Ikuti kompetisi lari berhadiah bersama PAM JAYA, AETRA, PALYJA, dan TRANSJAKARTA sekaligus memperingati Hari Air Dunia 2018.

Tempat & Waktu:
25 Maret 2018 / 06:00 – 10:00WIB
Sari Pan Pasific Hotel, Jakarta Pusat

Kategori:
2,5K – 50 Peserta
5K – 150 Peserta

Hadiah
2,5K
Juara I : 2,5 Juta Rupiah
Juara II: 1,5 Juta Rupiah
Juara III: 1 Juta Rupiah
5K
Juara I : 5 Juta Rupiah
Juara II: 3 Juta Rupiah
Juara III: 2 Juta Rupiah

KONTAK PENDAFTARAN: UCI P: +62817175208 E: runforwaterID@gmail.com

Formulir Pendaftaran-Run for Water

Jakarta mengalami banyak perubahan untuk berpacu dalam era globalisasi di abad ke-21. Pembangunan berkembang pesat, ditandai dengan munculnya berbagai gedung baru di lokasi ekonomi strategis. Pergerakan ekonomi semakin menawarkan kemewahan di beberapa sudut kota. Sesekali lewat minibus warna hijau dan oranye yang melaju kencang dan ganas, meninggalkan asap hitam pekat yang menambah sesak perkotaan ini. Kendaraan roda dua telah memenuhi hampir setiap tempat.

Aldona

Foto bersama anak-anak di komunitas Saung Pustaka Air Depok

Pusat-pusat hiburan mewarnai gemerlap malam kawasan elit, mirip ramainya dengan Times Square di kota New York yang sempat saya nikmati pada liburan musim semi dua tahun lalu. Papan iklan besar menjulang, menyilaukan mata sembari memamerkan produk ternama dunia. Inilah kota metropolitan terbesar di Asia Tenggara, Ibukota negara. Kota yang berpenghuni lebih dari sembilan juta manusia dengan berbagai cerita di dalamnya. Banyak orang yang datang ke kota ini untuk menyambung kehidupan, sekalipun harus tidur di rumah petak berdesak-desakan dengan manusia lainnya. Bahkan tidur dalam sebuah gerobak berjalan. Sorot modernitas dan kemelaratan memang sering terlihat di kota besar ini.

Lahan hijau kini berkurang, penurunan muka tanah terlihat dari gedung perkantoran yang bergeser di daerah Thamrin. Banyak rumah saling berdempetan di bantaran sungai atau pinggiran rel kereta api. Sumber air tanah mengalami instrusi air laut sehingga tidak dapat digunakan sebagai sumber air bersih. Sungai-sungai di kota Jakarta pun berwarna coklat hingga kehitaman dengan bau yang tidak sedap. Belum lagi kemacetan dan permasalahan banjir. “Unplanned City” adalah kota yang tidak terencana, sebutan untuk kota Jakarta ini berasal dari seorang peneliti muda asal Amerika Serikat bernama Braden Bernards yang saya temui dalam presentasi penelitiannya terkait dengan ruang publik di Jakarta beberapa bulan lalu.

Sekarang ini saya memasuki tahun ke tiga bekerja di laboratorium pusat PALYJA, di bawah Departemen Water Quality. Pengalaman yang membawa saya melihat sisi lain dari sebuah kota besar, yaitu kualitas air Jakarta. Pencemaran sumber air oleh bakteri sudah jauh dari ambang batas, konsentrasi zat amonia (NH3) meninggi di musim kemarau. Kadar deterjen dalam air mengalami peningkatan besar pada periode tertentu, sungai-sungai di Jakarta termasuk dalam kategori tercemar sehingga terbukti bahwa lebih dari 50% sumber air Jakarta berasal dari luar kota.

Degradasi lingkungan akibat peningkatan kegiatan manusia berpengaruh terhadap ekosistem di sekitarnya, salah satu dari dampak yang ditimbulkan adalah pencemaran sumber air . Hal ini termasuk karena kurangnya suatu sistem pengolahan air limbah kota,yakni hanya 10% persen yang baru bisa diolah oleh PD PAL Jaya sebagai badan pengelola air limbah kota.

Dalam diskusi yang pernah saya hadiri di simposium pertama Water and Urban Initiative: Sustainable Urban Water Environment pada bulan Maret 2016 lalu, para ahli menjelaskan bahwa tantangan terhadap kualitas air di Indonesia semakin besar, khususnya di kota Jakarta. Simposium ini dihadiri oleh berbagai ahli dari sektor pemerintahan, non-pemerintahan, dan akademisi. Sebagai upaya kerja sama pemerintah Indonesia dengan United Nations University- Institute for Advanced Study of Sustainibility Jepang dalam mengatasi permasalahan perkotaan melalui beberapa contoh kasus dan studi banding, maka tercipta peluang untuk mengembangkan teknologi pengolahan sumber air.

Dalam simposium tersebut, Tjandra Setiadi, guru besar sekaligus kepala Pusat Lingkungan Hidup (PSLH) Institut Teknologi Bandung mengatakan bahwa Indonesia memiliki potensi sumber daya air yang besar, yakni sebanyak 6 % dari sumber air dunia, sehingga ini dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk mengembangkan teknologi pengolahan air di masa depan. Tjandra menjelaskan hubungan antara ketersediaan dan permintaan air yang belum tercapai merupakan tantangan terbesar bagi Indonesia.

Tantangan serupa juga kini dihadapi oleh perusahaan pengelola air bersih seperti PAM Jaya dan PALYJA. Dua perusahaan ini hanya mampu menyediakan 17.000 liter/detik air bersih dari 26.100 liter/detik yang dibutukan di Jakarta, sehingga kini Jakarta mengalami defisit air bersih sebanyak 9.100 liter/detik. Tantangan tersebut memacu untuk terus melakukan inovasi, salah satunya dengan pengembangan teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) yang telah dikembangkan PALYJA di Instalasi Air Baku Banjir Kanal.

Berhadapan dengan realita permasalahan Ibukota menyadarkan saya pentingnya kepedulian terhadap tiga pilar utama pembangunan bangsa, yakni  perekonomian, sosial, dan lingkungan. Kualitas sumber daya air mempengaruhi kualitas kesehatan masyarakat dan produktivitas manusia. Ketahanan air di Jakarta yang mengkhawatirkan menjadi motivasi saya untuk menekuni bidang lingkungan hidup, terutama di bidang sumber daya air. Ketersediaan air masa depan ditentukan oleh perilaku manusia pada masa kini, menjaga kualitas sumber daya air Jakarta memerlukan kesadaran dan kepedulian dari berbagai pihak untuk bertindak. Air bersih dapat menjadi barang langka apabila sumbernya semakin dicemari.

Kaum muda memiliki peranan penting sebagai penggerak kepedulian terhadap lingkungan. Keadaan ini mendorong saya untuk bergabung di beberapa komunitas peduli lingkungan untuk mempelajari penanganan yang dapat dilakukan dalam tingkat masyarakat lokal, seperti Komunitas Peduli Ciliwung (Ciliwung River Community) yang berada di beberapa titik di bantaran hulu sampai hilir sungai Ciliwung yang melintasi kota Bogor dan Jakarta. Dalam komunitas ini, generasi muda dapat terlibat langsung dalam kegiatan membersihkan sungai dan mengkampanyekan gerakan sungai bersih di beberapa daerah perkampungan agar masyarakat tidak membuang sampah ke sungai.

Di sela waktu libur, saya juga mengajak beberapa teman untuk mengambil bagian di komunitas Saung Pustaka Air yang dikembangkan oleh relawan-relawan muda di daerah Depok. Saung ini berupa taman baca sekaligus sarana edukasi lingkungan, taman bermain dan tempat kreativitas bagi anak-anak yang tinggal di bantaran sungai Ciliwung. Dalam komunitas seperti ini, siapapun berkesempatan untuk berbagi ilmu dan pemahaman tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sungai kepada anak-anak. Kepedulian yang ditanamkan kepada anak-anak dapat menjadi awal untuk menciptakan generasi peduli terhadap sumber daya air di sekitar kita.

Kita dapat menanamkan kepedulian terhadap air Jakarta dengan memberikan informasi kepada orang lain. Misalkan saja, saat saya sedang menaiki ojek di Jakarta, terutama ketika sedang melewati salah satu sungai yang baunya sangat menyengat, saya selalu menyempatkan bercerita kepada supir tentang permasalahan pencemaran air di Jakarta. Saya selalu berpesan agar mereka pun peduli terhadap air bersih di rumah dengan selalu menghemat penggunaanya dan melaporkan apabila mengetahui terjadinya pencurian air bersih di Jakarta. Ada beberapa hal sederhana yang dapat kita lakukan untuk peduli terhadap air Jakarta. Semua aksi tersebut dimulai dari inisiatif dalam mempelajari isu di sekitar kita, yakni ikut dalam berbagai kesempatan diskusi, mengambil bagian dalam kegiatan konservasi dan edukasi sumber daya air, serta mengajak orang-orang terdekat ikut ambil bagian di dalamnya, sehingga kepedulian tersebut selalu menjadi bagian dari kehidupan.

Juara I Lomba Menulis PAM Jaya 2016
Aldonna Purba
Staff Analis laboratorium pusat PALYJA

Saya siswa kelas 4 yang bersekolah di SD Pangudi Luhur Jakarta. Saya dan teman saya memiliki pengalaman tentang air yang  menyelamatkan ,dan bagaimana cara kami menyelamatkan air. Di PALYJA kami belajar tentang air yang menguntungkan. Air sangat menyelamatkan dan menguntungkan bagi seluruh kehidupan manusia. Tetapi jangan salah, air tidak selalu menguntungkan tetapi juga seringkali merugikan bagi kehidupan.

Pada suatu hari di suatu kelas empat terdapat seseorang yang bernama Doni, bertanya kepada gurunya, “Bu, mengapa air disebut menyelamatkan?” Lalu Bu Guru menjawab “ Karena air telah menyelamatkan kehidupan manusia .” Lalu seorang teman bernama Ixora berkata “ Maka itu air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia.” Lalu Bu Guru meminta Ixora untuk menceritakan pengalamannya tentang air menyelamatkan kita. Ixora langsung maju dan menceritakan pengalamannya tentang air yang menyelamatkan kita.

image-Air-Sahabat-dan-Lawan

Ixora menceritakan pengalamannya. Ixora menceritakan bahwa dia pernah berolahraga keliling komplek 3 kali, di tengah perjalanan Ixora sangat kehausan. Tetapi dia lupa membawa minum untuk berolahraga. Kemudian dia mencari – cari uang yang dia bawa di saku celananya. Setelah mencari – cari, uang Ixora pun ketemu. Sambil berolahraga Ixora mencari – cari warung yang menjual minum. Tak disadari bahwa Ixora sudah sampai di depan rumahnya dia langsung bergegas mencari botol minumnya, lalu minum. Kemudian bel sekolah pun berbunyi. Bu Guru memberikan tugas kepada murid – muridnya untuk membuat pengalaman tentang air yang menguntungkan dan tentang air yang merugikan. Setiap anak nantinya akan maju untuk menceritakan besok.

Keesokan harinya di sekolah anak-anak menceritakan pengalamannya tentang air. Doni menceritakan bagaimana cara kita menyelamatkan air supaya air juga dapat menyelamatkan kita. Doni menceritakan pengalaman adiknya yang selalu membuang sampah ke sungai. Sehingga pada suatu hari berikutnya air sungai meluap dan terjadilah banjir, sehingga rumah Doni terendam banjir. Kemudian Doni memberi keterangan bahwa kita harus menyelamatkan air terlebih dahulu supaya air juga mau menyelamatkan kita.

Kemudian giliran Shinta menceritakan air yang merugikan/sebagai lawan kita. Shinta menceritakan tentang tsunami yang sering terjadi di Jepang. Shinta menjelaskan bahwa tsunami bukan terjadi oleh manusia, melainkan karena peristiwa gempa yang terjadi di bawah air. Tetapi, terkadang bencana yang disebabkan manusia dapat terjadi, yaitu seperti : banjir. Bel istirahat pun berbunyi.

Setelah beristirahat, teman selanjutnya yang bernama Jo mulai bercerita. Jo sangatlah menyukai air karena air sangatlah menguntungkan dan mengasyikkan bagi Jo. Sampai – sampai Jo sangat rajin mandi pagi dan sore hari. Jo juga suka menyiram tanaman sebelum mandi. Jo juga suka sekali meminum air putih, setiap Sabtu Jo juga berenang, dan dia suka main hujan – hujanan pada waktu musim hujan. Jo pun berkata “ bahwa air sangatkah penting dan menguntungkan bagiku. “ Kemudian Jo kembali ke tempat duduknya.

Kemudian Bu guru berkata “ Walaupun air sangat menyenangkan, tetapi kita harus bisa menghemat pemakaian air”. Gunakan air seperlunya agar air yang berada di bumi kita tidak cepat habis. Karena air juga sangat diperlukan oleh generasi yang akan datang.

Kita juga harus mengingat saudara – saudara kita yang kurang beruntung yang tinggal di daerah tandus atau di daerah dataran tinggi/pengunungan yang sedikit airnya dan menampung air hujan untuk keperluan sehari – hari jika air tadah hujan tidak mencukupi, mereka membeli air yang di pasok dari tangki – tangki mobil.

Kita yang hidup di kota sangat bersyukur dengan adanya PDAM yang dikelola oleh PALYJA. Dengan adanya PDAM kita bisa mendapatkan air yang cukup dan bersih karena sudah diproses melalui beberapa kali penyaringan. Kita bisa mandi dengan bersih, bisa menyiram tanaman dengan teratur sehingga tanaman kita tumbuh subur, dapat mencuci mobil, motor dan sepeda kita apabila kotor dan yang terpenting kegiatan memasak air di dapur dapat terlaksana dengan baik.

Pada tanggal 2 Mei – 2 Juni, kelas 6 SD Pangudi Luhur Jakarta, memiliki pengalaman melakukan acara di Green Canyon Pangandaran. Siswa kelas 6 sangat semangat melakukan kegiatan rafting menyusuri Sungai Cijulang yang air sungainya sangat sejuk dan segar. Airnya bersih bebas dari polusi dan tidak terlihat adanya sampah di sungai. Pemandangan alamnya pun sangat indah. Air jika kita jaga dengan baik akan menjadi sahabat kita yang menyenangkan. Pada tanggal 4 Juni, sekolah Doni, Ixora, Shinta dan Jo Libur. Bu guru ingin mengetahui apa yang dilakukan murid – muridnya pada waktu libur. Jadi, Bu Guru memberikan tugas pada murid – muridnya untuk menceritakan pengalamannnya saat liburan di sebuah kertas.

DSC_0090_1920x1080

Pada waktu liburan, Jo pergi ke tempat wisata di kota yang menggunakan sarana air yang biasa disebut waterboom. Selain berenang, waterboom juga menyediakan wahana permainan yang bisa dinikmati anak – anak maupun orang dewasa, antara lain : speed slide, kiddy slides dll. Jo sangat senang berlibur ke Waterboom. Jo menulis pengalaman liburannya di selambar kertas dengan amat senang. Menurut Jo kita harus menjaga alam salah satunya kita harus menjaga hutan agar tidak menjadi gundul, agar kandungan air di dalamnya bisa terjaga dan juga untuk mencegah terjadinya banjir.

Ixora juga pernah berlibur dengan keluarganya di Gua Maria Sendangsono terpatnya di Kabupaten Kulon Progo yang berada di daerah Istimewa Yogyakarta(DIY). Gua Maria Sendangsono memiliki air yang berlimpah, bersih, sejuk dan segar yang bisa dialirkanke banyak saluran air keran. Biasanya yang berkunjung ke tempat itu adalah umat beragama Katolik untuk berdoa pada Bunda Maria dan mengambil air suci. Air tersebut sudah diperiksa oleh laboratorium bahwa air tersebut aman dikonsumsi secara langsung oleh pengunjung.

Doni dan Shinta libur tidak pergi kemana – mana. Doni di rumah saja karena Doni memiliki hobi memelihara ikan di kolam di halaman belakang rumahnya. Agar ikan peliharaannya tumbuh dengan baik dan sehat, maka diperlukan air yang mengalir terus menerus dan jernih. Shinta tidak berlibur ke mana – mana, tetapi hanya di rumah Shinta ingin menjaga kebersihan rumah, air dan menjaga tumbuhannya agar tidak layu, dengan cara bekerja bakti bersama dengan keluarganya.

SD Pangudi Luhur Jakarta kelas 4 pernah melakukan wisata ke PALYJA. Murid – murid sangat senang berkunjung ke PALYJA. Murid – murid mendapatkan penjelasan tentang PALYJA. PALYJA hadir di Jakarta untuk meningkatkan penyediaan dan pelayanan air bersih kepada masyarakat di wilayah bagian barat DKI Jakarta sejak 1 Februari 1998. PALYJA merupakan bagian dari Suez – Perancis, yang bergerak di bidang air, limbah, peralatan yang terkait dalam kehidupan sehari – hari dan dengan tingkat pelayanan yang tinggi dan dengan menyediakan air bersih dengan kualitas yang baik melalui proses yang unggul.

Sejak tahun 1998, PALYJA berhasil meningkatkan akses air bersih menjadi lebih dari 405 ribu sambungan bagi lebih dari tiga juta penduduk di wilayah Barat Jakarta. Selesai acara kunjungan, murid – murid mendapatkan souvenir, ada tempat pensil, bloknote dan pembatas buku. Murid – murid pun pulang dengan perasaan gembira. “ Marilah kita bersama – sama menjaga air, karena air adalah sumber kehidupan manusia.

Maria Ellora Damarkasih – SD Pangudi Luhur
Juara 1 Lomba Menulis Tingkat SD 2016

Sebanyak 13 sungai ada di Jakarta. Namun, hanya dua sungai yang dapat digunakan sebagai sebagai air baku, yaitu Kali Krukut dan Sungai Cengkareng Drain. Itupun dalam kondisi kualitas yang semakin lama semakin berkurang.

SUNGAI Cengkareng Drain yang terletak persis di seberang stasiun pompa RW 04,  Kembangan Utara membentang di depan mata. Intake (pintu masuk air) Cengkareng Drain, sebagai sumber bahan baku air bersih Instalasi Pengolahan Air Bersih (IPA) Taman Kota, ada di dekat tembok samping sungai.

Di pinggir sungai sebelah kanan intake, terlihat seorang bapak memegang alat pancing. Di sebelah kiri intake, asap putih dari bakaran sampah masih mengepul. Pengukur ketinggian air sungai berdiri memancang. Air sungai berwarna terlihat cokelat pekat.

Untuk mencegah intrusi, PALYJA memasang alat pendeteksi air laut di pada pintu air (intake) yang dinamakan Total Dissolve Solid (TDS) Online Analyzer (dokpri)
Untuk mencegah intrusi, PALYJA memasang alat pendeteksi air laut di pada pintu air (intake) yang dinamakan Total Dissolve Solid (TDS) Online Analyzer (dokpri)

Sungai Cengkareng Drain, meskipun menjadi salah satu dari dua sungai yang dapat digunakan sebagai bahan baku air bersih di Jakarta, tidaklah bisa dibilang bersih. Penuh polutan. Kadar amonia yang tinggi, tercemar deterjen, mangan, dan limbah rumah tangga, membuat kualitas air sungai Cengkareng Drain jelek.

“Tiap hari, setiap pagi dan sore, ada yang menyelam untuk mengambil sampah-sampah yang ada di sungai Cengkareng Drain,” kata Febri, petugas dari IPA Taman Kota, yang menemani Kompasiana Visit di IPA Taman Kota, 3 November lalu.

Selain masalah polutan pencemaran air, Cengkareng Drain yang hanya 5 km dari laut menghadapi masalah intrusi atau air laut masuk ke daratan (dokpri)
Selain masalah polutan pencemaran air, Cengkareng Drain yang hanya 5 km dari laut menghadapi masalah intrusi atau air laut masuk ke daratan (dokpri)

Menurut Febri, tidak hanya masalah pencemaran air sungai saja yang mencapai 8 ppm dari seharusnya hanya 1 ppm. Air baku dari intake yang berjarak sekitar 1,5 KM dari  IPA Taman Kota juga rentan dengan air laut yang masuk ke daratan (intrusi). Biasanya hal ini terjadi pada musim kemarau karena arak dengan laut yang hanya 5 KM saja.

Air laut menjadi hambatan dalam proses pengolahan air bersih di IPA Taman Kota. Air laut dapat membunuh mikroorganisme alami yang digunakan dalam teknologi Biofiltrasi. Teknologi yang dikembangkan oleh PALYJA pada tahun 2012.

ipa7-582f3a3bd77e6147151d71ca.jpg
ipa7-582f3a3bd77e6147151d71ca.jpg

Untuk mendeteksi air laut di pintu masuk air (intake) menuju instalasi, PALYJA memasang alat yang bernama Total Dissolve Solid (TDS) Online Analyzer. Dengan alat itu, saat air laut menyentuh intake, kelangsungan operasional di IPA Taman Kota segera dihentikan.

Kunjungan ke intake sungai Cengkareng Drain merupakan rangkaian terakhir Kompasiana Nangkring di IPA Taman Kota selama satu hari, yang bertema Optimasi Instalasi dengan Pengembangan Teknologi sebagai Solusi Defisit Air Bersih di Jakarta. Sebelumnya, para kompasianer berkeliling melihat proses pengolahan air di IPA Taman Kota dan mengikuti penjelasan di IPA Pejompongan.

Dengan adanya TDS di Intake berjarak 1,5 KM dari IPA Taman Kota, maka tindakan pencegahan air laut masuk ke bak mikrooganisme alami dapat dicegah (dokpri)
Dengan adanya TDS di Intake berjarak 1,5 KM dari IPA Taman Kota, maka tindakan pencegahan air laut masuk ke bak mikrooganisme alami dapat dicegah (dokpri)

Defisit Air Bersih Tak Bisa Menunggu

Budi Susilo, Direktur Customer Service PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) mengungkapkan, ketersediaan air bersih yang layak untuk warga Jakarta sangatlah penting. Manusia tidak akan bisa hidup tanpa adanya air bersih. “Kita tidak akan kuat kalau tidak minum,” ujarnya saat pemaparan kepada kompasianer di IPA Pejompongan.

Namun sayangnya, kata Budi, jumlah yang ada pun tidak cukup. Survei PAM Jaya yang dilakukan bersama 2 operator air bersih, yakni PALYJA dan AETRA menunjukkan adanya defisit ketersediaan air sebesar 9.100 liter per detik.

Budi Susilo, Direktur Customer Service PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) mengatakan, air bersih merupakan kebutuhan hidup dasar manusia yang tidak bisa menunggu (dokpri)
Budi Susilo, Direktur Customer Service PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) mengatakan, air bersih merupakan kebutuhan hidup dasar manusia yang tidak bisa menunggu (dokpri)

PALYJA dan AETRA hanya mampu menghasilkan 17.100 liter air per detik, dari kebutuhan air bersih di Jakarta yang mencapai 26.100 liter per detik. Dengan jumlah penduduk yang tinggal di Jakarta mencapau sekitar 10 juta orang, konsumsi air bersih yang dibutuhkan mencapai 100 liter/hari/orang.  Akses air bersih hanya 73,23 % dengan cakupan pelayanan 60 %.

Menurut Meyritha Maryanie, Corporate Communicatuins and Social Responsibility Division Head PALYJA, air baku memegang peranan. Dari keseluruhan total air bersih, sumber air bakunya berasal dari sungai Jakarta (5,7 %) yakni  Sungai Cengkareng Drain (1,7%) dan Kali Krukut (4%). Sementara dari luar kota (94,3%), berasal dari Waduk Jatiluhur (62,5%),  membeli dari PDAM Tangerang, yakni  IPA Serpong (31%), dan Cikokol (0,8%).

Meyritha Maryanie, Corporate Communications and Social Responsibility Division Head PALYJA mengatakan ketersediaan air baku untuk pengolahan air bersih sangat penting (dokpri)
Meyritha Maryanie, Corporate Communications and Social Responsibility Division Head PALYJA mengatakan ketersediaan air baku untuk pengolahan air bersih sangat penting (dokpri)

Pasokan air tersebut jumlahnya tidak bertambah sejak tahun 1998. Pasokan air malahan kadang terganggu limbah ataupun bencana alam tanggul longsor karena merupakan saluran terbuka, seperti di Kanal Tarum Barat (Kalimalang) yang menjadi saluran distribusi air baku Waduk  Jatiluhur.Di sisi lain, defisit air bersih tidak bisa menunggu lama. Air bersih merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus segera dipenuhi.

Optimalkan Produksi dengan Pengembangan Teknologi  

Mengoptimalkan produksi air bersih di instalasi pengolahan air bersih (IPA) menjadi pilihan PALYJA mengingat kondisi dan ketersediaan air baku yang terbatas. Inovasi berbagai teknologi pun dikembangkan. Salah satunya yang dilakukan di IPA Taman Kota dengan menggunakan teknologi Biofiltrasi.

Selain IPA Taman Kota sebagai tempat pengolahan air baku menjadi air bersih dengan produksi 150 liter per detik, PALYJA memiliki 3 IPA lain, yakni IPA 1 Pejompongan (2.000 liter/detik), IPA 2 Pejompongan (3.600 liter/detik), dan IPA Cilandak (400 liter/detik).

Untuk tempat penampungan air bersih sementara yang berasal dari PDAM Tangerang terdapat Distribution Central Reservoir (DCR) 4 sebanyak 2.000 liter/detik dan DCR 5 sebanyak 1.000 liter/detik. Juga terdapat instalasi pengambilan air baku Kanal Banjir Barat (5500 liter/detik).

PALYJA memiliki Distribution Monitoring Control Center (DMCC) sebagai pusat kontrol online yang dapat memonitor pasokan air baku dan air bersih ke pelanggan selama 24 jam, 7 hari seminggu (dokpri)
PALYJA memiliki Distribution Monitoring Control Center (DMCC) sebagai pusat kontrol online yang dapat memonitor pasokan air baku dan air bersih ke pelanggan selama 24 jam, 7 hari seminggu (dokpri)

IPA yang ada di Jakarta, kata Meyritha Maryanie, Corporate Communications and Social Responsibility Division Head PALYJA, sudah tidak muda lagi usianya sehingga sistem pengolahan air konvensional tidak lagi bisa diandalkan untuk operasional produksi.

Dijelaskannya inovasi teknologi terkini ada di instalasi pengambilan air baku kanal banjir barat, yang diresmikan bulan Mei 2015 oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) mampu meningkatkan kapasitas produksi IPA Pejompongan dari 8.800 liter/detik menjadi 9.200 liter per detik. Teknologi ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara dan Indonesia di bidang pengolahan air, yang menggunakan mikroorganisme alami.

Bagaimana dengan pengolahan air di IPA Taman Kota? Teknologi yang dikembangkan dengan nama Biofiltrasi telah membuat IPA Taman Kota dapat beroperasional kembali pada tahun 2012.  Sebelumnya, IPA Taman Kota sejak tahun 2007 tidak dapat beroperasi karena kualitas air sungai Cengkareng Drain yang sangat buruk dengan kandungan amonium yang tinggi.

Enam Tahapan Proses Pengolahan Air di IPA Taman Kota

Teknologi Biofiltrasi berhasil dikembangkan oleh PALYJA bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dengan supervisi dari SUEZ selaku induk perusahaan yang memegang saham sebesar 51 %, selain Astratel Nusantara (Astra International) sebanyak 49 %.

Kunjungan ke IPA Taman Kota telah membuka wawasan mengenai enam tahapan proses pengolahan air yang dilakukan. Febri, salah seorang petugas IPA Taman Kota dengan telaten menjelaskan tahapan-tahapannya. Para kompasianer, termasuk saya menggunakan helm berwarna hijau, dibagi dua rombongan untuk mengelilingi IPA Taman Kota.

Enam tahapan proses pengolahan air di IPA Taman Kota, yakni

1. Penerimaan air baku

Sumber air baku untuk IPA Taman Kota berasal dari Sungai Cengkareng Drain. Jarak intake (pintu masuk) ke Cengkareng Drain sekitar 1,5 KM. Kondisi air sungai Cengkareng Drain penuh polutan, yakni mengandung kadar amonia tinggi, deterjen, dan limbah rumah tangga.

Melalui intake (pintu masuk) Sungai Cengkareng Drain inilah air bahan baku IPA Taman Kota berasal (dokpri)
Melalui intake (pintu masuk) Sungai Cengkareng Drain inilah air bahan baku IPA Taman Kota berasal (dokpri)

2. Proses koagulasi dan flokulasi

Saat di IPA Taman Kota, terdapat bak-bak penampungan air yang memiliki fungsi masing-masing sebagai bagian proses pengolahan air bersih.Inilah bak pertama. Koagulasi merupakan proses pengadukan cepat dengan menggunakan koagulan (zat kimia tertentu) agar partikel-partikel padat dalam air saling berbenturan dan membentuk flok-flok (gumpalan halus).

Selain itu juga dilakukan flokulasi, yaitu proses pengadukan lambat yang tujuannya memperbesar ukuran flok (gumpalan) sehingga dapat lebih mudah mengendap dikarenakan perbedaan berat jenis.

Proses koagulasi dan flokulasi menggunakan koahulan dilakukan di bak pertama (dokumentasi)
Proses koagulasi dan flokulasi menggunakan koahulan dilakukan di bak pertama (dokumentasi)

3. Sedimentasi dan Pengendapan

Pada bak selanjutnya, dilakukan proses pemisahan lumpur dan air bersih dengan bantuan plate settler untuk mempermudah pengendapan.

4. Biofiltrasi

Pada bak selanjutnya dilakukan Biofiltasi, yang merupakan proses removal polutan amonium, detergen, dan mangan dengan menggunakan mikroorganisme alami yang hidup dalam air. Mikroorganisme alami dalam teknologi Biofiltrasi hidup dalam pada lapisan biofilm yang ada dalam media crosspack. Untuk menjaga mikroorganisme tetap hidup dan bekerja efektif dalam meremoval polutan, digunakan blower dan difusser untuk menghembuskan dan menjaga kandugan oksigen terlarut.

5. Fitltrasi (Penyaringan)

Proses yang dilakukan untuk menyaring sisa partikel yang kemungkinan masih terbawa dalam air bersih keluaran dari Biofilter dengan menggunakan medua penyaring pasir silika Untuk menjaga fungsi pasir silika dalam kondisi 100 % sebagai media penyarigan, maka dilakukan proses backwash setiap 24 jam sekali.

6. Desinfeksi

Proses terakhir desinfeksi merupakan proses removal bakteri dengan menggunakan zat kimia chlorine dengan durasi waktu 1 jam. Tidak semua chlorine hilang dalam proses ini. Tetap disisakan sesuai peraturan yang berlaku agar dalam distribusi air bersih ke pelanggan juga proses removal bakteri terus berjalan, sehingga air bersih dapat dikonsumsi, sesuai dengan Permenkes no 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

Setelah proses koagulasi dan flokulasi dilakukan proses sedimentasi dan pengendapan untuk pemisahan lumpur (dokpri)
Setelah proses koagulasi dan flokulasi dilakukan proses sedimentasi dan pengendapan untuk pemisahan lumpur (dokpri)
Proses biofiltrasi dengan menggunakan mikroorganisme alami yang hidup dalam air untuk menghilangkan polutan amonium, detergen, mangan, dan limbah rumah tangga (dokpri)
Proses biofiltrasi dengan menggunakan mikroorganisme alami yang hidup dalam air untuk menghilangkan polutan amonium, detergen, mangan, dan limbah rumah tangga (dokpri)
Tahapan proses pengolahan air di IPA Taman Kota, yakni penerimaan air baku, koagulasi dan flokulasi, sedimentasi dan pengendapan, biofiltrasi, filtrasi/penyaringan, dan desinfeksi (dokpri)
Tahapan proses pengolahan air di IPA Taman Kota, yakni penerimaan air baku, koagulasi dan flokulasi, sedimentasi dan pengendapan, biofiltrasi, filtrasi/penyaringan, dan desinfeksi (dokpri)

Tahapan proses yang ditunjukkan di IPA Taman Kota menyadarkan saya jika untuk memperoleh air bersih tidaklah mudah akibat pencemaran yang terjadi. Bahkan membutuhkan biaya yang mahal, seperti kata Budi Susilo, Direktur Customer Service PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA)

 Vita Chandra Dewi, Kepala IPA Taman Kota, yang tengah hamil tua dan saat visit Kompasiana merupakan hari terakhirnya bekerja sebelum cuti mengatakan, menjaga air sungai tetap bersih sangat penting meskipun adanya teknologi canggih untuk mengolah air bersih.

Dikatakannya, program pembersihan 13 sungai yang dijalankan Pemda Jakarta terbukti cukup membantu untuk mengurangi kadar limbah air sungai. Jadi, yuk jaga sungai dari limbah dan kotoran agar ketersediaan air bersih untuk warga Jakarta selalu terjamin.

@riapwindhu

Sumber : http://www.kompasiana.com/riapwindhu/mengungkap-teknologi-palyja-untuk-solusi-air-bersih-jakarta-di-ipa-taman-kota_582f3367ae7a614e173912b1