah dikembangkan teknologi pendeteksi air air laut, namun itu belum maksimal. Mengingat, pasokan air baku berkurang yang berakibat pada berkurangnya kapasitas produksi air bersi. Bahkan bisa berhenti beroperasi.
“Karena teknologi Biofiltrasi dirancang khusus untuk mengolah air tawar. Jadi, ketika air laut masuk ke sini, kita stop produksi karena mikroorganismenya mati. Tapi sekarang sudah ada teknologi baru untuk mendeteksi masuknya air laut,” terang Vita lebih lanjut.
Pada tahun 2015 lalu, Palyja telah mengembangkan teknologi yang bernama Total Dissolve Solid (TDS) Online Analyzer. Alat ini berfungsi untuk mendeteksi masuknya air laut. Dengan keberadaan TDS Online Analyzer ini, ketika air laut menyentuh intake maka dapat segera diambil tindakan pencegahan. Yaitu, dengan menutup pintu masuk air/intake. Di saat seperti ini, maka produksi IPA Taman Kota menurun bahkan mati suri, karena tidak mendapatkan air baku untuk berproduksi.
Menurut Vita, ada satu cara yang bisa dilakukan agar IPA Taman Kota tetap berproduksi meski intrusi air laut sedang terjadi. Yaitu dengan menutup pintu air Sungai Cengkareng Drain. Dulu, hal ini yang dilakukan ketika air laut pasang sedang terjadi. Namun kini masalahnya, apabila dilakukan penutupan pintu air Sungai Cengkareng Drain, akan mengakibatkan banjir di area Pantai Indak Kapuk. Dilema yang harus segera dicarikan solusi bersama oleh Palyja maupun Pemda DKI.
Meski diakui Vita, bahwa dengan pengerukan kali yang terus dilakukan oleh Dinas Kebersihan DKI saat ini, sedikit banyak telah membantu kondisi air baku lebih baik, terutama di Cengkareng Drain.

Kompasianer Blusukan di IPA Taman Kota
Di IPA Taman Kota, dengan area kurang lebih seluas 5.000 meter persegi, terjadi pemrosesan air baku menjadi air bersih. Dengan dikembangkannya teknologi Biofiltrasi, pemrosesan air baku menjadi air bersih di IPA Taman Kota bisa kembali dilakukan.
“Pipa coklat ini adalah jalur pertama air baku yang berasal dari intake di Cengkareng Drain,” terang Febri, staff IPA Taman Kota saat mengawal kompasianer blusukan.
Intake adalah pintu pengambilan air IPA Taman Kota yang berlokasi di Sungai Cengkareng Drain. Sungai Cengkareng Drain merupakan anak sungai dari Kali Pesanggrahan. Jaraknya 1,5 km dari IPA Taman Kota. Terdapat 4 pompa air dipasang di Sungai Cengkareng Drain yang memompa air untuk dialirkan menuju IPA Taman Kota ini.




Pengolahan air baku menjadi air bersih di IPA Taman Kota harus melalui beberapa tahapan. Dimulai dengan proses Koagulasi, Flokulasi, Sedimentasi, Biofiltrasi, Filtrasi, dan Desinfeksi.
Selain itu juga ada beberapa jenis zat kimia yang ditambahkan ketika air diolah. Zat kimia tersebut antara lain: karbon aktiv, koagulan, soda ash dan chlorine.
Proses yang pertama adalah pengambilan air dari intake di Sungai Cengkareng Drain. Dari sana, air dipompa dan dialirkan ke IPA Taman Kota. Selanjutnya, air akan mengalami proses pertama yaitu proses Koagulasi.
Yang dimaksud dengan Koagulasi adalah proses pengadukan cepat antara air baku dan zat kimia yang dibutuhkan untuk membersihkan air. Zat karbon aktiv, koagulan, maupun soda ash, dengan tugas dan fungsinya masing-masing dicampurkan ke dalam air. Zat karbon aktiv berguna untuk menghilangkan detergent dan bau. Sedangkan Koagulan yang dipakai disini adalah jenis ach, atau Aluminium chlorohydrate.
“Koagulan ini bersifat seperti lem. Dia akan mengikat atau merekatkan partikel-partikel padat yang ada di dalam air supaya lebih besar dan membentuk flok, agar lebih mudah mengendap. Sedangkan soda ash, dimanfaatkan untuk menetralisir keasaman air (ph air),” tutur Febri menjelaskan.
Setelah proses Koagulasi, air akan dialirkan ke bak-bak penampungan. Tahapan selanjutnya adalah Flokulasi. Dalam proses Flokulasi, pengadukan air dilakukan secara lambat. Supaya apa? Supaya gumpalan partikel-partikel atau flok-flok yang terbentuk dari proses Koagulasi tadi lebih besar lagi dan bisa dengan mudah mengendap.
Tahapan selanjutnya adalah proses Sedimentasi atau pengendapan. Air dari bak Flokulasi dialirkan menuju bak Sedimentasi. Flok-flok yang menggumpal membentuk lumpur dan akhirnya mengendap. Di dalam bak Sedimentasi, terjadi proses pemisahan lumpur dan air bersih. Proses ini dibantu dengan bantuan plate settler untuk mempermudah pengendapan. Pada bak Sedimentasi ini, pada bagian permukaan bak, air sudah kelihatan lebih jernih. Sedangkan lumpur kelihatan menghitam di bagian bawah bak.


Selanjutnya air dialirkan menuju bak Biofiltrasi. Pada bak inilah terjadi apa yang disebut Biofiltrasi. Yaitu proses removal polutan amonium, detergent, mangan dan lainnya dengan menggunakan mikroorganisme alami. Migroorganisme ini memang hidup di dalam air. Dengan bantuan media crosspack, mikroorganisme alami dalam teknologi Biofiltrasi ini hidup pada lapisan Biofilm yang ada pada media crosspack tersebut.
Untuk menjaga mikroorganisme tetap hidup dan bekerja efektif, digunakan blower dan diffuser. Ini untuk menjaga aliran air terus mengalir dan mengembuskan udara ke dalam air.

etelah tahapan Biofiltrasi, air ditampung pada bak pengumpul pertama yang lebih besar, Bak Biofilter/Kelder Biofilter, untuk diendapkan. IPA Taman Kota memiliki 2 bak pengumpul sementara: Bak Biofilter/Kelder Biofilter dan Bak Air Bersih.
Dari Bak Biofilter/Kelder Biofilter, air dipompa untuk selanjutnya melalui tahapan Filtrasi atau penyaringan. Proses penyaringan ini di lakukan di tempat terpisah dari ke-tiga tahapan sebelumnya.
Pada tahapan Filtrasi ini, dilakukan penyaringan sisa partikel padat yang kemungkinan masih terbawa dalam air bersih keluaran dari proses Biofiltrasi. Proses penyaringan ini menggunakan media pasir silika dan pasir gravel. Supaya pasir tetap berfungsi maksimal sebagai media penyaring, dilakukan proses pencucian pasir atau backwash per 24 jam sekali.
“Proses Filtrasi atau penyaringan ini adalah proses untuk menjernihkan air ke tahap maksimalnya,” jelas Febri, staff IPA Taman Kota yang menjadi komandan saat kompasianer blusukan ke bak-bak pengolahan air.
Selanjutnya, air hasil penyaringan ini akan ditampung di bak pengumpul ke-dua, Bak Air Bersih. Nah, tahapan proses pengolahan air yang terakhir adalah Desinfektan, yang dilakukan di dalam Bak Air Bersih tersebut. Yaitu proses removal bakteri dengan menggunakan zat kimia chlorine, atau bahasa umumnya kaporit.


Dalam proses Desinfektan, tidak semua chlorine hilang. Dalam persentase tertentu (sesuai peraturan yang ditetapkan Kemenkes) disisakan agar dalam proses distribusi air bersih ke pelanggan, proses removal bakteri terus berjalan. Sehingga air yang diterima oleh pelanggan aman untuk dikonsumsi. Dari Bak Air Bersih, dicek terlebih dulu untuk memenuhi standar air bersih sesuai peraturan yang berlaku. Baru setelahnya dipompa dan siap didistribusikan.
“Air dari sini dipompain ke pipa Daan Mogot (pipa 800) dan bercampur air bersih di Distribution Central Reservoir (DCR) 4. Dari Daan Mogot barulah air itu di sebar ke pelanggan. Kawasan Kembangan Utara, Rawa Buaya, Kedaung Kali Angke, Kapuk, Cengkareng Timur, Cengkareng Barat, Tegal Alur, Kamal, Kamal Muara, Pegadungan, Kalideres adalah kawasan yang menjadi pelanggan,” jelas Vita disela obrolan menunggu kompasianer lain selesai blusukan.
sumber: http://www.kompasiana.com/setyaningrum/di-jakarta-air-sungai-menjadi-air-minum-berkat-teknologi-biofiltrasi_582f2b4fc923bd151877e798
INSTALASI Pengolahan Air (IPA) Taman Kota, Jakarta Barat adalah instalasi pengolah air baku milik Palyja, yang mengolah air baku dari Cengkareng Drain, Jakarta Barat. Meski kapasitas produksinya paling kecil diantara IPA milik PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) lainnya, keberadaannya cukup signifikan untuk melayani kebutuhan air bersih di kawasan Jakarta Barat. Kapasitas produksi yang dihasilkan IPA Taman Kota mempunyai arti penting, mengingat IPA ini sempat ‘stop’ produksi dikarenakan ‘kewalahan’ mengolah air baku yang berkualitas sangat buruk. Polutan sebesar 8 ppm (part per million) menjadi penyebabnya. Polutan yang jauh diambang standar semestinya sekitar 1 ppm.
Namun belakangan dengan ‘jurus’ teknologi terbaru, IPA Taman Kota, mampu beroperasi kembali. Teknologi Biofiltrasi namanya. Sebuah teknologi yang digunakan sejak Juli 2012 itu, mampu meremoval kandungan amonia dan deterjen dalam air. Air baku pun mampu diolah sesuai persyaratan yang tertuang dalam Permenkes no 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Saat ini kapasitas produksi sebesar150 lps (litre per second) telah dinikmati warga Jakarta Barat yang menjadi daerah layanannya.
Lalu seperti apakah teknologi Biofiltrasi itu? Bagaimana kondisi air baku di ibukota, masih cukupkah untuk diolah melayani penggunanya? Apa tantangan terberat yang dihadapi IPA Palyja? Apa saja yang sudah dan akan dilakukan Palyja dalam pelayanan air bersih?

Turut ‘blusukan’ ke IPA Taman Kota, Kembangan Utara, Jakarta Barat dalam acara Kompasiana Visit, pada bertema “Optimasi Instalasi sebagai Solusi Defisit Air Bersih Jakarta” pada Kamis (3/11/2016) yang lalu, aku memperoleh banyak informasi dan wawasan baru. Bukan hanya soal seluk beluk layanan Palyja, namun juga mengetahui sendiri bagaimana IPA Taman Kota mengolah air baku yang polutannya tinggi menjadi air bersih. Bersama kompasianer lainya, aku berkesempatan melihat-lihat proses pengolahan air baku di IPA Taman Kota, juga memperoleh informasi tentang Palyja saat berkunjung ke IPA 1 Pejompongan di Jalan Penjernihan 2, Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Oh iya untuk diketahui IPA Taman Kota ini adalah salah satu IPA yang dimiliki Palyja. Di sini kapasitas produksi paling kecil, sebesar 150 lps. Maklum saja areanya meliputi hanya Luasnya 4000 m3 saja. Sementara IPA lainnya ada IPA 1 Pejompongan dengan kapasitas produksi 2.000 liter/detiklps, IPA 2 Pejompongan dengan kapastitas produksi 3.600 lps, dan IPA Cilandak dengan kapasitas produksi 400 lps. Nah khusus kali ini aku ceritain IPA Taman Kota yang sudah berdiri dan beroperasi sejak 1982 ini, sesuai dengan lokasi yang aku kunjungi saat Kompasiana Visit.

Ini Dia, Cara Pengolahan Air Baku IPA Taman Kota
Sosok muda berperawakan tubuh kecil itu sabar menjelaskan per tahapan pengolahan air baku. Suaranya lantang terdengar dari megafon yang dipegangnya. Febri, salah seorang petugas dari IPA Taman Kota menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Kompasianer saat ‘blusukan’ ke jantung pengolahan air baku IPA Taman Kota.
Diantara bak-bak semen, pipa-pipa saluran air, dan suara aliran air, Febri menjelaskan satu persatu cara pengolahan air baku di tempatnya bekerja.
“Nah ini adalah tahap pertama, air baku dari intake Cengkareng Drain ditampung di sini,” katanya kepada rombongan kompasianer di salah satu sudut lokasi IPA Taman Kota, Kamis (3/11/2016).



Air baku itu didatangkan dari intake 150-160 lps Cengkareng drain. Ada 4 pompa yang mendorong air baku ke lokasi penampungan air pengolahan IPA Taman Kota. Jaraknya sekitar 2 km. Durasi yang dibutuhkan air sampai ke lokasi pengolahan sekitar 20an menit. Di sinilah tahap awal pengolahan air baku dimulai.
Oya sebelumnya untuk diketahui ada tahapan proses pengolahan di IPA Taman Kota ini. Sesuai penjelasan Vita Chandra Dewi, Kepala IPA Taman Kota dan juga Febri saat ‘blusukan’ ke bak-bak pengolahan air baku. Intinya ada 5 tahap proses pengolahan sampai menjadi air bersih. Tahapan proses pengolahan tersebut adalah koagulasi dan flokulasi, sedimentasi, biofiltrasi, filtrasi, serta desinfeksi.
Melalui pipa-pipa panjang berukuran besar berjajar di lokasi yang bersebelahan dengan pemukiman warga Taman Kota ini, nampak alat-alat pengukur tersedia dengan angka-angka digital yang menunjukkan parameter ukuran air baku yang masuk. Dan tahapan dimulai.
“Tahapan pertama adalah koagulasi,” kata Febri.

Dalam proses ini dicampurkan bahan kimia (koagulan) dengan air baku sehingga membentuk campuran yang homogen dengan disertai pengadukan cepat. Air baku dicek tingkat kekeruhannya maupun PH-nya. Di sini ditentukan bahan kimia yang akan ditambahkan dalam prosesnya. Namanya Koagulan. Koagulan, ada partikel-partikel kecil dalam air. Koagulan menyatukan menjadi gumpalan/ flok, yang membuat lebih berat dan mudah mengendap. Jadi dikatakan bahwa proses Koagulasi, adalah menyatukan partikel-partikel kecil.
“Plat-plat kecil, buat mengaduk air biar rata dan menyatukan dengan campuran yang dimasukkan ke dalam pipa,” jelas Febri.
Perlakuan di sini, bisa ditambahkan Soda A, untuk netralin PH. Sementara Karbon aktif, untuk menghilangkan bau/ limbah detrjen. Pasalnya air baku awal jelas sangat beragam kandungannya. Mulai dari sampah, deterjen, dan lain-lain.
Dilanjutkan pada tahapan berikutnya, tahap kedua yakni flokulasi.Di sini terjadi proses pembentukan partikel flok yang besar dan padat dengan cara pengadukan lambat agar dapat diendapkan.
“Di sini diaduk lambat. Biar flok tergabung,” jelas Febri melalui megaphonenya.


Selanjutnya dari bak-bak dip roses flokulasi, ada pipa ke bawah, berlanjut ke proses sedimentasi. Tahap sedimentasi ini adalah proses pemisahan padatan dan air berdasarkan perbedaan berat jenis dengan cara pengendapan. Proses dilakukan di ragam bak sedimentasi. Di sini gumpalan yang terbentuk bakal mengendap. Sementara air di atasnya terlihat bening.
Nah setelah proses sedimentasi ini, berlanjut ke biofiltrasi. Inilah teknologi dengan menggunakan mikroorganisme ‘pemakan’ amonia dan deterjen. Teknologi yang menjadi kunci pengolahan dari air baku yang berkadar 8 ppm diubah menjadi 1 ppm sesuai persyaratan air bersih dari Kementrian kesehatan RI dan Gubernur DKI.
Biofiltrasi, Teknologi Menggunakan Mikroorganisme Pemakan Amonia
Ada bak-bak biofiltrasi yang dialiri dengan air baku. Bak-bak terlindungi dengan besi-besi penghalang di atas bak. Tampilannya berbeda dengan proses sedimentasi dengan air yang tenang. Di tahap biofilterasi ini air dialirkan terus menerus. Tujuannya untuk menumbuhkan mikroorganisme ‘pemakan’ amonia dan deterjen. Inilah teknologi biofilstrasi, amonia diuraikan dengan menggunakan bakteri. Dengan teknologi ini, mampu menurunkan hingga 87% kadar amonia.
“Bakteri tumbuh di media crosspacknya yang dialiri air baku. Seperti terlihat di batu kali itu Mas,” kata Vita di ruang kerjanya kepada Penulis.
Berarti berbeda dengan di IPA Kanal Barat yang menggunakan sarana meteor yaa. Teknologinya sama-sama menggunakan bakteri ‘baik’ pemakan amonia. Sementara di IPA Cilandak menggunakan teknologimoving bed bio-film reactor(MBBR). MBBR ini, teknologi pengolahan air bersih terbaru yang pertama diterapkan di Indonesia, bahkan di Asia lhooo.
“Crosspack ini berbentuk lembaran. Di bawahnya ada hembusan udara,” jelas Vita yang sedang hamil 8 bulan ini.
Kandungan amonia tinggi di IPA Taman Kota cukup tinggi, mencapai 8 ppm. Polutan utamanya dari limbah rumah tangga.

Teknologi menggunakan mikroorganisme alami ini, digunakan setelah produksi IPA Taman Kota dihentikan sejak 2007 lalu. Pengembangan teknologi biofiltrasi yang dilakukan Palyja, SUEZ sebagai induk perusahaan bersama BPPT berlanjut Juli 2012 setelah ditemukan teknologi biofiltrasi tersebut.
Cuma teknologi tersebut sangat rentan terhadap air laut yang bisa menyebabkan mikroorganisme mati. Soalnya ‘bakteri baik’ itu hanya bisa hidup di air tawar. Dan kejadiannya, pernah dialamai tahun lalu, saat IPA menghentikan produksinya karena adanya aliran balik dari laut yang membuat tingginya tingkat keasinan (salinitas) dan total dissolved solid. Akibatnya IPA Taman Kota tidak sanggup mengolah.
“Banyak bakteri yang mati. Kami hentikan instalasi sekitar lebih dari dua minggu,” kata Vita.
Setelahnya pemulihan dilakukan dengan dialiri air sungai. Terus menerus. Hingga kondisi biofiltrasi normal dan bisa dilakukan produksi kembali. Selanjutnya Palyja mengembangkan teknologi pendeteksi air laut di pintu air, yakni Total Dissolve Solid (TDS) Online Analyzer. Ini dilakukan seperti di intake Cengkareng Drain. Teknologi itu memberikan sinyal saat air laut menapai intake. Jika sinyal/alert berbunyi, maka operasi pengolahan air bisa segera dihentikan. Mikroorganisme bisa selamat dari pembunuh, yakni air laut.
Tahapan Filtrasi dan Desinfeksi
Nah setelah proses biofiltrasi, air baku ditampung di reservoir dan selanjutnya dipompa dan diolah di tahapan filtrasi. Di sini terjadi proses pemisahan padatan dari air melalui media penyaring seperti pasir dan antrasit. Saringan terdiri dari saringan gravitasi, saringan dengan pencucian antar saringan, dan saringan bertekanan. Proses penyaringan sisa partikel padat dilakukan di sini.
Kerja filter di sini 24 jam. Ada silica, nosle dan lain-lain. Ada 8 unit filter. Setahun sekali pasir diganti. Pasir dari Bangka. Ada parameternya, oleh karenanya ada bagian proses yang meloloskan atau tidak. 8 unit filter itu, isinya sama. Ada nosle untuk menghidupkan udara. Di atasnya ada gravel, pasir yang lebih besar. Ketebalan 10 cm, baru dikasih pasir silica. Tentu saja filter perlu perawatan agar fungsi media penyaringan tetap baik.
“Kerja filter 24 jam jadi harus dibersihkan, karena pasti ada padatan-padatan yang bikin mampet. Operator wajib backwash setiap 24 jam sekali,”jelas Vita.

Aku sempat menyaksikan saat backwash dilakukan petugas di salah satu unit filter. Ada nosle-nosle di dalam unit berwarna biru itu. Tentu saja proses ini sangat penting yaa.
Selanjutnya dilakukan tahapan Desinfeksi. Ini adalah proses pembubuhan bahan kimia untuk mengurangi zat organik pada air baku dan mematikan kuman/organisme. Desinfektan yang digunakan antara lain zat kimia Chlorine. Di sini proses membunuh bakteri berlangsung. Selanjutnya air siap didistribusikan ke pelanggan.

Palyja Diantara Tantangan Layanan Air Bersih
Menurut Meyritha Maryanie, Corporate Communicatuins and Social Responsibility Division Head PALYJA, mengjelaskan bahwa PAM Lyonnaise Jaya adalah merupakan perusahaan swasta yang bekerjasamanya dengan PAM Jaya dengan mendelegasian pengelolaan air bersih. Bentuk kerjasama selama 25 tahun. Saham mayoritasnya (51%) dikuasai Suez yang bermarkas di Paris, Perancis dan Astratel Nusantara (49%).
Kondisi air sungai di Jakarta dari tahun ke tahun mengkhawatirkan. Ada 13 sungai kualitas jelek. Sampai tak bisa diolah lagi, karena tinggi kadar deterjen, ammonia terutama bersumber dari limbah rumah tangga.

Menurut Budi Susilo, Direktur Customer Service PAM Lyonnaise Jaya (Palyja), bahwa air tanggungjawab kita semua. Tanggungjawab akan kelangsungan air. IA senang Gubernur DKI Jakarta BAsuki TP, ‘kenceng’ sekali melakukan program normalisasi sungai.
“Kita tak makan seminggu bisa. Tapi kalau tidak minum seminggu? Hal itu menggambarkan air itu penting sekali. Oelh karenanya Palyja mencanangkan programnya #Bersamademiair,” kata Budi.
IPA Taman Kota, ambil air baku dari Cengkareng drain. Kondisinya hitam. Amoniak,deterjen tinggi sekali. Sampai pernah stop operasi pada 2007 karena kualitas air tak layak diolah. Buangan RT yg tinggi. (saham Astra. 52% Suez di Paris). Kerjasama BPTT dan SUEZ, mulai 2012 IPA taman kota dibuka kembali dengan adanya teknologi biofiltrasi. Sehingga air bersih sudah memenuhi persyaratan sesuai Kemenkes. Oleh karena itu, mungkin bisa dikopi paste, bisa mengatasi kondisi air sungai yang jelek. Seperti mengembangkan biofiltrasi di banjir kanal (550 lps) pada 2015 yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Basuki TP alias Ahok. Ahok terkesan. Dibangun lagi di Cilandak, dengan mengambil air baku dari Sungai Krukut.
Tantangan bahwa air baku sulit diperoleh. Meyritha mengatakan bahwa ketahanan air di Jakarta hanya 3%. Kebutuhan manusia air bersih butuh 60 liter per hari per orang. Di Jakarta butuh 100l/hari/orang karena di kota besar. Kebutuhan ini pada 2015 PM Jaya melakukan studi 2007-2008 demand dari Jakarta 26100 lps (2015) yang tersedia 17000lps. Defisit.
Tantangan paling utama yang dihadapi Palyja saat ini adalah tambahan air baku. Sejak 1998 tak ada tambahan air baku yang signifikan.
“Seperti bikin kue 1000 jadi 2000, terigu pasti lebih banyak,” kata Meyritha menganalogikan saat di IPA 1 Pejompongan di Jalan Penjernihan 2, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (3/11/2016).

Maka menurutnya, saat ini Palyja melakukan langkah-langkah, seperti menurunkan tingkat kehilangan air. Efesiensi. Penambahan jaringan distribusi. Penanganan tindakan illegal, atasi pencurian.
“Menggalakkan kepedulian air bersih dengan mengajak warga bertanggungjawab bersama dengan kampanye #BersamaDemiAir,” katanya.
Seperti halnya saat ini air baku dari Waduk Jatiluhur sampai didatangkan, dan diolah Palyja, melibatkan banyak pihak di dalamnya. Artinya harus dilakukan bersama pihak-pihak lain. Bersama-sama melayani warga Jakarta lebih baik. #BersamaDemiAir
http://www.kompasiana.com/rahab2/biofiltrasi-teknologi-ipa-taman-kota-mengolah-air-baku-kualitas-buruk_582ee7491d23bd3b0b1fe1bd
Sebuah studi yang dilakukan oleh PAM Jaya tahun 2007-2008 tentang kebutuhan air bersih untuk wilayah DKI Jakarta menujukkan pada tahun 2015 kebutuhan air untuk wilayah DKI Jakarta mencapai 26.100 liter/detik. Ini untuk memenuhi standar kelayakan kebutuhan air bersih sebesar 49,6 liter/detik/kapita. Bahkan, pada tahun 2002 UNESCO menetapkan air bersih sebagai hak dasar manusia sebanyak 60 liter/kapita/hari. Sedangkan Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, menetapkan standar kebutuhan air bersih berdasarkan lokasi wilayah. DKI Jakarta yang diklassifikasi sebagai kota metropolitan standar kebutuhan air bersih adalah 150 liter/kapita/hari.
Celakanuya, dua operator yang mengelola air bersih PAM Jaya yaitu Aetra di wilayah timur dan Palyja di wilayah barat (dibagi berdasarkan aliran Sungai Ciliwung) hanya mempu memproduksi air bersih 17.000 liter/detik. Itu artinya ada defisit sebesar 9.100 liter/detik. Dalam bahasa Meyritha Maryanie, Corporate Communications and Social Responsibility Division Head, PT PAM LYONNAISE JAYA (PALYJA), “Defisitnya itu luar biasa.” Hal ini disampiakan Meyritha kepada kompasianer dalam acara “Kompasiana Visit PALYJA: Optimasi Instalasi sebagai Solusi Defisit Air Bersih Jakarta“, 3/11-2016 ke IPA 1 Pejompongan dan IPA Taman Kota.
Air Baku
Tentu saja kekhawatiran Meyritha beralasan karena selain produksi yang rendah pasokan air baku (raw material) pun tidak seperti yang diharapkan serta kualias air baku yang kian buruk. Bahkan, IPA Taman Kota pernah berhenti mengolah air baku dari Cengkareng Drain, anak sungai Kali Pesanggrahan, karena kualitas air baku yang buruk seperti kandungan amonium dan deterjen.
Biar pun Jakarta sering banjir baik karena hujan maupun air kiriman melalui sungai dari Jawa Barat, tapi air baku tetap jadi masalah karena air hujan dan air bah tidak bisa ditampung untuk disimpan. Bahkan, dari 13 sungai yang melewati Jakarta hanya air dari 2 sungai, yaitu Kali Krukut dan Sungai Cengkareng Drain, saja yang bisa dipakai sebagai bahan baku untuk diolah jadi air bersih yang memenuhi standar dan kualitas yang ditetapkan pemerintah. Kedua sungai ini menyumbang 5,7 persen.
Lalu, dari mana PAM Jaya mencari air baku untuk memenuhi kebutuhan PALYJA dalam menyediakan air bersih?

Tentu saja sumber air baku dua sungai itu sangat kecil, akibatnya PALYJA tergantung kepada posakan air baku dari luar Jakarta. Kekurangan air baku ini tidak main-main karena sangat besar yaitu 94,3 persen. Air baku ini diperoleh dari Waduk Jatiluhur melalui Kanal Tarum Barat, yang lebih dikenal dengan Kali Malang, merupakan sumber terbesar. Sebagai sumber air baku berupa air curah Waduk Jatiluhur memenuhi kebutuhan air baku Palyja sebesar 62,5 persen. Sedangkan sisanya air curah diperoleh dari sumber air berupa air olahan dari IPA Serpong (31 persen) dan air olahan dari IPA Cikokol (0,8 persen). “Kami maklum karena air Waduk Jatiluhur juga untuk keperluan irigasi,” kata Meyritha seakan menghibur diri. Memang, waduk itu menjadi sumber utama pengairan sawah di beberapa kabupaten di Jawa Barat, seperti Bekasi, Karawang, dll.

Tapi, air baku dari Jatiluhur dan sumber lain pun tidak semerta memenuhi kebutuhan air baku PALYJA. Dari Jatiluhur, misalnya, sejak tahun 1998 pasokan justru sering terganggu karena faktor-faktor teknis dan nonteknis. Kalimalang yang jadi urat nadi penyaluran air baku dari Jatiluhur merupaka saluran di permukaan tanah yang terbuka. Kondisi ini sangat rentan terhadap berbagai gangguan yang disengaja, misalnya jadi tempat pembuangan sampah, serta bencana alam, seperti tanggul jebol.
Itulah yang disebutkan oleh Budi Susilo, Direktur CSU PALYJA, kebiasaan kita yang selama ini membelakangi sungai sehingga sungai dijadikan sebagai ‘tong sampah’. Untunglah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama, yang lebih dikenal dengan panggilan Ahok, menjalankan program untuk membersihkan kali. Langkah Ahok ini jelas sangat mendukung PALYJA karena kualitas air baku kian bagus.
Namun, PALYJA tidak bisa menunggu air sungai-sungai yang melewati Jakarta memenuhi standar air baku untuk diproses sebagai air bersih. Selain itu kualitas air tanah di Jakarta, terutama di wilayah utara dan barat, tidak lagi layak dikonsumsi karena pencemaran dan intrusi air laut. Bahkan, berbagai studi menunjukkan intrusi air laut sudah masuk ke wilayah Jakarta Pusat. Dengan kondisi ini warga Jakarta menggantungkan kebutuhan akan air bersih kepada PALYJA di belahan barat dan Aetra di belahan timur.
Cakupan layanan PALYJA, yang mencangkan program “Bersama Demi Air“, dialirkan melalui pipa sepanjang 5.400 km. Dari panjang jaringan ini 1.100 km merupakan jaringan pipa baru dan 1.060 km jaringan pipa lama yang direhabilitasi. Dengan produksi dan jaringan ini akses layana PALYJA mencapai 73,23 persen dengan cakupan layanan 60 persen. Setelah beroperasi selama 18 tahun dengan dana investasi lebih dari Rp 2 triliun PALYJA berhasil menambah jumlah pelanggan dari 201.000 menjadi 404.769 sambungan. Total volume air bersih yang terjual mencapai 160,3 juta meter kubik. Yang paling banyak mendapat akses sambungan air bersih baru adalah masyarakat berpenghasilan rendah yaitu mencapai 451,97 persen dari kondisi sebelum PALYJA beroperasi.
Inovasi Teknologi
Ada lagi kendala yang dihadapi PALYJA yaitu kebocoran air yaitu kebocoran nonfisik atau ilegal berupa pencurian mencapai 9 persen dan kebocoran fisik 30 persen. Terkait dengan pencurian air milik PALYJA menurut Meyritha, sanksi hukum bagi pelaku sangat rendah sehingga tidak ada efek jera. Dari sekian kasus baru satu kasus yang divonis haki PN Jakarta Utara (2015) dengan hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Pelaku menjalankan pengolahan air dengan sumber air dari pipa PALYJA. “Kami selalu ingat masyarakat kalau memakai air curian tentu tidak akan membawa kebaikan,” kata Meyritha. Ya, tentu saja apalagi dipakai untuk keperluan ibadah tentulah tidak pantas karena air itu merupakan hasil pencurian.
Untuk memenuhi kebutuhan air bersih di Jakarta PALYJA pun menempuh langkah yang pas yaitu inovasi teknologi untuk meningkatkan produksi air bersih di instalasi pengolahan air yang ada. PALYJA sendiri mengoperasikan 4 pengolahan air, dua penampungan air bersih, dan satu pengolahan air sungai.
Pengolahan air jadi air bersih dilakukan di Instalasi Pengolahan Air (IPA) 1 Pejompongan dengan kapasitas 2.000 liter/detik, IPA 2 Pejompongan 3.600 liter/detik, IPA Cilandak 400 liter/detik, dan IPA Taman Kota 150 liter/detik. Sedangkan tempat penampungan air bersih sementara yang berasal dari PDAM Tangerang di Distribution Central Reservoir (DCR) 4 kapasitas 2.000 liter/detik dan DCR 5 1.000 liter/detik. Tempat pengolahan air sungai dari Kanal Banjir Barat 550 liter/detik.
Inovasi teknologi tsb. merupakan solusi yang dilakukan oleh PALYJA. Inovasi merupakan bagian dari 4 nilai yang menjadi filosofis PALYJA (Responsible, Caring, Thrustworthy, Innovative). Inovasi teknologi ini merupakan satu-satunya solusi untuk mengurangi defisit air bersih di Jakarta. Solusi ini dijalankan di IPA Taman Kota di kompleks Taman Kota, Jakarta Barat.
IPA Taman Kota pernah diberhentikan operasinya pada tahun 2007 karena kondisi air baku yang tidak layak, seperti anomium yang tinggi dan lokasi yang hanya berjarak 5 km dari pantai. “Waktu itu kadar amonium mencapai 8 ppm,” kata Emma Nedi, Production Department Head PALYJA. Soal kadar amonium ini dalam air baku, maka produk PALYJA sangat baik. SK Gubernur DKI Jakarta No 582/1995 menetapkan kadar amonium air baku maksimal 1ppm. Padahal, Permenkes No 492/2010 menetapkan kadar amonium dalam air bersih 1 ppm.

Pengoperasian IPA Taman Kota dimulai lagi tahun 2012 berkat penggunaan teknologi biofiltrasi. Biofiltrasi adalah teknologi yang dikembangkan oleh PALYJA dengan dukungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang disuversisi dan konsultan SUEZ melalui Pusat Penelitian International Suez Environeement (CIRSEE). SUEZ adalah induk perusahaan PALYJA. IPA Taman Kota menyumbang air bersih 150 liter/detik. Dengan penggunaan teknologi ini dalam pengolah air bersih dengan air baku tawar, maka PALYJA merupakan operator air bersih pertama di Indonesia yang memakai teknologi biofiltrasi dalam proses produksi air bersih.
Sampah dan Air Laut
Kepada berapa kompasianer yang menunggu giliran blusukan di ruang kerja Vita Chandara Dewi, Kepala IPA Taman Kota, menejelaskan pengolah air baku di instalasi yang dipimpinnya melalui berbagai tahap mulai dari pengendapan lumpur, menghilangkan kadar deterjen, logam, amonium, dst. “Semua proses merupakan upaya untuk me-revome polutan dalam air baku,” kata Vita.
Teknologi biofiltrasi adalah proses mereduksi kadar amonium dalam air baku dengan memakai mikroorganisme alamiah. Dengan cara ini pemakaian bahan kimia, seperti chlorine, bisa dikurangi. Mikroorganisme yang dipakai di IPA Taman Kota hanya bisa hidup di air tawar dengan kadar oksigen yang baik. “Dalam prosesnya udara disuntikkan ke air agar kadar oksigen bisa menghidupi mikroorganisme,” kata Febry Yuarsa, Bagian Utilitis IPA Taman Kota yang memandu kompasianer blusukan ke instalasi.
Oksigen kian penting karena sering terjadi kadar deterjen dalam air baku sangat tinggi sehingga buih deterjen membubung ke udara, “Kadang-kadang masuk ke rumah warga,” ujar Febry, sambil memeragakan tinggi buih di bak pengolahan air.

Air baku untuk diolah IPA Taman Kota diambil dari sungai Cengkareng Drain dengan jarak pintu air (intake) dari instalasi sejauh 1,5 km. Air baku dari sungai didorong denga tiga pompa di intake. “Musuhnya, ya, sampah rumah tangga sampai kasur,” kata Febry. Di intake memang ada saringan, tapi kalau banjir sampah masuk ke pintu intake. Selain itu air laut pun bisa masuk sehingga terdorong ke bak penampungan yang memproses air dengan mikroorganisme. Tentu saja hal ini akan merusak sistem karena mikroorganisme akan mati jika ada air laut.
Untuk mengatasi hal itu PALYJA mengembangkan Total Dissolve Solid (TDS) Online Analyzer untuk mendeteksi air laut di intake. Dengan sistem ini begitu terdeteksi air laut ada di intake, maka operator akan segera melakukan tindakan untuk mencegah air laut tidak dipompa ke bak penampungan di instalasi.
Penerapkan teknologi biofiltrasi menjadi langkah maju PALYJA dalam menguransi defisit air bersih di Jakarta. Brabo PALYJA!
Lebih Dekat dengan PALYJA
PT PAM LYONNAISE JAYA yang disingkat PALYJA adalah perusahaan swasta yang dibentuk berdasarkan persetujuan kerjasama antara PAM Jaya (operator air bersih Jakarta) dengan SUEZ Environnement pada tahun 1997 untuk pelayanan wilayah barat Jakarta dengan patoksan Sungai Ciliwung. Pola kerjasama adalah pendelegasian pengelolan air bersih dari PAM Jaya ke PALYJA selama 25 tahun. Kerjasama meliputi produksi, distribusi, layanan pelanggan, perawatan, rejabilitasi dan investasi. Semua utilitas yang dipakai selama masa operasi kerjasama akan dikembalikan ke PAM Jaya ketika persetujuan kerjasama berakhir. ***
sumber: http://www.kompasiana.com/infokespro/jakarta-langganan-banjir-tapi-krisis-air-bersih_582e63e022afbda404d894e5
Tahukah Anda, ternyata ketahanan air bersih di Jakarta itu sangat mengkhawatirkan?
Studi yang dilakukan PAM Jaya menguraikan, bila lebih dari 10 juta penduduk yang tinggal di ibu kota membutuhkan 100 liter air per hari per orang. Itu artinya Jakarta butuh air sebanyak 26.100 liter per detik (litre per second/lps). Tapi apa daya, kebutuhan air bersih yang dapat dipenuhi oleh dua operator (PALYJA dan AETRA) hanya sebanyak 17.000 liter per detik. Angka yang jauh dari seimbang ini mengartikan bahwa ketahanan air bersih di Jakarta rawan banget atau hanya 3%. Telak-telak studi itu menyimpulkan, ibu kota masih kekurangan air bersih 9.100 liter per detik.
Parahnya lagi, kedua operator tadi pun bukannya meningkatkan kapasitas produksi untuk menciutkan jumlah defisit air bersih Jakarta, mereka malah ‘memencet tanda bahaya’ pasokan air baku. Waduuhhh…cilaka!
Sebagai operator yang mengolah air baku di atas permukaan tanah menjadi air bersih, wajarlah keduanya kelimpungan. Alasannya, dari 13 sungai yang ada di Jakarta, ternyata hanya 2 sungai saja yang airnya layak dijadikan air baku. Keduanya adalah Kali Krukut dan sungai Cengkareng drain, yang menyokong hanya 5,7% saja dari total operasional pengolahan air bersih. Ironisnya, semakin hari kualitas air di dua sungai ini malah terus merosot.
Lalu dari mana kedua operator memperoleh pasokan air baku? Mau enggak mau ya dari luar kota! PALYJA misalnya, mendatangkan pasokan air baku dari Waduk Jatiluhur sebanyak 62,5%. Sedangkan 31,8% lagi dibeli dari PDAM Tangerang (IPA Serpong 31% dan Cikokol 0,8%).
Jeleknya lagi, angka pasokan air baku dari dalam dan luar kota tadi jumlahnya tidak pernah bertambah sejak 1998 lalu. Jangankan bertambah, malah pasokan air baku itu justru sering error. Misalnya, Kanal Tarum Barat (Kalimalang) yang selama ini menjadi saluran distribusi air baku Waduk Jatiluhur merupakan saluran terbuka yang rentan gangguan, mulai dari kebiasaan masyarakat membuang limbah seenaknya, dan faktor bencana alam seperti tanggul longsor.

Salah satu solusi guna mengatasi defisit air bersih Jakarta yang dilakukan PALYJA adalah dengan melakukan optimasi instalasi melalui pengembangan teknologi. Upaya ini dikulik langsung oleh pesertaKompasiana Visit bertajuk Optimasi Instalasi sebagai Solusi Defisit Air Bersih Jakarta, Kamis 3 November 2016. Selain bertandang ke Instalasi Pengolahan Air (IPA) 1 Pejompongan di Jalan Penjernihan 2 Tanah Abang, Jakarta Pusat, peserta juga blusukan ke IPA Taman Kota di Kembangan Utara, Jakarta Barat.
Peserta juga melihat langsung Stasiun Pompa di RW 04 Kembangan Utara milik Sudin Pekerjaan Umum Tata Air Kota Administrasi Jakarta Barat, yang lokasinya persis di bibir sungai Cengkareng drain.
Menurut Meyritha Maryanie selaku Corporate Communicatuins and Social Responsibility Division Head PALYJA, pihaknya memiliki 7 IPA dengan beraneka kapasitas produksi. IPA 1 Pejompongan berkapasitas 2.000 lps, IPA 2 Pejompongan (3.600 lps), IPA Cilandak (400 lps), danIPA Taman Kota (150 lps).

Selain itu, ada juga tempat penampungan Air Bersih Sementara yang berasal dari PDAM Tangerang, yaitu di Distribution Central Reservoir (DCR) 4 (2.000 lps), dan DCR 5 (1.000 lps. Dan satu lagi yaitu, tempat pengolahan air sungai dari Kanal Banjir Barat untuk diolah menjadi air baku yang dinamakan instalasi pengambilan air baku Kanal Banjir Barat (550 lps).
IPA yang dimiliki Jakarta, saat ini usianya sudah tidak muda lagi. Makanya, untuk menjaga efektivitas dan efisiensi produksi diperlukan investasi dan inovasi teknologi. Kalau hanya mengandalkan sistem pengolahan air konvensional niscaya operasional produksi tidak bisa berjalan baik. Karena, kualitas air baku di IPA semakin menurun dari tahun ke tahun,” ujar Meyritha.
Beberapa teknologi tersebut misalnya, pertama, biofiltrasi. Seperti yang disaksikan sendiri oleh para Kompasianer, IPA Taman Kota termasuk yang sukses menerapkan teknologi dengan memanfaatkan penggunaan mikroorganisme alami yang hidup di air ini. Padahal, sejak 2007 lalu, IPA Taman Kota sempat mangkrak tak beroperasi lantaran kualitas air baku yang bersumber dari sungai Cengkareng drain begitu buruk dengan tingginya kandungan amonium. Lima tahun kemudian, tepatnya Juli 2012, berkat teknologi biofiltrasi yang dikembangkan PALYJA dengan supervisi dari SUEZ selaku induk perusahaan dan BPPT, maka mesin-mesin di IPA Taman Kota pun kembali beroperasi.
Akan tetapi, teknologi biofiltrasi di IPA Taman Kota ini rentan sekali tersusupi air laut yang efeknya bakal mematikan mikroorganisme karena mereka hanya bisa hidup di air tawar. Ironisnya, bila musim kemarau, air laut justru seringkali masuk ke daratan (intrusi).
Untuk memberi sinyal alert sewaktu-waktu air laut mulai menyusup dan mencegah jangan sampai masuk ke bak penampungan yang berisi mikroorganisme alami, maka pada tahun lalu, PALYJA mengembangkan teknologi pendeteksi air laut di pintu air (intake). Teknologi ini disebutTotal Dissolve Solid (TDS) Online Analyzer. Fungsinya memberi sinyal informasi manakala air laut mulai menyentuh intake sehingga petugas dapat segera lakukan shut down operasi pengolahan air.

Kedua, Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) yang hampir serupa dengan biofiltrasi. Teknologi ini dikembangkan PALYJA sejak 2015 dan mampu mereduksi tingkat polutan amonium atau limbah yang berasal dari rumah tangga. Untuk mengembangkan mikroorganisme alami yang mampu mengurangi kadar amonium dalam air maka digunakan media tumbuh yang disebut METEOR.
Efektivitas MBBR yang diterapkan di instalasi pengambilan air baku Kanal Banjir Barat ini berhasil mereduksi 87% kadar polutan amonium, sekaligus mampu mendorong produksi air baku sebanyak 550 lps yang kemudian dialirkan menuju IPA 2 Pejompongan.
“Bulan Mei 2015, operasional teknologi MBBR ini diresmikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dan mendapat apresiasi ditengah keterbatasan sumber air baku yang berasal dari sungai di Jakarta. Asal tahu saja, MBBR ini menjadi teknologi pertama pengolahan air dengan menggunakan mikroorganisme di Asia Tenggara dan Indonesia,” jelas Meyritha sambil menegaskan dampak positif MBBBR yakni meningkatkan kapasitas produksi IPA Pejompongan dari 8.800 lps menjadi 9.200 lps. “Area suplainya menyasar Jakarta Barat dan Utara.”
Teknologi MBBR juga dipraktikkan di IPA Cilandak. Efektivitasnya mampu mereduksi kadar polutan amonium pada air baku yang berasal dari Kali Krukut. Tingginya polutan ini sendiri disebabkan kepadatan rumah penduduk di sekitar kali sehingga otomatis menyebabkan tingginya limbah domestik berupa amonium. “Hasilnya, sesudah melewati uji coba, penerapan MBBR di IPA Cilandak bisa menurunkan kadar amonia hingga 70%,” bangga Meyritha.

Ketiga, teknologi pada tahap distribusi dengan mengoperasikanDistribution Monitoring Control Center (DMCC). Inilah pusat monitor tersentral dan terkomputerisasi yang bekerja secara real time. Lokasi DMCC ada di lobby IPA 1 Pejompongan. Bentuknya seperti rumah kaca bundar, dan di dalamnya terdapat beberapa layar monitor yang tampilannya merupakan hasil pantauan dari beberapa proses yang ada di PALYJA.
“Teknologi DMCC ini merupakan yang pertama di Indonesia, dan mampu me-monitoring hasil produksi sampai kepada jaringan distribusi termasuk pipa juga booster-booster yang ada di area PALYJA. Monitoring-nya dilakukan seminggu tiada henti, selama 24 jam, dan kontinyu meng-update data setiap 15 detik,” ujar Emma Nedi, Production ManagerPALYJA.
Layar DMCC juga menayangkan sistem Analyzer Water Treatment dan terhubung langsung dengan TDS-TDS Online Analyzer yang terpasang di lapangan. “Sehingga kita bisa mengetahui misalnya, kadar kekeruhan,pH air dan sebagainya pada setiap proses pengolahan air, misalnya ketika proses koagulasi dan flokulasi,” jelasnya.
DMCC juga sanggup memantau berapa air terpompakan pada masing-masing pompa yang tersebar di berbagai wilayah. “Jadi, dengan mudah kita dapat mengetahui secara real time, berapa kapasitas produksi air bersih yang sudah didistribusikan dari IPA 1 Pejompongan ini. Sedangkan untuk jaringan, DMCC juga mampu melakukan pemantauan secara rinci dan up to date sehingga berapa kapasitas air baku yang masuk ke masing-masing IPA dapat diketahui secara mudah juga pasti,” urai Emma sambil memperlihatkan salah satu layar monitor DMCC.
Saking hebatnya teknologi DMCC, perhitungan jumlah air baku yang masuk dari berbagai sumber, lalu menjalani treatment di IPA, kemudian keluar sebagai air bersih yang dipasok ke seluruh pelanggan dapat terukur secara cermat. Ke depan, malah akan ada sistem yang lebih unggul dan advance lagi daripada DMCC.
Keempat, teknologi jaringan distribusi juga dilakukan PALYJA. Misalnya, meningkatkan kualitas air bersih di jaringan atau re-Klorinasi padabooster pump di kawasan Grogol, Gajah Mada dan Tubagus Angke. Juga, pemasangan keran atau motorized valve guna mengendalikan pasokan air ke pelanggan secara otomatis.

Kelima, PALYJA beruntung memiliki sumber daya manusia yang mumpuni di bidangnya. Profesionalitas kerja ini antara lain ditunjukkan dengan keberhasilan mengembangkan inovasi penggunaan gas Heliumsebagai teknologi pendeteksi kebocoran air (Non Revenue Water/NRW)pada pipa yang tertanam di dalam tanah. NRW adalah air yang tidak menjadi tagihan atau tidak dapat tertagih. “Untuk mendeteksi kebocoran air, gas Helium ini kami injeksikan pada jaringan pipa yang ukurannya maksimal 300 milimiter,” jelas Meyritha.
Deteksi kehilangan air juga dilakukan PALYJA menggunakan teknologiKamera JD7, utamanya pada pipa primer yang tertanam didalam tanah dengan cara merekam segala bentuk audio dan visual sebagai indikatornya.
“Kamera JD7 bisa ‘berjalan’ sepanjang 1 kilometer di dalam pipa primer itu. Kami satu-satunya operator air bersih pengguna kamera canggih ini,” tutur Meyritha seraya menambahkan bahwa pihaknya juga melakukan penggantian meter air dan bekerjasama dengan Kepolisian untuk menangani kasus hukum kepada pelaku pencurian air.
Khusus soal kehilangan air ini, Meyritha membeberkan, prosentasenya pada 1998 mencapai 59,4%, dan saat ini semakin baik karena mencapai 39,3%. “Lagi-lagi, hal ini memang bukan hal mudah untuk mengatasinya. Seandainya pun angka pencurian air bisa dihilangkan sama sekali atau 0%, maka tidak akan dapat secara drastis mengurangi prosentase kehilangan air yang mencapai 39,3%. Karena pencurian air hanya menyumbang sekitar 9% dari total 39,3% prosentase kehilangan air. Adapun yang paling ampuh menurunkan kehilangan air adalah dengan mengganti jaringan pipa. Karena, pipa yang khususnya berada di area jaringan PALYJA bahkan sudah beroperasi sejak tahun 1922. Penggantian pipa ini jelas perlu investasi. Sementara investasi, di antara variabelnya adalah memerlukan kenaikan tarif, water charge dan sebagainya,” jelas Meyritha.
Hingga kini, PALYJA sudah memperbaiki kebocoran sebanyak 28.067. Adapun jaringan yang sudah diinvestigasi mencapai 4.906 kilometer, dengan berhasil menyelamatkan air bersih sebanyak 3 juta m3.
Keenam, inovasi teknologi layanan pelanggan tak ketinggalan untuk dimodernisasi. Seperti misalnya, mengoperasikan PALYJA Care yang buka 24 jam, dengan 23 partner yang memiliki ribuan loket untuk mempermudah pembayaran tagihan air. Selain itu, layanan pelanggan juga dipercanggih dengan Online Meter Reading dan Bill on Spot.


Blusukan ke IPA Taman Kota
Jangan bayangkan luas area IPA Taman Kota sama seperti di IPA 1 Pejompongan, karena memang lebih kecil malah terkesan sempit. Lokasinya pun berada di tengah pemukiman warga. Tapi biar begitu, IPA Taman Kota yang sudah berdiri dan beroperasi sejak 1982 ini sanggup menghasilkan air bersih dengan kapasitas 150 lps untuk ‘mengairi’ wilayah Cengkareng Barat dan Kalideres.
Lokasi IPA Taman Kota yang berjarak sekitar 5 Km dari laut memang menimbulkan risiko tersendiri. Maklum, mikroorganisme alami pada teknologi biofiltrasi hanya sanggup mengolah air baku tawar saja. Artinya, begitu kena asinnya air laut mikroorganisme ini justru klepek-klepek, mati.
Dijumpai penulis di ruang kerjanya, Vita Chandra Dewi, Kepala IPA Taman Kota menguraikan tahapan proses pengolahan air di instalasi yang sudah berdiri dan beroperasi sejak 1982 ini. “Berawal dari proses pengambilan air baku atau intake yang jaraknya sekitar 1,5 kilometer dari IPA Taman Kota ini. Setelah kami ambil air bakunya, kemudian masuk ke pipa air baku untuk kami injeksi koagulan suapaya turbidity-nya mengendap dan berdampak pada kekeruhan air yang semakin jernih. Lalu kami berikan juga karbon aktif untuk mereduksi kandungan deterjen. Dari situ kemudian air masuk ke unit koagulasi (proses pengadukan cepat dengan menggunakan koagulan) dan flokulasi(pengadukan lambat yang bertujuan memperbesar ukuran flok atau gumpalan sehingga dapat mudah mengendap), dan berlanjut ke sedimentasi untuk mengendapkan kekeruhan,” tuturnya seraya menambahkan bahwa air baku atau proses intake IPA Taman Kota bersumber dari sungai Cengkareng drain yang merupakan anak sungai dari Kali Pesanggrahan.


Tidak berhenti sampai pada upaya mengendapkan kekeruhan, lanjut ibu yang tengah mengandung 8 bulan ini, air kemudian dialirkan menuju unit biofiltrasi untuk me-removal kadar polutannya seperti deterjen, amonium, besi (mangan) dan lainnya. Supaya mikroorganisme alami pada biofiltrasi ini tetap hidup dan bekerja efektif me-removal polutan, maka digunakan blowerdan diffuser untuk menghembuskan dan menjaga kandungan oksigen terlarut.
“Dari unit biofiltrasi yang menggunakan media crosspack ini, air kemudian dipompa ke unit reservoir biofiltrasi untuk selanjutnya dialirkan lagi menuju unit filter berikutnya. Ini adalah proses penyaringan sisa partikel padat yang kemungkinan masih terbawa dalam air bersih keluaran dari biofiltrasi dengan menggunakan media penyaring pasir silika. Demi menjaga fungsi pasir silika selalu dalam kondisi prima sebagai media penyaringannya, maka dilakukan prosesbackwash setiap 24 jam sekali,” urai Vita.
Proses pengolahan air bersih masih berlanjut. Sesudah dilakukan penyaringan menggunakan media penyaring pasir silika, kata Vita, air kemudian dialirkan menuju reservoir air bersih untuk diinjeksi desinfektan berupa zat kimia Chlorine dengan durasi waktu 1 jam.
“Ini untuk membunuh bakteri. Memang tidak semua Chlorine hilang dalam proses desinfektan, tetapi disisakan prosentasenya sesuai peraturan yang berlaku agar dalam distribusi air bersih ke pelanggan proses removal bakteri terus berlangsung. Alhasil, air bersih yang sampai ke pelanggan aman untuk dikonsumsi. Selesai proses pemberian desinfektan zat kimia Chlorine, air kemudian dipompakan melalui pipa distribusi,” tutur wanita berjilbab dan berkacamata ini.


Sekilas PALYJA
PALYJA adalah kependekan dari PAM Lyonnaise Jaya. Ini merupakan perusahaan swasta yang pemegang saham mayoritasnya (51%) dikuasai Suez yang bermarkas di Paris, Perancis dan Astratel Nusantara (49%).
Pada Juni 1997, tercapai kesepakatan kerjasama antara PAM Jaya (operator air bersih Jakarta) dengan SUEZ Environment (area pelayanan Barat Jakarta), dan Thames Water (area pelayanan Timur Jakarta).
Bentuk kerjasamanya berupa pendelegasian pengelolaan air bersih dari PAM Jaya kepada swasta dalam bentuk kerjasama selama 25 tahun. Segala aset utilitas akan dikembalikan kepada PAM Jaya ketika kontrak berakhir. Lingkup kerjasamanya meliputi produksi dan distribusi, layanan pelanggan, perawatan dan rehabilitasi, serta investasi.
Hingga akhir 2015, sambungan air bersih (jumlah pelanggan) meningkat menjadi 404.769 sambungan dibandingkan 1998 dengan sebanyak 201.000 sambungan. Volume akhir air terjual mencapai 160,3 juta m3 dibandingkan 89 juta m3 pada 1998. Akses air bersih juga meningkat drastis menjadi 73,23% dari hanya 32% pada 1998.

PALYJA gencar mem-viral-kan hastag yang membuktikan kepeduliannya akan air, yaitu #BersamaDemiAir
sumber: http://www.kompasiana.com/gapey-sandy/nestapa-jakarta-krisis-air-bersih_581fe4c4f09273552c2346c5
