Arsip: Bersama Demi Air
Bersama Demi Air
Bisnis.com, Jakarta – PT PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA), operator penyediaan dan pelayanan air bersih untuk wilayah Barat DKI Jakarta, merayakan hari jadinya yang ke 23 tahun. Pengelolaan air bersih di wilayah Barat DKI Jakarta oleh PALYJA sejak tahun 1998 hingga saat ini telah berhasil meningkatkan jumlah sambungan air, dari 201.000 menjadi lebih dari 400.000 sambungan air.
Adapun total jaringan mencapai 5.497 km dan jumlah penduduk yang terlayani sebesar 3,2 juta jiwa, termasuk di dalamnya Masyarakat Berpenghasilan Rendah yang meningkat menjadi kurang lebih sebesar 250 ribu jiwa. Menurut sampling yang dilakukan, sebanyak 90 persen pelanggan menyatakan puas dengan pelayanan dari PALYJA.
Presiden Direktur PALYJA, Robert Rerimassie mengatakan dengan kinerjanya selama ini, PALYJA saat ini merupakan salah satu perusahaan terbaik dalam pelayanan di bidang air minum dan air bersih.
“Pencapaian dan keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan seluruh karyawan dan manajemen, pelanggan, serta seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya dikutip dari keterangan tertulisnya. Dia juga memaparkan PALYJA telah berinvestasi dan berinovasi untuk memaksimalkan pelayanan air bersihnya dengan meng-upgrade fasilitas produksi, optimisasi jaringan transmisi dan distribusi, percepatan pencarian kebocoran dan rehabilitasi meter air pelanggan.
Melengkapi pencapaian yang diraih, sepanjang 2020 PALYJA juga menerima penghargaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dari Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia untuk kategori Kecelakaan Nihil (Zero Accident), TOP CSR Awards 2020 Star 3 (Terbaik) untuk kategori TOP Leader on CSR Commitment, dan penghargaan bulan dana PMI DKI Jakarta dari Gubernur DKI Jakarta sebagai salah satu unsur BUMD penyumbang dana tertinggi.
Penurunan permukaan tanah menjadi ancaman serius bagi ibukota Jakarta. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan air tanah secara masif yang terjadi di beberapa wilayah Jakarta.
Sebagai wujud dukungan program Pemprov DKI Jakarta dalam mengedukasi masyarakat dan pelanggan, PALYJA menggelar program sosialisasi dengan tema Konversi Air Tanah dengan Mengoptimalkan Air Perpipaan. Acara ini digelar di Puri Denpasar, Mega Kuningan, 26 September 2019, yang dihadiri pelanggan utama PALYJA di daerah Rasuna Said dan SCBD Kuningan.
Dalam kata sambutannya, Nency Elvina Manurung, Customer Service Operations Director PALYJA,“PALYJA sebagai operator pelayanan air bersih bagian barat DKI Jakarta turut mendukung program pemerintah dalam mensosialisasikan program pembatasan penggunaan air tanah dan beralih ke air perpipaan,” ujarnya.
“Selain itu, PALYJA berkomitmen untuk memprioritaskan pemenuhan kebutuhan suplai air bersih pelanggan utama, dan memberikan technical assistance untuk mengoptimalkan penggunaan air perpipaan,” lanjutnya.
Sosialisasi ini bertujuan untuk menggugah kesadaran pelanggan utama PALYJA terhadap lingkungan dengan mulai mengoptimalkan jaringan perpipaan sebagai bentuk konversi air tanah. Sekaligus untuk meningkatkan kemitraan dan kolaborasi dengan Pemprov DKI, PAM Jaya dan seluruh pemangku kepentingan dalam penyediaan akses air bersih bagi masyarakat di wilayah bagian barat Jakarta.
Ini merupakan akhir dari rangkaian program Hari Pelanggan Nasional, yang dimulai sejak 4 September dengan Program Menyapa Pelanggan, dan pada 6 September, dengan Program Temu Pelanggan Standar dan Pelayanan Kesehatan dan Kacamata Mata Gratis.
Hadir sebagai narasumber dalam sosialisasi ini adalah Kepala Seksi Pemanfaatan air Tanah, Bidang Geologi dan Air Tanah, Dinas Perindustrian dan Energi DKI Jakarta, Ikhwan Maulani dan Kepala Unit Pelayanan Penyuluhan dan Layanan Informasi, Badan Pajak dan Retribusi DKI Jakarta, Hayatina.
Para narasumber memberikan edukasi penjelasan dampak dan konsekuensi dari penggunaan air tanah dalam tinjauan lingkungan dan komersial. Acara ini juga turut dihadiri oleh Direktur Teknik PAM Jaya, Barce Simarmata dan Ketua Badan Regulator Pelayanan Air Minum Pemprov DKI Jakarta, Rudy Eko Prayitno.
PALYJA mencatat volume air yang dikonsumsi pada 2018 mencapai 168,07 juta meter kubik, meningkat lebih dari 5 juta meter kubik, dibandingkan tahun sebelumnya yaitu 163 juta meter kubik. Hal ini membuktikan sudah lebih banyak pelanggan menggunakan air perpipaan.
Sebagai pelanggan utama, Menara Imperium, mengakui selama tiga tahun ini pasokan air sebesar 8000 meter kubik per bulan telah tercukupi, kunjungan rutin dilakukan seminggu sekali. Pihaknya hanya sebulan sekali menggunakan deep well untuk perawatan mesin saja.
Sedangkan, Gama Tower sebagai pelanggan baru PALYJA sekitar 8 bulan dengan kebutuhan air baku sebesar 16.000 meter kubik perbulannya, mengharapkan adanya uji lab, setiap 4 atau 6 bulan sekali untuk memastikan kualitas air baku yang dibutuhkan tenant mereka.
Terakhir, Hotel Grand Melia sebagai pelanggan lama PALYJA, dari 1998 mengungkapkan tidak ada kendala dalam mendapatkan pasokan air baku sebesar 9000 meter kubik. Kejadian eksternal saja yang menyebabkan pasokan air baku sempat terhambat, misalnya pada kejadian banjir 2012 dan pemasangan pertama tiang pancang di jalur Rasuna Said tahun lalu.
PT PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA), operator penyediaan dan pelayanan air bersih untuk wilayah Barat DKI Jakarta, Rabu (13/2) lalu meresmikan fasilitas air siap minum (Drinking Fountain) di Yayasan Amal Pendidikan Sosial Islam Indonesia (Khadijah Islamic School) sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab sosial PALYJA untuk fokus Air Untuk Semua (Water for All).
Corporate Communications and Social Responsibilities Division Head PALYJA, Lydia Astriningworo mengatakan bahwa pembangunan drinking fountain ini bertujuan untuk menyediakan air siap minum yang higienis bagi seluruh siswa, guru dan pengurus Khadijah Islamic School.
Penyediaan drinking fountain itu merupakan program yang dicanangkan PALYJA sejak awal tahun lalu. Penyediaan drinking fountain itu juga diharapkan dapat melengkapi fasilitas pendukung sekolah dari segi akses air minum yang sehat dan bersih yang tersedia sepanjang hari, sepanjang tahun.
“Sekolah Khadijah Islamic School merupakan lokasi ketiga yang diresmikan PALYJA, setelah Masjid Al – Azhar Kebayoran Baru dan Museum Nasional,” ungkap Lydia Astriningworo, dalam keterangan tertulis, Jumat (15/2).
Menurut Lydia, total terdapat 10 unit drinking fountain yang sudah terpasang dan sedang dalam pengerjaan, diantaranya SD 03 & SD 04 Penjaringan, Jakarta Utara serta Masjid Istiqlal.
“PALYJA berterima kasih kepada pihak Khadijah Islamic School yang telah menyambut baik dan berkoordinasi dalam proses penyediaan air siap minum, PAM Jaya dan seluruh pihak-pihak yang telah membantu menyelesaikan program ini,” imbuh Lydia.
Menurut Lydia, kegiatan ini merupakan salah satu dari empat fokus aktifitas Corporate Social Responsibilities (CSR) PALYJA, yakni: Kesehatan & Pendidikan, Bantuan Kemanusiaan, Pelestarian Lingkungan Hidup dan Air Untuk Semua.


PT Telkom Landmark Tower yang merupakan pusat perkantoran Telkom Indonesia, sudah meninggalkan penggunaan sumur bor (deepwell) dan beralih menggunakan air pipanisasi dari PALYJA.
“Sebelum Pak Gubernur melakukan sidak (inspeksi mendadak) penggunaan air tanah di pusat perkantoran, kami sudah menggunakan air perpipaan sejak 2015 lalu,” ujar Chief Engineering PT Telkom Landmark Tower, Saut Maruarar, beberapa waktu lalu.
Pusat perkantoran yang berlokasi di Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav 52, Jakarta Selatan tersebut memiliki dua tower. Tower 1 terdiri dari 23 lantai dan tower 2 memiliki 52 lantai. “Tingkat okupansi kedua tower itu sudah lebih dari 80%. Rata-rata, di dua tower ini penggunaan air mencapai 300-500 meter kubik (m3) per hari,” tuturnya.
Perusahaan memanfaatkan air hujan dan air kondensasi pendingin udara (AC) sebagai sumber air alternatif. Air hujan dan air kondensat AC disalurkan menuju tangki penampungan air yang dinamakan “clean water tank” (CWT) berkapasitas 500 m3.
Setelah air diolah menjadi air bersih, baru disalurkan ke pipa-pipa kamar mandi, dapur, dan sebagainya yang sudah siap digunakan.
“Kami melakukan uji sampel ke Sucofindo, setahun dua kali terhadap air dari hasil kondensat dan air hujan. Sudah sesuai standar mutu,” katanya.
Sumber tangki utama selain CWT, kata Saut, adalah intermediate water tank (IWT) yang juga berkapasitar 500 m3. Berbeda dengan CWT, di tangki IWT ini sebagai tempat penampungan air PAM yang bisa langsung disalurkan ke pipa-pipa kamar mandi atau dapur tanpa pengolahan air lebih lanjut.
Lalu, air yang telah digunakan para karyawan termasuk air tinja akan ditampung di tanki penampungan. “Sekitar 20% di antaranya air limbah diolah dan dimanfaatkan untuk menyiram tanaman. Selebihnya, dibuang. Sudah ada perusahaan yang mengurus ini,” tuturnya.
Meski mengandalkan sumber air perpipaan, kata Saut, pihaknya masih memanfaatkan sumber air tanah apabila pasokan air bersih terganggu. “Sejak 2015, tercatat sudah tiga kali pasokan air bersih terganggu. Kondisi seperti ini, kami harus memanfaatkan penggunaan air tanah untuk memenuhi kebutuhan air,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, kelebihan penggunaan air perpipaan selain kualitas air bersih yang sudah terjamin, juga pengeluaran biaya lebih murah. “Biaya penggunaan air memang lebih murah dibanding penggunaan deepwell,” katanya.
Berdasarkan data yang diterima, konsumsi air PALYJA pada 2018 ini, mencapai 10.000 m3 hingga 18.000 m3 per bulan. Bayangkan, apabila perusahaan ini tetap menggunakan air tanah sebagai sumber air bersih, akan membutuhkan biaya yang lebih besar lagi karena pemerintah mengenakan tarif tinggi untuk penggunaan air tanah.
sumber: http://www.beritasatu.com/satu/507082-telkom-landmark-tower-gunakan-air-perpipaan-sejak-2015.html
