Archives: Bersama Demi Air
Bersama Demi Air
Palyja merupakan perusahaan yang melayani di bidang air bersih. Daerah pelayanan pun mencakup wilayah Barat DKI Jakarta. Tidak hanya sebagai perusahaan yang melayani kebutuhan air bersih wilayah Barat DKI Jakarta tapi juga memiliki kegiatan CSR (Corporate Social Responsibility) yang mempunyai visi menjadi perusahaan penyedia jasa air minum di Indonesia yang mempunyai tanggung jawab sosial dengan berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan hidup dan pengembangan masyarakat melalui tata kelola perusahaan yang baik
Tahun ini bertepatan dengan paringatan Hari Air Sedunia (World Water Day) yang jatuh pada tanggal 22 maret setiap tahunnya maka, Palyja bersama Perusahaan Air Minum PAM Jaya melakukan Bakti Sosial yang bertemakan “Hijau Rusunku” yang di selenggarakan di Rusun Waduk Pluit, Muara Baru, Jakarta Utara. Rusun ini ini pun telah diresimkan sejak 15 Juli 2013. Dimana kegiatan inti dari acara ini pun adalah menanam pohon sebanyak 25 pohon pelindung.
Penanaman pohon ini pun mengadopsi dari tema tahunan Hari Air Sedunia yaitu Solusi Air Berbasis Alam (Nature-Based Solution for Water), yang mencanangkan untuk pemulihan hutan yang menghasilkan output untuk membantu pengelolaan ketersedian air dan kualitas air. Dan ini mengingatkan kita sebagai manusia yang sangat bergantungan dengan air agar lebih peduli dengan air dan alam sekitar. Dikutip dari laman worldwaterday.org penanam pohon berdampak pada ketersediaan air dan suplai air dimana alam bertindak sebagai penyimpan air paling sempurna dan juga dapat mencegah salah satunya adalah banjir.

Acara ini pun dikemas dengan santai dan riang gembira, diamana pada awal acara dibuka dengan senam aerobik para warga rusun waduk peluit, kemudian dilanjuti acara sambutan dari para Direksi Palyja maupun PAM Jaya dan tidak lupa ditengah acara selipkan atraksi-atraksi tari hingga permainan musik dari para adik-adik paud Al-Hidadayah dan Kenangan 17.
Sungguh penampilan yang begitu menggemaskan dimana adik-adik yang sangat antusias dan balutan pakaia-pakaian khas tarian yang dibawakannya, contohnya saja menarikan tari ondel-ondel dengan pakaian khas betawinya. Dipenghujung acara menuju penanaman pohon ditutup dengan pengumuman lomba mewarnai yang bertemakan lingkungan hidup, serta santunan untuk PAUD itu sendiri.

Selanjutnya acara inti dari kegiatan ini adalah penanaman pohon, dimana penanaman pohon dilakukan didepan mesjid yang terletak dibelakang rusun waduk peluit. Sebanyak 10 pohon yang ditanam didepan halaman mesjid dan 15 lainnya akan ditanam secara menyebar.
Walaupun penanaman pohon ini hanyalah sebagai simbolis tapi sangat diharapkan untuk kedepannya tidak terhenti hanya karena ada kegiatan CSR yang diselenggrakan dari Palyja itu sendiri tapi diharapakan pohon-pohon yang telah ditanam dapat dijaga dan dirawat serta menumbuhkan keinginan warga sekitar untuk berinisiatif menanam pohon.
Karena sejatinya ketika kita melakukan sesuatu seperti memperbaiki alam dengan hal-hal sederhana dan sering dianggap sepele, maka percayalah dimasa yang akan datang alam pun akan membalas semua kebaikan kita. Contohnya saja dengan adanya acara penanam pohon oleh CSR Palyja maka kedepannya akan kita lihat pohon-pohon rindang yang menyejukan yang berdiri kokoh didepan halaman mesjid dan juga tempat-tempat lain yang ditanami pohon tersebut.
Mari tanam pohon untuk generasi air masa depan yang lebih baik !!!
Sumber: https://www.kompasiana.com/gebbylianda15/5abbb7a516835f7d550e5b72/bakti-sosial-rusun-waduk-pluit-bentuk-nyata-csr-palyja
“Saya minta pamfletnya , saya akan bagi ke rumah-rumah disini” ucap Sandiaga Uno selaku Wagub DKI Jakarta saat acara Sosialisasi penggunaan air perpipaan dirumahnya di bilangan Senopati, Kebayoran baru (21/03/18).
Sandiaga resmi menjadi pelanggan PT. PALYJA yang merupakan Operator penyedia dan pelayanan air bersih yang menjadi mitra dari PAM JAYA untuk membuktikan keseriusannya dalam upaya menghentikan pemakaian air tanah yang dimulai dari rumahnya sendiri. Tak hanya itu Sandiaga bahkan memotong pipa air tanah yang ada di rumahnya didepan para tamu undangan dan wartawan yang hadir.
Seperti yang dipaparkan dalam Sosialisasi, dampak yang terjadi akibat eksploitasi air tanah berlebihan memang sangat mengkhawatirkan. Penurunan permukaan tanah dapat menyebabkan longsor dan banjir sehingga mengancam keselamatan kita kapan saja. Namun terbersit dalam pikiranku, untuk beralih dari air tanah apakah PAM JAYA bersama mitra kerjanya yaitu PT. PALYJA dan PT. AETRA mampu menyokong kebutuhan air bersih kita semua warga yang tinggal di DKI Jakarta.
Berita tentang sosialisasi penggunaan air perpipaan (21/03/18) di akun media sosial pribadi milik Sandiaga Uno pun dibanjiri keluhan warga, baik yang belum dan telah mejadi Pelanggan air PAM. Keluhan tersebut diantaranya air PAM bau kaporit , air PAM kotor , air PAM keluar kecil , air PAM Mahal, bahkan ada yang mengeluhkan ingin menjadi Pelanggan namun ditolak karena alasan tidak ada suplai.
Keluhan tersebut akhirnya menjawab pertanyaanku sendiri tentang kemampuan mereka. Lantas salah siapa? Apakah salah pemerintah? Ataukah salah PAM Jaya dan Operator penyedianya? Atau jangan-jangan salah ini bermula dari kita sebagai warga yang tinggal di DKI Jakarta?
Untuk urusan air yang memang kebutuhan sehari-hari kita, aku pikir tidak cukup hanya dengan peran pemerintah dan Operatornya, kita sebagai warga harus mendukung dengan tindakan nyata walaupun dimulai dari hal kecil.
Bila kita ingin medukung kegiatan program penggunaan air perpipaan dan stop penggunaan air tanah, tidak ada salahnya bila kita mulai menjaga kebersihan sungai-sungai di Jakarta yang merupakan salah satu sumber air baku.
Aku mencoba mengingat bagaimana mengenaskannya kondisi salah satu sungai yang pernah aku lewati di Jakarta, bau, keruh, dan kulihat banyak sampah bergentayangan. Sungai tersebut berada di sepanjang jalan yang disebut bongkaran. Aku tidak tau nama jalan itu apa namun jalan itu merupakan jalan tembusan dari Roxy menuju Karet. Lebar sungai makin menyempit karena sampah membentuk beberapa gugusan pulau-pulau.
Jujur aku pernah dibentak hanya karena menanyakan kepada salah satu warga yang melintasi jalan tersebut ketika melempar bungkusan kresek hitam ke sungai. Rasanya malu juga guys… aku jadi merasa anak yang paling nyebelin se-dunia. Dalam kondisi seperti itu, akhirnya aku mulai berpikir apatis tentang sungai kita yang dicemari. Teman- teman pernah ada yang merasa seperti itu juga kah ? Syukurnya pemerintah sudah bertindak, beberapa minggu lalu ku lihat sudah dilakukan pengerukan sampah di sungai tersebut. Semoga tetap kita jaga kebersihannya ya!
Pembelajaran yang bisa ku ambil dari pengalamanku sendiri melihat kondisi salah satu sungai Jakarta dan ikut sosialisasi air perpipaan adalah, mustahil kita bisa mendapat air PAM yang murah , lancar dan minim bau kaporit bila sungai yang merupakan salah satu sumber air baku tidak kita jaga, malah kita cemari tanpa henti hingga memperumit proses penjernihannya. Semoga dengan adanya program penggunaan air perpipaan, pemerintah dapat secara konsisten melakukan perbaikan dari hulu ke hilir.
So… mari sama-sama berbenah diri untuk masa depan pasokan air kita. Buat teman-teman yang rumahnya sudah terdistribusi air PAM dengan suplai lancar bisa memulai gerakan “Stop penggunaan air tanahnya” dari sekarang . Untuk yang belum terealisasi karena keterbatasan suplai menurut aku kita bisa membuat sumur resapan untuk menampung air hujan masuk ke tanah, jadi kita tidak hanya mengambil air tanah tapi kita juga mengisinya kembali.
Ada kutipan kata dari Sandiaga Uno kemarin yang menurut aku bagus diterapkan untuk kehidupan kita sehari-hari dan mendukung program “stop penggunaan air tanah” .
Mulai dari diri sendiri.
sumber:https://www.kompasiana.com/fi2san/5ab457e1ab12ae3ac14fafe2/pasca-sosialisasi-air-pam-medsos-sandiaga-uno-banjir-keluhan-warga
Ketika sebagian warga Jakarta berbaik hati melengangkan jalanan ibukota dengan menghabiskan liburan panjang mereka di luar Jakarta, berkebalikan denganku yang menghabiskan berkah liburan panjang ini sebagai tenaga sukarelawan membantu para pengungsi kebakaran di RT. 016 / RW. 05 Perumahan Taman Kota Kelurahan Kembangan Utara Jakarta Barat.
Bencana itu datang tiba-tiba, Kamis (30/3) menjelang malam, hujan turun deras disertai petir walaupun durasi tidak lama, sesaat kemudian petir menyambar tiang listrik dan dengan cepat membakar ratusan rumah terdekat. Begitu cepat, sehingga tidak sedikit warga yang tidak sempat menyelamatkan harta bendanya.
“Saya lagi tidak di rumah pada saat kejadian, motor saya hangus, tidak ada yang bisa diselamatkan, tinggal baju yang saya pakai ini”, cerita Pak Slamet, salah seorang korban kebakaran.Saat itu, keselamatan diri di atas segalanya.

Api menghanguskan sedikitnya 122 rumah di kawasan padat penduduk ini. Data informasi kebakaran yang terpampang di atas posko RT membuat termangu. Jumlah Kepala Keluarga (KK) yang terdampak dari kebakaran ini sekitar 316 hampir 3 kali lipat dari jumlah rumah dan ada 450 pengontrak, total ada sekitar 1252 jiwa.
Mengelilingi keseluruhan lokasi ex-kebakaran menghabiskan waktu tidak sampai 30 menit. Mengotak-atik pikiran membayangkan luasan bangunan satu rumah yang bisa menampung setidaknya 2KK, membayang pada saat kaki melangkah menyusuri lokasi bekas kebakaran tersebut. Aarrghh…betapa beratnya hidup di Jakarta.

Di saat seperti ini, masih ada hal yang bisa membuai perasaan. Betapa sebenarnya kepedulian akan sesama masih melekat erat di diri kita sebagai makhluk sosial. Bantuan yang datang tidak sedikit, dan semua seperti berlomba mendistribusikan kebaikan ke korban.
Sejak Jumat (31/3), sampai H+3 setelah kejadian, gelombang bantuan dan relawan masih terus berdatangan. Tenaga, biaya, dan waktu didedikasikan untuk membantu warga. Minuman, makanan, pakaian, ataupun obat-obatan tidak henti mengalir ke Posko RT untuk kemudian didistribusikan merata ke warga korban kebakaran.


Institusi ataupun perusahaan dengan spesialisasi masing-masing pun ikut serta berupaya meringankan sedikit beban warga. Perwakilan Dinas Pendidikan menjamin untuk mengganti rapor dan ijazah para siswa yang terbakar, dan menjanjikan bantuan seragam dan alat tulis untuk siswa terutama untuk siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional Senin 2 April.
PALYJA selain menyiapkan bantuan makanan dan minuman untuk korban kebakaran, juga menyiapkan tandon air bersih dan membuatkan beberapa titik MCK sementara untuk digunakan warga sehari-hari.


Kepedulian PALYJA ini erat kaitannya secara psikologis dengan warga dikarenakan lokasi Instalasi Pengolahan Air (IPA) Taman Kota milik PALYJA berada tidak jauh dari lokasi ex-kebakaran.
Lokasi titik terakhir kebakaran dengan IPA Taman Kota berjarak sekitar 100m. Malam kejadian, petugas PALYJA berusaha membantu seawal mungkin untuk memadamkan api dengan menggunakan APAR sembari menunggu petugas Pemadam Kebakaran datang, namun tetap tidak bisa mengisolasi titik api, kebakaran terlanjur membesar. Untuk alasan keamanan, warga juga memilih menitipkan bantuan yang diterima dan juga motor di halaman IPA milik PALYJA tersebut.

Menjelang tahun politik seperti saat ini, juga direspon oleh beberapa ParPol dengan mendirikan Posko Kemanusiaan di lokasi ex-kebakaran tersebut. Masih banyak pekerjaan rumah untuk semua pihak yang harus diselesaikan setelah kejadian kebakaran ini, seperti pembersihan puing-puing sisa kebakaran, penataan kembali kampung, dan juga pemulihan ekonomi para korban.
Semoga euforia solidaritas dan kepedulian ini tidak hanya di awal, dan tetap berkelanjutan untuk pendampingan pemulihan kualitas kehidupan para korban kebakaran selanjutnya.
sumber: https://www.kompasiana.com/astrisya/5ac118b7dd0fa86c727c60a2/api-itu-datang-tiba-tiba
Ada yang berbeda di aula Rusun Muara Baru hari ini (22/03/18), terlihat umbul-umbul, Banner dan spanduk bertuliskan “Program Bakti Sosial Penghijauan Rumah Susun” bertengger dengan gagah nya sebagai penyampai informasi kegiatan yang sedang berlangsung. Mengusung tema HIJAU RUSUNKU untuk memperingati hari Air Dunia, acara yang diselenggarakan oleh CSR PALYJA ini dihadiri langsung oleh Direksi PALYJA dan PAM JAYA.
Tujuan diadakan kegiatan ini adalah mengajak warga Rusun untuk menjaga kelestarian lingkungan sekitar dengan melakukan penanaman 25 pohon pelindung jenis Ketapang dan Tanjung serta melakukan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan terhadap anak usia dini. Hal ini senada dengan salah satu fokus utama CSR PALYJA dalam upaya pelestarian lingkungan air, tanah dan udara.
Antusiasme warga terlihat saat sedang mengikuti serangkaian acara yang berlangsung. Acara diawali dari kegiatan senam bersama, Sambutan Direksi, santunan untuk PAUD, pembagian hadiah lomba menggambar dengan tema lingkungan, pentas musik angklung hingga tarian dari adik adik PAUD Al Hidayah dan Kenanga 17 yang mereka bawakan dengan lincah nya.
Memasuki puncak acara simbolis penanaman pohon pelindung, panitia mengajak Direksi, perwakilan warga, perwakilan anak anak,serta tamu undangan menuju lokasi penanaman yaitu area halaman Masjid Jami’ Daarul Falah Rusun Muara Baru. Sebanyak 10 pohon akan ditanam di halaman masjid ini sedangkan 15 sisa nya akan di sebar di seluruh area Rusun.

Penanaman pohon simbolis pertama dilakukan oleh Presiden Direktur PALYJA yaitu bapak Robert Rerimassie bersama dengan perwakilan warga dan anak-anak. Saat prosesi penanaman berlangsung, matahari dengan jumawa nya memperlihatkan kemampuan hebatnya menggosongkan kulit manusia dalam hitungan menit. Ditambah dengan lokasi Rusun yang berdekatan dengan Teluk Jakarta makin menambah lengket nya keringat yang mengucur dari tubuh. Kondisi yang sangat gersang dan panas tanpa pepohonan memperparah udara yang berhembus di lokasi. Harapannya, untuk menanggulangi ketidaknyamanan tersebut warga bisa berkomitmen untuk merawat pohon pelindung yang ditanam karena pohon tersebut dapat memberikan kesegaran serta kerindangan alami untuk warga Rusun Muara Baru ditambah dapat menyerap air hujan masuk ke tanah untuk memperbanyak pasokan air tanah.
Mari bersama kita jaga lingkungan sekitar kita untuk kelangsungan hidup cucu cicit kita. Selamat Hari Air Sedunia!!! #Bersamademiair.

