Arsip: Bersama Demi Air
Bersama Demi Air

Air Kotor ini di area Ventury. (Foto Ganendra)
Ketersediaan air di bumi jumlahnya sangat terbatas. Dari 100% air yang ada ternyata hanya 30 % yang merupakan air tawar. Dari 30% air tawar itu, ada 3 % air tawar berupa air permukaan. 3% air tawar di permukaan itu, sebesar 2% berada di sungai-sungai. Sementara air bersih di sungai kondisinya semakin menurun/ sedikit karena adanya polutan.
BENTUKNYA kecil mungil. Warna hitam pekat, nampak berongga. Sepertinya berbahan plastik. Sifatnya elastis saat ditekan/ dipencet. Nampak seperti barang sepele namun ternyata tidak. “Meteor” begitu Ibu Meyritha Maryanie menyebut barang di telapak tangannya itu. Siapa sangka ‘meteor’ inilah yang ‘berjasa’ dan berperan vital dalam pengolahan air bersih yang digunakan operator PT PAM Lyonnaise Jaya. Kemampuannya disebut mampu menghilangkan kandungan amonia sebesar 87%. Sebuah sistem pengolahan air yang pertama di Asia Tenggara.
“Meteor ini ditempatkan di dalam bak pengolahan air, berperan sebagai tempat atau media bakteri hidup yang memakan amonia,” jelas Meyritha Maryanie, selaku Corporate Communication and Social Responsibility Division Head PT. PAM Lyonnaise Jaya, saat menjadi narasumber dalam acara Nangkring Kompasiana #BersamaDemiAir, Senin (21/3/2016) di kantor Instalasi Pengolahan Air (IPA) 1 Palyja, Pejompongan, Jakarta Pusat.
Meteor. (Foto Ganendra)
Penjelasan Meyritha itu adalah sebagian kecil dari materi yang disampaikan berkaitan dengan acara kunjungan ke IPA 1 Palyja. Tentu saja menggali informasi seputar penyediaan air bersih menjadi hal yang penting. Paling tidak buat saya pribadi sebagai warga Jakarta Barat. Salah satu wilayah yang mendapat layanan air bersih dari operator Palyja yang bekerjasama dengan PAM Jaya ini.
Melihat langsung proses pengolahan air, mendapat informasi tentang ‘dapurnya’ Palyja, kampanye tentang kesadaran air bersih #BersamaDemi Air, program-program yang telah dieksekusi maupun rencana serta kendala menjadi pengetahuan baru. Paling tidak, sedikit banyak jadi tahu mengapa seringkali di jalan Tubagus Angke sekitar lokasi kantor ada galian perbaikan saluran/ pipa air Palyja. Atau kenapa air kadang kala mati, tak mengalir, juga mengapa bau kaporit masih tercium dari kran dan sebagainya. Dan pastinya jadi tahu darimana sumber air yang kita minum berasal. Sudahkah diolah secara higienis? Seluk beluk yang perlu dan penting untuk kita ketahui, sebagai salah satu dari ribuan pelanggannya.
Data dan Fakta Air Baku untuk Ibukota
Sebelumnya layak diketahui bahwa tata kelola air di ibukota, melibatkan beragam institusi, baik Pusat maupun daerah. Jumlahnya ada 15 instansi, terdiri 12 dari pusat dan 3 instansi daerah. Diantaranya adalah Kementerian Pupera, Dirjen Cita Karya, Dirjen Sumber Daya Air, Direktur Penyediaan Air Minum, Direktur Irigasi, Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, Perum Jasa Tirta, Badan pendukung pengembangan sistem penyediaan air minum, Dinas Tata Air DKI Jakarta, BPLHD, PAM Jaya, serta operator yakni Palyja dan Aetra.
Sebagai informasi Palyja merupakan operator air bersih Jakarta dan SUEZ Environnement untuk wilayah Barat Jakarta. Sementara Aetra, Thames Water untuk wilayah Timur Jakarta dengan Sungai Ciliwung sebagai batas wilayah pelayanan. Kontrak kerjasama dengan PAM Jaya selama 25 tahun sejak 1 Februari 1998. Demikian juga Aetra.
Nah ada fakta menarik yang saya peroleh, bahwasannya ada 13 sungai yang melintasi wilayah Jakarta sudah tidak layak lagi diolah menjadi air bersih karena tercemar. Artinya sudah tak bisa menjadi air baku untuk diolah menjadi air layak konsumsi. Fakta yang disampaikan oleh Budi Susilo, Direktur Customer Service PAM Lyonnaise Jaya (Palyja), disebabkan paling utama bukan dari limbah industri, tapi limbah dari rumah tangga!
“Sungai banyak yang sudah tercemar dengan deterjen,” kata Budi yang menjadi narasumber pertama di acara.
Sebagian besar limbah mengalir melalui saluran air, kemudian mengalir ke sungai. Efek dari sungai yang bermasalah tersebut, maka Palyja sebagai salah satu operator yang bekerjasama dengan PAM Jaya harus ‘mengambil’ dan membeli dari Waduk Jatiluhur disamping juga mengambil dari sungai Kanal Banjir Barat. Meski sebenarnya Kanal Banjir Barat juga tercemar namun tidak separah 13 sungai lainnya dan masih layak diolah. Dalam prosentase sumber air baku di wilayah barat Jakarta, pasokan air dari luar Jakarta sebesar 94,3% sedangkan dari Jakarta sendiri sebesar 5,7%.
Dari informasi Pak Khamid, staf Palyja yang mendampingi saat melihat IPA Palyja di Pejompongan, mengatakan bahwa air baku yang diambil dari pejompongan ini adalah dari bendungan Jatiluhur bertemu di Kalimalang. Palyja mengambil melalui Halim baru diteruskan ke Ventury IPA Pejompongan.
“Jaraknya kira-kira dari Jatiluhur ke Halim 72 km. Dari Halim dialirkan lewat bawah tanah sepanjang 12 km sampai disini (Ventury),” tutur Pak Khamid.
Nah setelah sampai di Ventury, air kotor yang kulihat warnanya coklat pekat bercampur lumpur itu diolah alias diproses melalui tahapan-tahapan sistem pengoalahan air Palyja. Seperti apa pengolahan air kotor itu menjadi air bersih untuk warga DKI Jakarta wilayah Barat itu?
Air kotor dari Halim ke ruang Ventury. (Foto Ganendra)
Proses Instalasi Pengolahan Air (IPA) Palyja
Melihat langsung instalasi pengolahan air di IPA Pejompongan Palyja memberikan gambaran tentang bagaimana air kotor itu diolah selama 4 jam menjadi air bersih. Nampak saat masuk ke area pengolahan, berwujud saluran-saluran air yang lumayan lebar, bak-bak yang sedemikian banyak, serta mesin-mesin pengoalahan. Ternyata melalui proses yang cukup panjang. Dapat saya simpulkan dari penjelasan Pak Khamid, proses pengolahan air di IPA tempatnya bekerja meliputi: kobulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi dan desinfeksi.
Pertama, air baku yang berasal dari Bendungan Jatiluhur melewati Kalimalang dan Halim masuk ke area IPA Palyja yang disebut Ventury. Di Venturi diubah bahan kimia, berupa ACH dan kapur. Lalu masuk ke area Accelator kedalaman mencapai 5 meter. Ada 6 Accelator. Disini terjadi kobulasi, flokulasi dan sedimentasi. Kobulasi adalah percampuran bahan kimia. Flokulasi adalah pembentukan flog atau lumpur yang besar dan padat dengan cara pengadukan lambat agar dapat diendapkan. Sedimentasi merupakan pemisahan lumpur dari airnya berdasarkan perbedaan berat jenis dengan cara pengendapan. Tipe bak sedimentasi berbeda-beda bentuknya. Ada bak persegi (aliran horizontal), bak persegi aliran vertikal, bak bundar.
Tabung ventury. (Foto Ganendra)
“Dari Accelator lalu masuk ke filter yang terdiri dari 48 filter,” jelas Pak Khamid.
Terlihat ada mesin di tengah-tengah area ini. Mesin berwarna biru yang sudah cukup tua, namun masih bisa beroperasi dengan baik. Lalu berlanjut saringan pasir, pasir kwarsa, turun ke bawah masuk ke reservoir. Reservoir letaknya di dalam tanah, dengan kedalaman 4 meter (ada 4 reservoir) berbentuk lapangan luas.
“Satu reservoir isinya 8100 meter kubik. Jadi tinggal kalikan 4, jadi menampung 32.400 meter kubik,” jelas Pak Khamid.
Setelah itu, dilakukan desinfeksi dengan membubuhkan bahan kimia gas khlor atau disebut kaporit untuk desinfektan pembunuh kuman yang tak terpakai. Lalu masuk ke ruang Kelder, terakhir. Dari kelder barulah air bersih dipompakan ke konsumen. Sampai di Kelder ini, sebenarnya air bisa diminum langsung. Seperti yang digunakan sebagai air minum di kantor Palyja Pejompongan itu. Sempat menikmati airnya saat membuat kopi di ruangan acara. Tak ada beda seperti air yang diminum sehari-hari heheee.
Oh iya, area pengolahan air secara kontinyu dan terjadwal dilakukan proses cleaning. Air bersih dari Kelder inilah yang disalurkan ke pelanggan. Namun setelah sampai di rumah pelanggan air ini dianjurkan untuk tidak diminum langsung.
“Harus dimasak dulu, soalnya saluran pipa sudah berumur 62 tahun, jadi potensi ada karat dan lain-lain,” imbuh Pak Khamid.
Untuk diketahui, bangunan jaringan sudah ada sejak 1922. Bangunan di IPA Pejompongan sendiri berdiri 1953. Sudah lama banget yaaa… Namun pihak Palyja sendiri, setiap hari melakukan cek sampling ke tempat saluran air, tujuannya memastikan air layak dikonsumsi. Pembersihan reservoir dilakukan 1 tahun sekali, accelator dilakukan 2 bulan sekali dan filter dilakukan setiap 72 jam. Hal itu dilakukan untuk mempertahankan kualitas pengolahan air agar tetap terjaga.
Lalu apakah air yang diolah sudah standar?
Meyritha menjelaskan bahwa kualitas air sama yang keluar dari produksi sudah standar air minum. Artinya sudah bisa langsung diminum. Hal itu sesuai Peraturan Menteri Kesehatan/ Permenkes untuk air bersih, yakni Permenkes No. 492 tahun 2010. Sedangkan untuk air minum produksi instalasi sesuai Permenkes 582 tahun 1995. Harus diingat bahwa itu standar air bersih siap minum sebelum disalurkan ke pelanggan. Jadi standar air bersih yang dipakai pelanggan yang siap minum, harus dimasak terlebih dahulu, karena kondisi pipa saluran yang sudah lama.
Salah satu bagian proses pengolahan air Palyja. (Foto ganendra)
Oh iyaa, seperti sudah saya sebutkan di atas, Palyja menggunakan teknologi pengolahan air di IPA Baku Kanal Banjir Barat dengan teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR). Teknologi ini merupakan teknologi pemanfaatan bakteri alami dalam proses pengolahan air minum. Mampu menghilangkan amonia sebesar 87%. “Meteor” yang menjadi media tempat bakterinya hidup. Sementara hal yang sama dilakukan di IPA Taman Kota dengan sistem Biofiltrasi dalam rehabilitasi IPA Taman Kota. Teknologi ini memanfaatkan bakteri alami yang pertama dilakukan di Indonesia.
“Tahun ini, teknologi itu rencananya akan di-kopi paste (diterapkan) di Cilandak, karena Kali Krukut sudah mulai jelek,” jelas Meyritha.
Upaya menjaga kualitas dan pelayanan air bersih oleh Palyja dilakukan juga monitoring yang menggunakan sistem modern. Ada ruang Distribution Monitoring & Controlling Centre (DMCC). Di ruang yang berbentuk lingkaran bulat ini ada petugas yang standby selama 24 jam penuh. Petugas bergilir 3 kali dalam sehari. Tanggungjawabnya adalah memonitor seluruh sarana dan prasarana Palyja. Hal ini memungkinkan setiap masalah yang terjadi dapat diketahui dengan cepat dan langsung ditangani.
“Kalau ada masalah, maka ada alarm menyala, keluar merah, operator akan tahu. Misalnya pipa bocor, petugas akan tahu, kenapa arah kesana tak ada air, lalu diinfokan ke tim untuk segera ditangani,” tutur Pak Khamid.
Distribution Monitoring & Controlling Centre (DMCC) (Foto ganendra)
Palyja “Bersama Demi Air” Palyja yang mencakup layanan wilayah Barat Jakarta, mengambil/ membeli 60% dari Jatiluhur. Sementara Thames Water mengambil 100%. Memenuhi kekurangan itu Palyja harus mengambil air dari Tangerang. Ibu Meyritha menjelaskan bahwa Palyja tak bisa sendirian untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan. Ketersediaan air bersih dan menjaganya adalah urusan tanggungjawab bersama.
“Kami bekerjasama dengan instansi lainnya seperti Pemkot DKI Jakarta, Kemenpupr, media dan juga Blogger secara tak langsung. Oleh karena itu kami membuat tagline #BersamaDemiAir,” kata Meyritha.
Menurutnya sejak 1998 yang paling inti adalah air baku. Palyja sejak 1998 jumlah layanan 200 ribu, hingga akhir 2015 bertambah mencapai 405.000 pelanggan, namun air tak bertambah.
“Itu tantangannya,” tambah Meyristha.
Meyritha Maryanie, selaku Corporate Communication and Social Responsibility Division Head PT. PAM Lyonnaise Jaya. (Foto ganendra)
Antara Menjaga Ketersediaan Air dan Bisnis
Palyja merupakan perusahaan yang memiliki ruang lingkup kerja emnsuplai air bersih dengan bertanggungjawab di produksi, distribusi, customer service, perawatan dan rehabilitasi serta investasi. Pemegang saham Suez 51% dan Astratel Nusantara 49%. Kontrak kerjasama 25 tahun dengan PAM Jaya. Bentuk kerjasamanya adalah pendelegasian pengelolaan air bersih dari PAM Jaya kepada swasta dalam bentuk kerjasama. Segala aset utilitas akan dikembalikan kepada PAM Jaya pada saat kontrak berakhir. Menurut Meyristha privatisasi itu berbeda dengan konsesi selama 25 tahun, karena semua aset termasuk yang dibangun pihak swasta sampai kontrak berakhir dikembalikan ke PAM Jaya. Tidak dibeli oleh PAM Jaya saat kontrak berakhir.
Sebagai fokus investasi, total adalah Rp. 2089 triliun untuk perbaikan jaringan, menyediakan MDCC sebagai pusat konrol air bersih satu-satunya di Indoensia, yang meruapakan bagian dari otomatisasi dan control. Juga pengembangan instalasi pengelolaan air, juga teknologinya. Dana tersebut disebut tak mencukupi. Pasalnya saat diterima dari PAM Jaya panjangnya jaringan 4000 km. Sekarang ada 5400 km. Dari 4000 yang baru diperbaiki 1100 km, masih ada 3000km pipa dibawah tertanam yang mungkin korosi, kemungkinan yang tua masih ada. Itulah yang menyumbangkan kebocoran pipa.
Sementara itu kebutuhan dan ketersediaan air bersih di Jakarta menurut studi PAM Jaya, kebutuhan air untuk 10 juta penduduk Jakarta, setiap 100 liter/ hari/ orang. Kebutuhan air di Jakarta 26.100 liter / detik. Kebutuhan air bersih yang dapat dipenuhi oleh Palyja dan Aetra Cuma 17.000 liter/ detik, masih defisit 9,100 liter/detik. Kondisi ketahanan air Jakarta hanay 3%.
Palyja hingga 2015 telah mencapai beragam pencapaian. Untuk sambungan pada 1998 tercatat ada 201,000 sambungan. Angka ini meningkat menjadi 404,769 sambungan di tahun 2015. Volume air terjual pada 1998 sebesar 89,2 juta meter kubik, sedangkan pada 2015 menjadi 160,3 juta meter kubik. Non Revenue Water sebesar 59,4% pada 1998, sedangkan pada 2015 sebesar 39,3%. Ada 32% akses air bersih pada 1998, emningkat pada 2015 menjadi 73,15%.
Sementara itu terdapat peningkatan jumlah pelanggan (lihat data dibawah). Untuk tarif untuk beberapa kategori tidak mengalami kenaikan sejak 2007, seperti kategori social customer dan non domestik (lihat tabel dibawah). Tercatat sejak 2007 atau dalam kurun waktu 9 tahun, Palyja belum pernah menaikkan tarif.
Tabel Pelanggan dan tarif pelanggan Palyja. (Foto ganendra)
Komitmen kepada masyarakat berpenghasilan rendah, ada beberapa hal yang dilakukan oleh Palyja. Misalnya Ada 58 kios air dan master meter untuk melayani 70.000 warga. Ada 245 public hydrants untuk melayani warga, juga GPOBA/ Global Partnership on Output Based Aid 5000 connections.
Meski demikian masih banyak tantangan yang harus diatasi. Tantangan saat ini menyangkut beberapa poin, seperti tambahan air baku dan peningkatan kualitas air baku yang ada saat ini, pengembangan dan peningkatan distribusi jaringan, penanganan tindak ilegal dan sinergi multistakeholder.
Menyangkut tindak ilegal berkaitan dengan faktor kehilangan air, Non Revenue Water/ NRW yang merupakan air yang tak menghasilkan. Apa saja komponen NRW itu?
Menurut Nancy Elvina, selaku kepala Divisi management Aseet dan NRW Palyja, NRW misalnya saja adanya penggunaan ilegal, sambungan ilegal, meter tua, anomali meter, kebocoran pipa dan lain-lain.
“Ada saja akal customer, mengotak atik meteran ataupun membuat sambungan ilegal,” kata Nancy.
Penanganan terhadap tindak ilegal itu beragam, disesuaikan dengan komponen NRW yang dimaksud, seperti pemutusan sambungan, penggantian meteran, rehabilitasi pipa, bahkan pemutusan pipa.
Catatan #BersamaDemiAir
Sebagai warga pengguna, kebutuhan air bersih adalah utama dalam kehidupan sehari-hari. Banyak hal yang mesti dilakukan menyangkut memelihara ketersediaan air. Informasi yang benar dan akurat menjadi faktor yang perlu dipahami. Seperti yang disampaikan oleh peserta acara Nangkring bareng Palyja, ada beberapa catatan penting.
1. Kebutuhan air bersih adalah mutlak. Harapan besar peningkatan layanan pada operatoir menyangkut ketersediaan air yang siap minum dari air bersih yang sampai ke pelanggan. Kendala sarana dan prasarana pipa misalnya, mungkin diprogramkan untuk mendatang terkait solusinya. Tentu saja investasi tak murah, namun akan menjadi momen yang berharga buat publik dan Palyja sendiri. Tentu sangat bagus jika diprogreskan sebelum kontrak kerjasama berakhir.
2. Pekerjaan rumahnya adalah, mencari solusi tambahan air baku. Pasokan air baku dari Jakarta yang hanya 5,7% mengindikasikan bahwa kondisi ketersediaan air dan sungai-sungai di ibukota yang memprihatinkan. Pemkot DKI Jakarta yang menormalisasi sungai tentu tidak dalam waktu dekat mampu menambah air baku yang ada di ibukota.
3. Peningkatan kualitas air baku. Saat ini limbah yang berkontribusi paling banyak adalah limbah rumah tangga. Mengindikasikan kesadaran masyarakat yang kurang terhadap kebersihan lingkungan/ sungai. Menjadi tanggungjawab bersama untuk memiliki kesadaran soal limbah, sampah dan semacamnya. Tagline #BersamaDemiAir wajib dimaknai bersama.
4. Memperluas cakupan dan meningkatkan kualitas layanan, mengingat masih ada yang pelanggan yang belum terlayani sepenuhnya. Pelanggan yang masih mengalami pasokan air bersih tak stabil. Ada yang dapet sore, pagi, ataupun malam hari saja. Total jaringan Palyja saat ini ada 5400 km.
5. Informasi dari pihak Palyja, wajib diketahui masyarakat, terkait tentang sugesti air berbau kaporit itu beracun. Padahal justru sebaliknya. Menandakan air sudah diproses pengolahan. Gas khlor dalam air akan hilang tak lama, 5 menitan.
6. Melalui CSR-nya Palyja berperan serta mengedukasi masyarakat menyangkut kesadaran menghargai air dan pelestariannya. Misalnya saja yang sudah dilakukan dengan menerima kunjungan dari pihak sekolah-sekolah, sehingga siswa dapat memperoleh wawasan lebih luas tentang upaya penyelamatan air bersih.
7. Teknologi pengolahan air Palyja, MBBR dengan menggunakan bakteri alami adalah pertama di Indonesia dan satu-satunya di Asia Tenggara.
8. Menumbuhkan kesadaran bersama dan kepedulian untuk menjaga dan melestarikan air menjadi tanggungjawab bersama.
So, air permukaan tanah di Jakarta terjadi penurunan 5-10 cm tiap tahunnya. Artinya air menjadi masalah yang mendesak untuk diatasi bersama, demi masa depan kita. Mari peduli #BersamaDemiAir.
@rahabganendra
Semua foto milik pribadi
“Artikel ini adalah opini dan pendapat dari penulis kompasiana dan dilombakan dalam kegiatan Kompasiana Nangkring Bersama PALYJA 21 Maret 2016″

Air sungai sebagai sumber utama air baku sudah tidak layak diolah (lipsus.kompas.com)
Siapa yang tidak terkesan dengan film “Mad Max: Fury Road” yang mengisahkan tentang krisis dunia di mana bukan hanya minyak bumi yang menjadi komoditas paling dicari namun air juga sangat langka sehingga terjadi krisis air dan pangan yang luar biasa di bawah pemerintahan Immortan Joe yang brutal.
Film ini mengisahkan bagaimana seorang wanita bernama Furiosa dan Five Wives berniat untuk melakukan sabotase sumber air dan minyak untuk dibawa pergi ke sebuah tempat di mana Furiosa tinggal semasa kecil bernama Green Place. Sebuah tempat yang memiliki tumbuhan dan air, namun sayangnya Furiosa dan para istri Immortan Joe harus menelan pil pahit karena ternyata kini Green Place juga sama tandusnya dengan daerah lain; kering dan tiada tumbuhan sama sekali.
Film ini berhasil membuat saya terpukau karena jalan cerita dari awal sampai akhir penuh dengan ketegangan. Satu hal yang agak menggelitik adalah tentang krisis air yang disajikan dalam film ini. Masuk akal bila minyak bumi suatu saat bisa menjadi barang yang sangat tidak terjangkau karena memang minyak bumi adalah sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui di mana butuh waktu sampai jutaan tahun dalam proses pembentukannya. Sebaliknya air? Air adalah sumber daya yang dapat diperbaharui. Semua kita pasti mengetahui siklus air yang dimulai dari menguapnya air laut kemudian uap dibawa oleh hembusan angin menuju daratan.
Uap air mengalami proses kondensasi dan berubah menjadi butiran awan yang akhirnya akan jatuh di daratan sebagai air hujan kemudian diserap tanah. Terakhir, air ini akan mengalir kembali menuju sungai yang bermuara ke lautan. Nanti air laut akan menguap lagi membentuk awan kemudian jatuh ke bumi. Mereka yang belum memiliki saluran PAM di rumah mungkin akan kesulitan air.
Namun, bagi masyarakat Ibu Kota, air bersih masih sesuatu hal yang mudah didapatkan bahkan cenderung berlimpah ruah. Mau mandi berapa kali sehari juga bisa. Bila air PAM mati tinggal menyalakan air jetpump. Berita di TV sangat sering memberitakan tentang banjir dan belum lagi harga air PAM yang tergolong ekonomis. Beberapa fakta di ataslah yang membuat orang tidak sadar kalau kita sudah sampai pada ambang krisis air.
Penasaran mengenai kelangkaan air bersih inilah yang mengantarkan saya untuk mendaftarkan diri mengikuti acara Kompasiana Nangkring Bersama PALYJA dengan tema: “Bersama Demi Air”. Benarkah mulai terjadi kelangkaan air seperti kabar yang dihembuskan akhir-akhir ini? Pak Khamid selaku penanggung jawab operator Palyja memandu saya dan kompasianer lain mengelilingi lokasi instalasi pengelolaan air Palyja. Cukup kaget kalau ternyata Palyja ini adalah tempat pengolahan air kotor nan keruh untuk diolah menjadi air bersih layak konsumi yang siap didistribusikan ke rumah-rumah melalui pipa bawah tanah. Proses pengolahan air mulai dari penyaringan kasar, koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi, desinfeksi, kemudian masuk ke reservoir, dan terakhir dipompakan ke pelanggan.
Proses pengelolan air di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Palyja Pejompongan adalah sebagai berikut. Air dari Waduk Jatiluhur masuk melalui wadah intake. Bangunan intake ini memiliki saringan kasar yang berfungsi memisahkan benda-benda yang ikut tergenang dalam air. Selanjutnya air baku ini diendapkan pada parit-parit lebar dan panjang. Setelah proses pengendapan awal, air dialirkan melalui tempat pembubuhan zat koagulan berupa tawas atau ACH dengan tujuan supaya air keruh tadi membentuk endapan. Bila air telah bercampur sempurna dengan ACH/tawas maka di dalam bak akan terbentuk endapan sehingga terjadi pemisahan antara air bersih dan kotoran. Air yang sudah bersih ini dialirkan menuju bak saringan pasir. Meskipun air sudah tampak bersih tetapi masih terdapat kuman yang berbahaya sehingga harus dilakukan proses desinfeksi dengan membubuhkan zat chlor. Air yang sudah jernih dan bebas kuman selanjutnya dikumpulkan dalam bak penampungan (reservoir) sebelum akhirnya disalurkan kepada pelanggan. Seluruh proses pengolahan air ini memakan waktu sampai 4 jam.

Proses Pengolahan Air Baku (dokpri Rahayu)

Tempat Pengolahan Air Palyja (dokpri)
Ternyata pengolahan air membutuhkan biaya dan peralatan yang sangat mahal. Belum lagi air yang diambil ternyata bukan dari sungai Jakarta melainkan dari Jatiluhur. Air baku ini juga tidak gratis sehingga membutuhkan biaya tambahan yang cukup besar sebelum diolah menjadi air bersih. Jakarta memiliki 13 kali namun semua tercemar limbah domestik dan industri.
Padahal sungai adalah sumber utama air baku untuk diolah di IPA menjadi air bersih layak konsumsi. Namun ternyata kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Semua air kali tersebut tidak memungkinkan untuk dijadikan bahan baku air sebab tingkat polutan yang sangat parah melampaui batas aman. Inilah sebabnya mengapa Palyja harus mendatangkan air baku dari Jatiluhur.

Indeks Kualitas Air sungai Jakarta (jakartapedia.bpadjakarta.net)
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta menyimpulkan kalau tidak satu pun air baku di Jakarta layak untuk diolah menjadi air bersih. Hanya 1% aliran sungai Jakarta yang indeks pencemarannya dikategorikan baik dan selebihnya dikategorikan tercemar ringan sampai berat sehingga sangat rawan bila dijadikan bahan baku air bersih akibat tercemar polutan dari domestik maupun industri. Artinya, ketersediaan air memang berlimpah ruah namun hanya sebagian kecil yang bisa dikonsumsi.
Tingkat ketersediaan air bersih yang semakin hari semakin sedikit tidak seimbang dengan tingkat pertumbuhan populasi yang semakin membludak. Bila tidak segera dicari jalan keluar maka pasokan air bersih yang sedikit tadi tidak akan mampu memenuhi kebutuhan semua manusia. Menurut ibu Meyritha Maryani selaku Corporate Communications and Social Responsibilities Division Head Palyja, pada tahun 1998 pelanggan PAM hanya 200.0000 sambungan kini meningkat menjadi 405.000 sambungan dengan lebih dari 3 juta pelanggan masyarakat Jakarta yang tinggal di wilayah barat sungai Ciliwung. Artinya, telah terjadi peningkatan jumlah pelanggan sebanyak dua kali lipat sejak tahun 1998 yang melayani hanya 1,5 juta orang. Namun sayangnya peningkatan jumlah pelanggan ini tidak diikuti dengan peningkatan kuantitas dan kualitas sumber air baku.
Air di Indonesia memang berlimpah namun daya tampungnya sangat rendah. Menurut data Bappenas tahun 2012 daya tampung air di Indonesia hanya 54 meter kubik per tahun untuk setiap kepala. Padahal kebutuhan per orang setiap tahunnya sebesar 1.975 meter kubik. Kemampuan daya tampung ini sangat jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara Thailand, Meksiko, dan Amerika Serikat. Angka yang demikian hanya satu tingkat di atas negara Ethiopia.
Fenomena kurangnya daya tampung ini disebabkan sedikitnya daerah resapan air dan kurangnya pembangunan waduk buatan demi menampung air hujan. Daya tampung yang minimal selain disebabkan tidak ada waduk penampungan air hujan, juga karena Ibu kota sudah tidak memiliki daerah resapan air yang memadai sehingga kebanyakan air hujan tidak menyerap ke dalam tanah. Saat musim hujan, air langsung menuju ke sungai dan laut. Siklus air sudah tidak terjadi sebagaimana mestinya.
Air hujan hasil penguapan air laut yang tumpah ke bumi seharusnya sebagian menyerap masuk ke dalam tanah dan menjadi cadangan di saat musim kemarau. Kini, kurangnya daerah resapan membuat semua air hujan langsung tumpah menuju ke lautan. Akhirnya, saat musim hujan banyak daerah di Indonesia termasuk Ibu Kota yang banjir namun sebaliknya saat musim kemarau terjadi kekeringan dan kekurangan air yang luar biasa.
Oxfam International yang merupakan sekelompok organisasi independen non-pemerintah memprediksi pada tahun 2025 akan ada sebanyak 321 juta jiwa penduduk Indonesia yang kesulitan mengakses air bersih. Jumlah ini akan terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk. Apa yang terjadi bila hal tersebut terus semakin parah puluhan atau ratusan tahun yang akan datang? Fakta menunjukkan tidak ada manusia yang bisa memperoleh kualitas hidup sehat tanpa air bersih.
Kurangnya air bersih menyebabkan berbagai kondisi berbahaya seperti penyakit diare, penyakit kulit, dan berbagai penyakit akibat bakteri jahat lainnya. Data WHO mencatat tahun 2008 sebesar 3,5% dari total kematian di Indonesia disebabkan kelangkaan air bersih. Di tingkat dunia, ada sekitar 1,6 juta anak meninggal karena diare dan angka kematian karena diare ini jauh lebih tinggi daripada kematian karena penyakit TBC, Malaria, atau HIV AIDS. Selain itu, lingkungan yang kekurangan air bersih pasti menimbulkan bau, penyakit pada hewan, atau tanaman bahan pangan mati. Intinya, keterbatasan air bersih menyebabkan kelangkaan bahan pangan karena layaknya manusia, tanaman juga tidak bisa disiram dengan air tercemar. Sebuah sumber menyebutkan dibutuhkan 2.500 liter air untuk menghasilkan 1 kg beras, 760 liter air untuk 1 kg jagung, 1.300 liter air untuk 1 kg gandum, 1.000 liter air untuk 1 liter susu, 10.000 liter air untuk 1 kg keju, 3.300 liter air untuk 1 kg telur, 15.400 liter air untuk 1 kg daging sapi. Artinya kelangkaan air akan melahirkan krisis sumber pangan. Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Michael Parfit yang adalah seorang penulis untuk National Geographic. Beliau mengatakan, “Manusia hidup adalah berkat keberadaan air. Di mana ada air maka di situ ada kehidupan dan di mana tidak ada air maka tidak akan ditemukan kehidupan”
Nyatalah kini kalau masalah kelangkaan air bersih bukan hanya terjadi di Indonesia namun juga di dunia. Betapa berharganya keberadaan air bersih bagi masyarakat bumi karena menentukan kualitas kesehatan bahkan hidup-mati seseorang. Bila kelangkaan air terus semakin parah di Indonesia dan dunia maka bukanlah mustahil suatu saat akan menyebabkan ‘peperangan’ demi memperebutkan air bersih.
Data PBB menyebutkan kalau saat ini ada sebanyak 768.000.000 manusia di dunia yang tidak memiliki akses ke sumber air dan sebanyak 2,5 miliar tidak memiliki sumber air yang layak konsumsi. UNESCO juga memberikan laporan yang mengerikan di mana berdasarkan hasil penelitian kalau kebutuhan air dunia cenderung meningkat sebanyak 55% pada tahun 2050. Bila keadaan perairan tidak membaik, diperkirakan lebih dari 40% dari penduduk dunia akan mengalami krisis air.

Sungai di dunia sudah banyak yang sangat tercemar (Indeks Kualitas Air sungai Jakarta (jakartapedia.bpadjakarta.net)
Kelangkaan air yang sedemikian parahnya akan memberlakukan hukum alam, siapa yang kuat dialah yang berkuasa. Bahkan bukan hal yang berlebihan bila penguasa bengis layaknya Immortan Joe akan muncul dan mengendalikan orang-orang yang ingin mendapatkan air dan pangan darinya. Semoga saja hidup yang bagaikan mimpi buruk itu bisa kita cegah sejak kini.
Upaya Palyja Memaksimalkan Kuantitas dan Kualitas Air Bersih
Sampai akhir tahun 2015 hanya 60% penduduk Jakarta yang mendapatkan akses air bersih melalui perpipaan yang memenuhi persyaratan kualitas air berdasarkan Permenkes 416/MENKES/PER/IX tahun 1990. Artinya sekitar 40% masyarakat Ibu Kota yang tidak memiliki akses air bersih terpaksa mengkonsumsi air yang tidak layak atau membeli air kemasan yang cukup mahal.
Menurut data Palyja, kebutuhan air adalah sebesar 26.100 liter/detik sementara persediaan air hanya 17.000 liter/detik. Artinya ada kekurangan sebesar 9.100 liter/detik yang harus dipenuhi. Bahkan Pusat Kajian Sumber Daya Air Indonesia wilayah DKI memprediksi dalam 10 tahun mendatang, defisit air akan bertambah mencapai 19 ribu liter/detik dengan catatan total penduduk Ibu Kota menjadi 13,4 juta jiwa.
Saat ini Palyja Pejompongan yang beralamat di Jalan Penjernihan 1 No.1 Tanah Abang telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan pasokan air bersih. Demi menyiasati air sungai Jakarta yang tidak layak dijadikan air baku maka Palyja mengambil sumber air baku dari luar Jakarta. Bila Palyja memaksakan menggunakan air baku dari sungai Ibu Kota maka diperlukan teknologi tambahan dengan biaya yang sangat mahal yang bisa berdampak pada jumlah tagihan PAM masyarakat.
Komitmen untuk tidak memberatkan pelanggan inilah yang menjadi pertimbangan Palyja sehingga mengambil air baku dari luar Jakarta sebanyak 94,3% dan hanya 5,7% yang berasal dari Jakarta. Sumber air baku luar Jakarta tadi paling banyak diperoleh dari Waduk Jatiluhur dan sebagian kecil diperoleh dari air olahan yang dibeli dari Tangerang. Bagaimana dengan air laut? Ibu Meyritha Maryanie, Corporate Communication Head PT Palyja mengatakan, Palyja memiliki teknologi untuk mengubah air laut menjadi air bersih namun kembali lagi, pasti akan memengaruhi harga tagihan air. Itulah sebabnya Palija mengusahakan cara lain agar harga air tetap ekonomis. Terbukti dari sejak Januari 2007 Ibu Meyritha mengatakan belum ada perubahan harga tarif hingga saat ini.
Air baku Jakarta yang sedemikian tercemar disebabkan kurangnya pengelolaan limbah industri dan kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah ke sungai. Ibu Irma selaku Deputi Direktur Operasi Pelayanan Palyja menyatakan kalau Palyja juga memiliki teknologi pre-treatment untuk mengolah air Jakarta menjadi air baku yang layak untuk diolah menjadi air bersih. Teknologi ini sangat diperlukan apabila terjadi penurunan pasokan air dari waduk Jatiluhur.
Pre-treatment ini terdiri dari dua yaitu metode biofiltrasi dengan memanfaatkan bakteri alami dalam pengolahan proses pengolahan air yang terletak di IPA Taman Kota dan teknologi Moving Bed Bio-Film Reactor (MBBR) di IPA Cilandak Kanal Banjir Barat. Teknologi ini memungkinkan Taman Kota untuk menghasilkan air bersih sejumlah 150 liter/detik dengan menggunakan air baku dari sungai Cengkareng Drain.

Sumber Air Baku Palyja (dok Palyja)
Palyja adalah operator air bersih pertama di Indonesia dan Asia Tenggara yang menggunakan teknologi MBBR. MBBR merupakan teknologi pengolahan bahan air baku dengan menggunakan partikel bernama “meteor” sebagai media tumbuh kembang mikroorganisme yang mampu mengurai amoniak, besi, mangan, dan detergen dalam air. Pre treatment IPA Taman Kota dan Cilandak ini memberi tambahan pasokan air bersih mencapai 400 liter/detik dengan sumber air berasal dari sungai Krukut.

Meteor yang merupakan media bagi bakteri alami yang mampu mengurai sampai 87% Amonia (dokpri)
Teknologi pengolahan air bersih yang diterapkan di IPA Taman Kota dan IPA Cilandak bukan berarti tidak mengalami kendala. Keadaan lingkungan yang tidak tertata bisa mempengaruhi proses produksi di kedua tempat tersebut. Misalkan karena turunnya permukaan darat akibat eksploitasi air tanah, maka saat musim kemarau panjang, air sungai menjadi surut sehingga permukaan air yang sedemikian rendah menyebabkan terjadinya aliran air laut menuju ke intake IPA Taman Kota yang hanya berjarak 8 kilometer dari laut.
Hal ini menyebabkan kadar garam yang terlalu tinggi untuk dijadikan bahan air baku sehingga produksi air menurun bahkan berhenti. Demikian juga IPA Cilandak yang sumber air bakunya berasal dari sungai Krukut. Musim kemarau mengakibatkan air semakin keruh dan pertambahan populasi menyebabkan kadar amonia dan detergen semakin hari semakin tinggi akibat jumlah populasi Jakarta yang bertambah. Bukan hanya musim kemarau yang bisa menurangi produktivitas Palyja, sebaliknya musim hujan juga bisa menganggu karena sebagian daerah IPA bisa saja terendam banjir sehingga tidak mungkin dipergunakan. Artinya keseimbangan alam sangat diperlukan dalam mendukung proses pengelolaan air bersih.
Selain mengelola air baku, Palyja juga berusaha menurunkan tingkat NRW (non revenue water) atau kebocoran produksi air sehingga tidak memberikan pendapatan tetap ke Palyja. NRW ini bukan hanya merugikan Palyja namun juga pelanggan karena NRW bisa menyebabkan pasokan air ke pelanggan berkurang. Kebocoran akibat fisik disebabkan oleh kebocoran pada pipa, sambungan rumah, dan pipa primer. Sebaliknya kebocoran non fisik disebabkan kerusakan alat meteran atau karena sambungan air yang ilegal.
Demi mengatasi kecocoran, tahun 2016 Palyja sudah melakukan rehabilitasi fisik dengan melakukan rehabilitasi jaringan sebesar 20 km, perbaikan kebocoran di 32.000 titik , dan pemutusan pipa ilegal 100 km. Metode yang digunakan adalah dengan gas helium 5000 km serta menggunakan metode kamera JD7 dan suara correlator mencapai 40 km. Adapun metode gas helium yang dilakukan Palyja ini merupakan implementasi dalam skala besar pertama di dunia.
Tidak hanya rehabilitasi fisik, Palyja juga melakukan rehabilitasi komersial dimana sampai tahun 2016 sudah mengganti meter yang anomali sebanyak 40.250 dan meter yang rusak karena usia sebanyak 32.000. Palyja juga sudah mengatasi kasus yang terdiri dari 3100 penyalahgunaan dan 1900 kasus sambungan ilegal. Terakhir, Palyja sudah menyusun MOU bersama Polda untuk proses penindakan bagi pelaku pencurian air. Usaha dan komitmen dalam mengatasi kebocoran dan mengurangi NRW yang sangat merugikan pelanggan dan Palyja ini membuahkan hasil yang baik dimana tingkat kebocoran fisik dan komersial yang sebelumnya 59,4% kini menurun menjadi hanya 39,3%. Saat ini, kapasitas produksi IPA Pejompongan sudah meningkat menjadi 8.800-9.200 liter/detik untuk menyuplai wilayah Jakarta Barat dan Utara. Palyja juga berupaya meningkatkan kualitas air bersih di jaringan dengan melakukan re-klorinasi di booster pump Grogol, Gajah Mada, dan Tubagus Angke.
Demi menambah kualitas dan kuantitas air bersih untuk pelanggan, Palyja memiliki tiga proyek tambahan yaitu proyek Fatmawati untuk mendistribusikan pasokan air dari IPA Pejompongan menuju pelanggan di selatan. Ada juga proyek Muara Baru yang bertujuan meningkatkan pasokan dari IPA Pejompongan ke wilayah Muara Baru. Terakhir adalah proyek Kuningan untuk meningkatkan layanan atas permintaan pelanggan potensial di wilayah Kuningan – Tebet. Selain itu, guna memonitor gangguan operasional dan kualitas air di IPA Pejompongan, Palyja memiliki Distribution Monitoring Control Center (DMCC) yang pertama di Indonesia. DMCC berfungsi untuk memonitor suplai distribusi (kualitas dan kuantitas) air Palyja non stop selama 24 jam dalam 7 hari.
Tambahan lain yang perlu diketahui mengenai Palyja saat ini adalah mengenai kerja sama yang dibentuk antara PAM Jaya dan pihak swasta dalam hal ini Suez dan Astratel. Kerja sama ini memberikan delegasi kepada Suez dan Astratel untuk mengelola air bersih dari PAM Jaya kepada pihak swasta. Bentuk kerja sama ini bukanlah upaya privatisasi karena saat masa kontrak berakhir, segala aset utlitas akan dikembalikan kepada PAM Jaya. Upaya kerja sama ini dilakukan dengan tujuan utama meningkatkan efetivitas dan produktivitas Palyja sebagai operator pengelola air bersih.

Pemegang saham Palyja saat ini adalah Suez dan Astratel (dok Palyja)
Aman Mengkonsumsi Air Palyja
Air yang diproduksi oleh Palyja aman dikonsumsi bahkan saya dan rombongan meminum air yang sudah selesai diolah tanpa dididihkan terlebih dahulu. Meneguk airnya mampu memberikan sensasi rasa segar di tenggorokan. Air ini tidak berasa, tidak berbau, dan jernih. Bila tidak diberitahukan oleh pihak Palyja, kami bahkan sama sekali tidak tahu kalau air tersebut adalah air hasil olahan langsung yang tanpa dimasak. Air yang sama aman untuk diminum bila telah tersalurkan di rumah masing-masing karena air telah melalui proses desinfeksi sehingga kuman-kuman di dalam air sudah dibunuh.
Namun, bila mengkonsumsi air yang di rumah, kami disarankan untuk mendidihkannya terlebih dahulu karena untuk mengalirkan air sampai ke rumah pelanggan melewati pipa yang cukup panjang yang mungkin di dalamnya ada pipa yang bosor atau rusak. Air Palyja sangat aman dikonsumsi karena sudah sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 416/MENKES/PER/IX tahun 1990 tentang syarat dan kualitas air.
Bila mencium aroma kaporit pada air, jangan khawatir karena kadar kaporit yang dimasukkan tidak melebihi kadar yang dianjurkan. Selain itu, menurut Ibu Meyrita justru kaporitlah yang berfungsi membunuh bakteri patogen. Demi menghilangkan bau kaporit sangat mudah, pelanggan dianjurkan untuk mendiamkan air keran selama 5-10 menit sehingga aroma kaporit menguap tanpa mengurangi kadar kebersihan air Palyja. Saya pun kini sadar kalau air keran dari Palyja itu ternyata higienis sehingga layak konsumsi. Selama ini saya berpikir air PAM hanya pantas dipakai untuk mandi dan mencuci saja sehingga untuk konsumsi dan masak saya menggunakan air kemasan.

Air hasil olahan Palyja aman dikonsumsi walau tanpa dididihkan (dokpri)
Ketersediaan Air Adalah Tanggung Jawab Bersama Palyja telah melakukan usaha yang maksimal dalam menyediakan pasokan air bersih. Namun kendala utama yang masih tetap dirasakan adalah masalah ketersediaan air baku. Krisis air baku ini tidak bisa diatasi sendiri oleh Palyja sehingga semua masyarakat dan seluruh stakeholder harus bersama-sama mendukung keberadaan air bersih dengan turut menjaga sungai yang adalah sumber utama air baku. Bila semua pihak bekerja sama maka ketersediaan air bersih akan semakin mudah diatasi.
Pemerintah sudah saatnya lebih ketat melakukan pengawasan terhadap cara pengelolaan dan daur ulang limbah industri sehingga kadar polutannya bisa dikurangi sebelum dibuang ke sungai. Pemerintah juga sebaiknya memberikan perhatian yang lebih atas perusahaan yang mengekplorasi sumber mata air agar perusahaan tersebut memperhatikan konservasi sumber mata air dalam jangka panjang. Developer perumahan harus diberikan peraturan tegas agar menyediakan taman perumahan dan lahan kosong sebagai tempat resapan air. Alangkah indahnya bila semua kepala daerah juga menyediakan hutan atau taman kota sehingga memberi kesempatan air hujan untuk meresap ke dalam tanah.
Peran masyarakan tidak kalah penting dalam menjaga ketersediaan air baku dengan membiasakan diri untuk membuang sampah hanya pada tempat yang disediakan. Hindari membuang sampah ke sungai karena itulah sumber air minum yang akan dikonsumsi. Gunakan satu gelas dalam satu hari untuk menghindari pencucian berulang-ulang.
Pada saat mandi, matikan keran air bila sedang menyikat gigi, sabunan, atau shampoan. Demikian pula saat mencuci piring, matikan keran bila tidak sedang membilas piring. Jika menyiram tanaman sebaiknya dari air cucian beras atau air tampungan hujan. Hindari menggunakan air keran untuk menyiram tanaman karena bentuk pemborosan. Bila ingin bepergian, sebaiknya membawa air minum dalam botol minuman yang bisa dipakai berulang-ulang untuk menghindari pembelian air minum kemasan. Kemasan air minum merupakan penghasil sampah yang membutuhkan ribuan tahun untuk terurai sempurna. Begitu pula saat menemukan ada keran air yang bocor maka secepatnya mengganti dengan yang baru. Sedapat mungkin hindari mandi dengan menggunakan bath tub karena air yang terbuang cenderung banyak. Lebih baik menggunakan ember kecil atau shower dengan catatan hanya dihidupkan saat membilas tubuh.

Bersama Mencegah Krisis Air Serunya acara tanya jawab Kompasianer dan Tim Palyja (dokpri)
Keramahan para narasumber yang sangat antusias menjawab pertanyaan para kompasianer yang demikian bertubi-tubi bagi saya adalah sebentuk semangat untuk menyadarkan saya dan kompasianer lain mengenai krisis air yang sedang melanda. Kunjungan lapangan ini ternyata tidak hanya memberikan pengetahuan baru namun menyadarkan akan pentingnya menghemat air. Indonesia dan dunia sedang berada dalam krisis air namun seolah tidak banyak yang menyadarinya. Wajar saja karena sering kali orang melihat air hanya dari segi benda yang bisa diperoleh di mana saja tanpa melihat dari mana sebenarnya asal air bersih tersebut.
Air merupakan penopang kehidupan manusia karena tiada yang bertahan hidup tanpa air. Ketersediaan air di dunia ini begitu melimpah ruah, namun yang dapat dikonsumsi hanya 5%. Memang kecanggihan teknologi mampu mengubah air sekeruh apa pun menjadi air minum. Permasalahannya siapkah kita membayar harga yang sangat mahal bahkan cenderung tidak terjangkau? Sekarang saja air kemasan satu liter sudah mendekati harga satu liter bensin sehingga besar kemungkinan air bersih kelak tidak bisa lagi dinikmati khalayak banyak. Oleh karena itu, mari bersama-sama mengambil peran menjaga kelestarian air bersih karena air itu mahal sehingga janganlah ia disia-siakan!
Salam sehat
Rahayu Damanik
“Artikel ini adalah opini dan pendapat dari penulis kompasiana dan dilombakan dalam kegiatan Kompasiana Nangkring Bersama PALYJA 21 Maret 2016″

Bersama demi Air” merupakan upaya PALYJA menginformasikan kepada publik mengenai beragam hal seputar pengelolaan air di Jakarta.
Tak semua orang beruntung mendapat pasokan air bersih. Di planet ini, ada miliaran orang yang tidak memiliki cukup air guna memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Kondisi itulah yang membuat PALYJA, salah satu operator penyediaan air bersih di Jakarta, mengadakan kampanye “Bersama demi Air” untuk membangun kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga, mengelola, dan memelihara ketersediaan air bersih secara arif. Kampanye ini sejalan dengan tema Hari Air Sedunia, “Water and Jobs”, yang menitikberatkan ketersediaan jumlah serta pasokan air berkualitas, yang dapat mempengaruhi kehidupan pekerja, bahkan dapat berdampak luas pada aspek ekonomi dan kemasyarakatan.
“Bersama demi Air” merupakan upaya PALYJA menginformasikan kepada publik mengenai beragam hal seputar pengelolaan air di Jakarta. Inilah langkah nyata operator pengelolaan air yang beroperasi di wilayah barat Jakarta tersebut untuk mengajak masyarakat membuat perbedaan yang nyata. Tidak hanya individu, tapi juga melibatkan peran serta masyarakat, yang tentu dampaknya akan lebih terasa.
Di Jakarta, kebutuhan air tiap-tiap penduduk ioo liter per hari. Dengan jumlah penduduk lebih dari 10 juta orang, kebutuhan air ini setara dengan 26.100 liter per detik. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan dengan kemampuan pasokan dua operator air bersih di Ibu Kota, yang tercatat hanya mampu memenuhi 17 ribu liter per detik. Artinya, masih ada defisit air bersih sebesar 9.100 liter per detik. Pasokan yang ada pun sebagian besar diambil dari sumber air baku di luar Jakarta. Hanya 3 persen yang diambil dari sungai-sungai di kota ini.
Kondisi itu menjadi tantangan bagi PALYJA, yang 94,3 persen air bakunya bersumber dari luar Jakarta dan hanya 5,7 persen dari Jakarta. Namun tantangan itu dijawab dengan sejumlah prestasi di antaranya meningkatkan akses jaringan air bersih dari 32 persen pada 1998 menjadi 73 persen pada 2015. Cakupan layanan, yang sebelumnya 32 persen pada 1998, meningkat jadi 60 persen pada 2015.
Tahun lalu, PALYJA juga menambah jaringan pipa hingga 1.100 kilometer dan melakukan penggantian pipa hingga seribu kilometer sehingga total jaringan menjadi 5.400 kilometer. Dengan penambahan jaringan ini, koneksi bertambah dari 201 ribu pada 1998 menjadi 404.769 koneksi pada 2015, serta volume air yang terjual dari 89,2 juta meter kubik menjadi 160,2 juta meter kubik.
Meski mampu menjawab tantangan, PALYJA tak lantas berpuas diri. Upaya menjaga pasokan dan kualitas air di Jakarta tetap harus dilakukan melalui edukasi kepada masyarakat. Pada peringatan Hari Air Sedunia 2016,
PALYJA melakukan beberapa kegiatan di antaranya Walk for Water bersama dengan karyawaPALYJAn dan para pemangku kepentingan di area Car Free Day Jakarta; menggalakkan kesadaran masyarakat untuk menaruh kepedulian atas ketersediaan air bersih di Jakarta bersama pemangku kepentingan lainnya, seperti PALYJA Green Community; kampanye simpatik di Jakarta pada 22 Maret bersama Dirjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat; serta mengedukasi siswa tentang pentingnya menjaga sungai sebagai salah satu sumber air baku, juga edukasi lingkungan untuk menjaga ketersediaan air, seperti biopori, sumur resapan, dan rainwater harvesting.
Sumber: Koran Tempo Edisi 23 Maret 2016 Halaman 25
Hidup itu adalah perjuangan. Kalimat ini yang ditandaskan oleh Diah Infusiyanti, Section Head Process Development and Optimization PT PAM Lyonnase Jaya (PALYJA), ketika ditemui disela-sela kesibukkannya mengecek kondisi air di kantornya yang terletak di pusat kota Jakarta. Di ruang kantornya yang berada di atas Instalasi Pengolahan Air (IPA) 2 PALYJA, Pejompongan, inilah Diah mengambarkan motto dalam hidupnya.
Perempuan lulusan Tekhnik Lingkungan, ITS, Surabaya ini sudah delapan tahun bekerja diperusahaan pelayanan air bersih bagi warga Jakarta. Perjuangannya dimulai ketika berada di divisi Jaringan. Tugasnya adalah mengontrol sambungan pipa yang bocor, retak, atau adanya aksi pencurian air. Tugasnya menjadi sangat penting agar air bersih untuk pelanggan dapat tersalurkan secara maksimal. “Tingginya tingkat kebocoran pipa mempengaruhi kualitas, kuantitas, dan kontinutitas aliran air ke rumah pelanggan. Ini membuat kami harus melakukan improvisasi untuk menjaga kualitas air olahan agar tetap sempurna,” tutur Diah.
Dengan bersemangat, Diah menceritakan project inovasi yang tengah di lakukan bersama Tim yakni project MBBR (Moving Bed Bio-Film Reactor) di Instalasi Pengolahan Air Cilandak. Jakarta yang dikelilingi 13 sungai, tidak diimbangi dengan kualitas air baku yang bisa diolah untuk menjadi air bersih. “Project (MBBR) ini berguna untuk mengolah air baku dari sungai krukut menjadi air bersih yang berkualitas” tandasnya.
Tidak banyak perempuan seperti Diah berkecimpung dalam bidang teknik yang membuatnya harus berurusan dengan pipa air setiap harinya. Hal ini tidak mengubah Diah menjadi sosok yang kaku, serius, dan misterius. Sebaliknya, perempuan bertubuh mungil ini hangat, ramah, dan selalu menampakkan wajah ceria, berpikiran terbuka dan mandiri.
Sosok Diah merupakan sosok Kartini yang memilih berjuang lewat keahliannya dibidang teknik lingkungan. Seperti pilihannya untuk hidup dan ingin berguna orang banyak. Dia bermimpi bahwa kelak warga Jakarta bisa mendapatkan air bersih secara kontinu setiap harinya. Impian sederhana inilah yang membuatnya tetap konsisten berjuang lewat profesinya.
Saatnya kita berjuang #BersamaDemiAir.








