Saya siswa kelas 4 yang bersekolah di SD Pangudi Luhur Jakarta. Saya dan teman saya memiliki pengalaman tentang air yang  menyelamatkan ,dan bagaimana cara kami menyelamatkan air. Di PALYJA kami belajar tentang air yang menguntungkan. Air sangat menyelamatkan dan menguntungkan bagi seluruh kehidupan manusia. Tetapi jangan salah, air tidak selalu menguntungkan tetapi juga seringkali merugikan bagi kehidupan.

Pada suatu hari di suatu kelas empat terdapat seseorang yang bernama Doni, bertanya kepada gurunya, “Bu, mengapa air disebut menyelamatkan?” Lalu Bu Guru menjawab “ Karena air telah menyelamatkan kehidupan manusia .” Lalu seorang teman bernama Ixora berkata “ Maka itu air merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia.” Lalu Bu Guru meminta Ixora untuk menceritakan pengalamannya tentang air menyelamatkan kita. Ixora langsung maju dan menceritakan pengalamannya tentang air yang menyelamatkan kita.

image-Air-Sahabat-dan-Lawan

Ixora menceritakan pengalamannya. Ixora menceritakan bahwa dia pernah berolahraga keliling komplek 3 kali, di tengah perjalanan Ixora sangat kehausan. Tetapi dia lupa membawa minum untuk berolahraga. Kemudian dia mencari – cari uang yang dia bawa di saku celananya. Setelah mencari – cari, uang Ixora pun ketemu. Sambil berolahraga Ixora mencari – cari warung yang menjual minum. Tak disadari bahwa Ixora sudah sampai di depan rumahnya dia langsung bergegas mencari botol minumnya, lalu minum. Kemudian bel sekolah pun berbunyi. Bu Guru memberikan tugas kepada murid – muridnya untuk membuat pengalaman tentang air yang menguntungkan dan tentang air yang merugikan. Setiap anak nantinya akan maju untuk menceritakan besok.

Keesokan harinya di sekolah anak-anak menceritakan pengalamannya tentang air. Doni menceritakan bagaimana cara kita menyelamatkan air supaya air juga dapat menyelamatkan kita. Doni menceritakan pengalaman adiknya yang selalu membuang sampah ke sungai. Sehingga pada suatu hari berikutnya air sungai meluap dan terjadilah banjir, sehingga rumah Doni terendam banjir. Kemudian Doni memberi keterangan bahwa kita harus menyelamatkan air terlebih dahulu supaya air juga mau menyelamatkan kita.

Kemudian giliran Shinta menceritakan air yang merugikan/sebagai lawan kita. Shinta menceritakan tentang tsunami yang sering terjadi di Jepang. Shinta menjelaskan bahwa tsunami bukan terjadi oleh manusia, melainkan karena peristiwa gempa yang terjadi di bawah air. Tetapi, terkadang bencana yang disebabkan manusia dapat terjadi, yaitu seperti : banjir. Bel istirahat pun berbunyi.

Setelah beristirahat, teman selanjutnya yang bernama Jo mulai bercerita. Jo sangatlah menyukai air karena air sangatlah menguntungkan dan mengasyikkan bagi Jo. Sampai – sampai Jo sangat rajin mandi pagi dan sore hari. Jo juga suka menyiram tanaman sebelum mandi. Jo juga suka sekali meminum air putih, setiap Sabtu Jo juga berenang, dan dia suka main hujan – hujanan pada waktu musim hujan. Jo pun berkata “ bahwa air sangatkah penting dan menguntungkan bagiku. “ Kemudian Jo kembali ke tempat duduknya.

Kemudian Bu guru berkata “ Walaupun air sangat menyenangkan, tetapi kita harus bisa menghemat pemakaian air”. Gunakan air seperlunya agar air yang berada di bumi kita tidak cepat habis. Karena air juga sangat diperlukan oleh generasi yang akan datang.

Kita juga harus mengingat saudara – saudara kita yang kurang beruntung yang tinggal di daerah tandus atau di daerah dataran tinggi/pengunungan yang sedikit airnya dan menampung air hujan untuk keperluan sehari – hari jika air tadah hujan tidak mencukupi, mereka membeli air yang di pasok dari tangki – tangki mobil.

Kita yang hidup di kota sangat bersyukur dengan adanya PDAM yang dikelola oleh PALYJA. Dengan adanya PDAM kita bisa mendapatkan air yang cukup dan bersih karena sudah diproses melalui beberapa kali penyaringan. Kita bisa mandi dengan bersih, bisa menyiram tanaman dengan teratur sehingga tanaman kita tumbuh subur, dapat mencuci mobil, motor dan sepeda kita apabila kotor dan yang terpenting kegiatan memasak air di dapur dapat terlaksana dengan baik.

Pada tanggal 2 Mei – 2 Juni, kelas 6 SD Pangudi Luhur Jakarta, memiliki pengalaman melakukan acara di Green Canyon Pangandaran. Siswa kelas 6 sangat semangat melakukan kegiatan rafting menyusuri Sungai Cijulang yang air sungainya sangat sejuk dan segar. Airnya bersih bebas dari polusi dan tidak terlihat adanya sampah di sungai. Pemandangan alamnya pun sangat indah. Air jika kita jaga dengan baik akan menjadi sahabat kita yang menyenangkan. Pada tanggal 4 Juni, sekolah Doni, Ixora, Shinta dan Jo Libur. Bu guru ingin mengetahui apa yang dilakukan murid – muridnya pada waktu libur. Jadi, Bu Guru memberikan tugas pada murid – muridnya untuk menceritakan pengalamannnya saat liburan di sebuah kertas.

DSC_0090_1920x1080

Pada waktu liburan, Jo pergi ke tempat wisata di kota yang menggunakan sarana air yang biasa disebut waterboom. Selain berenang, waterboom juga menyediakan wahana permainan yang bisa dinikmati anak – anak maupun orang dewasa, antara lain : speed slide, kiddy slides dll. Jo sangat senang berlibur ke Waterboom. Jo menulis pengalaman liburannya di selambar kertas dengan amat senang. Menurut Jo kita harus menjaga alam salah satunya kita harus menjaga hutan agar tidak menjadi gundul, agar kandungan air di dalamnya bisa terjaga dan juga untuk mencegah terjadinya banjir.

Ixora juga pernah berlibur dengan keluarganya di Gua Maria Sendangsono terpatnya di Kabupaten Kulon Progo yang berada di daerah Istimewa Yogyakarta(DIY). Gua Maria Sendangsono memiliki air yang berlimpah, bersih, sejuk dan segar yang bisa dialirkanke banyak saluran air keran. Biasanya yang berkunjung ke tempat itu adalah umat beragama Katolik untuk berdoa pada Bunda Maria dan mengambil air suci. Air tersebut sudah diperiksa oleh laboratorium bahwa air tersebut aman dikonsumsi secara langsung oleh pengunjung.

Doni dan Shinta libur tidak pergi kemana – mana. Doni di rumah saja karena Doni memiliki hobi memelihara ikan di kolam di halaman belakang rumahnya. Agar ikan peliharaannya tumbuh dengan baik dan sehat, maka diperlukan air yang mengalir terus menerus dan jernih. Shinta tidak berlibur ke mana – mana, tetapi hanya di rumah Shinta ingin menjaga kebersihan rumah, air dan menjaga tumbuhannya agar tidak layu, dengan cara bekerja bakti bersama dengan keluarganya.

SD Pangudi Luhur Jakarta kelas 4 pernah melakukan wisata ke PALYJA. Murid – murid sangat senang berkunjung ke PALYJA. Murid – murid mendapatkan penjelasan tentang PALYJA. PALYJA hadir di Jakarta untuk meningkatkan penyediaan dan pelayanan air bersih kepada masyarakat di wilayah bagian barat DKI Jakarta sejak 1 Februari 1998. PALYJA merupakan bagian dari Suez – Perancis, yang bergerak di bidang air, limbah, peralatan yang terkait dalam kehidupan sehari – hari dan dengan tingkat pelayanan yang tinggi dan dengan menyediakan air bersih dengan kualitas yang baik melalui proses yang unggul.

Sejak tahun 1998, PALYJA berhasil meningkatkan akses air bersih menjadi lebih dari 405 ribu sambungan bagi lebih dari tiga juta penduduk di wilayah Barat Jakarta. Selesai acara kunjungan, murid – murid mendapatkan souvenir, ada tempat pensil, bloknote dan pembatas buku. Murid – murid pun pulang dengan perasaan gembira. “ Marilah kita bersama – sama menjaga air, karena air adalah sumber kehidupan manusia.

Maria Ellora Damarkasih – SD Pangudi Luhur
Juara 1 Lomba Menulis Tingkat SD 2016

Sebanyak 13 sungai ada di Jakarta. Namun, hanya dua sungai yang dapat digunakan sebagai sebagai air baku, yaitu Kali Krukut dan Sungai Cengkareng Drain. Itupun dalam kondisi kualitas yang semakin lama semakin berkurang.

SUNGAI Cengkareng Drain yang terletak persis di seberang stasiun pompa RW 04,  Kembangan Utara membentang di depan mata. Intake (pintu masuk air) Cengkareng Drain, sebagai sumber bahan baku air bersih Instalasi Pengolahan Air Bersih (IPA) Taman Kota, ada di dekat tembok samping sungai.

Di pinggir sungai sebelah kanan intake, terlihat seorang bapak memegang alat pancing. Di sebelah kiri intake, asap putih dari bakaran sampah masih mengepul. Pengukur ketinggian air sungai berdiri memancang. Air sungai berwarna terlihat cokelat pekat.

Untuk mencegah intrusi, PALYJA memasang alat pendeteksi air laut di pada pintu air (intake) yang dinamakan Total Dissolve Solid (TDS) Online Analyzer (dokpri)
Untuk mencegah intrusi, PALYJA memasang alat pendeteksi air laut di pada pintu air (intake) yang dinamakan Total Dissolve Solid (TDS) Online Analyzer (dokpri)

Sungai Cengkareng Drain, meskipun menjadi salah satu dari dua sungai yang dapat digunakan sebagai bahan baku air bersih di Jakarta, tidaklah bisa dibilang bersih. Penuh polutan. Kadar amonia yang tinggi, tercemar deterjen, mangan, dan limbah rumah tangga, membuat kualitas air sungai Cengkareng Drain jelek.

“Tiap hari, setiap pagi dan sore, ada yang menyelam untuk mengambil sampah-sampah yang ada di sungai Cengkareng Drain,” kata Febri, petugas dari IPA Taman Kota, yang menemani Kompasiana Visit di IPA Taman Kota, 3 November lalu.

Selain masalah polutan pencemaran air, Cengkareng Drain yang hanya 5 km dari laut menghadapi masalah intrusi atau air laut masuk ke daratan (dokpri)
Selain masalah polutan pencemaran air, Cengkareng Drain yang hanya 5 km dari laut menghadapi masalah intrusi atau air laut masuk ke daratan (dokpri)

Menurut Febri, tidak hanya masalah pencemaran air sungai saja yang mencapai 8 ppm dari seharusnya hanya 1 ppm. Air baku dari intake yang berjarak sekitar 1,5 KM dari  IPA Taman Kota juga rentan dengan air laut yang masuk ke daratan (intrusi). Biasanya hal ini terjadi pada musim kemarau karena arak dengan laut yang hanya 5 KM saja.

Air laut menjadi hambatan dalam proses pengolahan air bersih di IPA Taman Kota. Air laut dapat membunuh mikroorganisme alami yang digunakan dalam teknologi Biofiltrasi. Teknologi yang dikembangkan oleh PALYJA pada tahun 2012.

ipa7-582f3a3bd77e6147151d71ca.jpg
ipa7-582f3a3bd77e6147151d71ca.jpg

Untuk mendeteksi air laut di pintu masuk air (intake) menuju instalasi, PALYJA memasang alat yang bernama Total Dissolve Solid (TDS) Online Analyzer. Dengan alat itu, saat air laut menyentuh intake, kelangsungan operasional di IPA Taman Kota segera dihentikan.

Kunjungan ke intake sungai Cengkareng Drain merupakan rangkaian terakhir Kompasiana Nangkring di IPA Taman Kota selama satu hari, yang bertema Optimasi Instalasi dengan Pengembangan Teknologi sebagai Solusi Defisit Air Bersih di Jakarta. Sebelumnya, para kompasianer berkeliling melihat proses pengolahan air di IPA Taman Kota dan mengikuti penjelasan di IPA Pejompongan.

Dengan adanya TDS di Intake berjarak 1,5 KM dari IPA Taman Kota, maka tindakan pencegahan air laut masuk ke bak mikrooganisme alami dapat dicegah (dokpri)
Dengan adanya TDS di Intake berjarak 1,5 KM dari IPA Taman Kota, maka tindakan pencegahan air laut masuk ke bak mikrooganisme alami dapat dicegah (dokpri)

Defisit Air Bersih Tak Bisa Menunggu

Budi Susilo, Direktur Customer Service PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) mengungkapkan, ketersediaan air bersih yang layak untuk warga Jakarta sangatlah penting. Manusia tidak akan bisa hidup tanpa adanya air bersih. “Kita tidak akan kuat kalau tidak minum,” ujarnya saat pemaparan kepada kompasianer di IPA Pejompongan.

Namun sayangnya, kata Budi, jumlah yang ada pun tidak cukup. Survei PAM Jaya yang dilakukan bersama 2 operator air bersih, yakni PALYJA dan AETRA menunjukkan adanya defisit ketersediaan air sebesar 9.100 liter per detik.

Budi Susilo, Direktur Customer Service PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) mengatakan, air bersih merupakan kebutuhan hidup dasar manusia yang tidak bisa menunggu (dokpri)
Budi Susilo, Direktur Customer Service PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA) mengatakan, air bersih merupakan kebutuhan hidup dasar manusia yang tidak bisa menunggu (dokpri)

PALYJA dan AETRA hanya mampu menghasilkan 17.100 liter air per detik, dari kebutuhan air bersih di Jakarta yang mencapai 26.100 liter per detik. Dengan jumlah penduduk yang tinggal di Jakarta mencapau sekitar 10 juta orang, konsumsi air bersih yang dibutuhkan mencapai 100 liter/hari/orang.  Akses air bersih hanya 73,23 % dengan cakupan pelayanan 60 %.

Menurut Meyritha Maryanie, Corporate Communicatuins and Social Responsibility Division Head PALYJA, air baku memegang peranan. Dari keseluruhan total air bersih, sumber air bakunya berasal dari sungai Jakarta (5,7 %) yakni  Sungai Cengkareng Drain (1,7%) dan Kali Krukut (4%). Sementara dari luar kota (94,3%), berasal dari Waduk Jatiluhur (62,5%),  membeli dari PDAM Tangerang, yakni  IPA Serpong (31%), dan Cikokol (0,8%).

Meyritha Maryanie, Corporate Communications and Social Responsibility Division Head PALYJA mengatakan ketersediaan air baku untuk pengolahan air bersih sangat penting (dokpri)
Meyritha Maryanie, Corporate Communications and Social Responsibility Division Head PALYJA mengatakan ketersediaan air baku untuk pengolahan air bersih sangat penting (dokpri)

Pasokan air tersebut jumlahnya tidak bertambah sejak tahun 1998. Pasokan air malahan kadang terganggu limbah ataupun bencana alam tanggul longsor karena merupakan saluran terbuka, seperti di Kanal Tarum Barat (Kalimalang) yang menjadi saluran distribusi air baku Waduk  Jatiluhur.Di sisi lain, defisit air bersih tidak bisa menunggu lama. Air bersih merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus segera dipenuhi.

Optimalkan Produksi dengan Pengembangan Teknologi  

Mengoptimalkan produksi air bersih di instalasi pengolahan air bersih (IPA) menjadi pilihan PALYJA mengingat kondisi dan ketersediaan air baku yang terbatas. Inovasi berbagai teknologi pun dikembangkan. Salah satunya yang dilakukan di IPA Taman Kota dengan menggunakan teknologi Biofiltrasi.

Selain IPA Taman Kota sebagai tempat pengolahan air baku menjadi air bersih dengan produksi 150 liter per detik, PALYJA memiliki 3 IPA lain, yakni IPA 1 Pejompongan (2.000 liter/detik), IPA 2 Pejompongan (3.600 liter/detik), dan IPA Cilandak (400 liter/detik).

Untuk tempat penampungan air bersih sementara yang berasal dari PDAM Tangerang terdapat Distribution Central Reservoir (DCR) 4 sebanyak 2.000 liter/detik dan DCR 5 sebanyak 1.000 liter/detik. Juga terdapat instalasi pengambilan air baku Kanal Banjir Barat (5500 liter/detik).

PALYJA memiliki Distribution Monitoring Control Center (DMCC) sebagai pusat kontrol online yang dapat memonitor pasokan air baku dan air bersih ke pelanggan selama 24 jam, 7 hari seminggu (dokpri)
PALYJA memiliki Distribution Monitoring Control Center (DMCC) sebagai pusat kontrol online yang dapat memonitor pasokan air baku dan air bersih ke pelanggan selama 24 jam, 7 hari seminggu (dokpri)

IPA yang ada di Jakarta, kata Meyritha Maryanie, Corporate Communications and Social Responsibility Division Head PALYJA, sudah tidak muda lagi usianya sehingga sistem pengolahan air konvensional tidak lagi bisa diandalkan untuk operasional produksi.

Dijelaskannya inovasi teknologi terkini ada di instalasi pengambilan air baku kanal banjir barat, yang diresmikan bulan Mei 2015 oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR) mampu meningkatkan kapasitas produksi IPA Pejompongan dari 8.800 liter/detik menjadi 9.200 liter per detik. Teknologi ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara dan Indonesia di bidang pengolahan air, yang menggunakan mikroorganisme alami.

Bagaimana dengan pengolahan air di IPA Taman Kota? Teknologi yang dikembangkan dengan nama Biofiltrasi telah membuat IPA Taman Kota dapat beroperasional kembali pada tahun 2012.  Sebelumnya, IPA Taman Kota sejak tahun 2007 tidak dapat beroperasi karena kualitas air sungai Cengkareng Drain yang sangat buruk dengan kandungan amonium yang tinggi.

Enam Tahapan Proses Pengolahan Air di IPA Taman Kota

Teknologi Biofiltrasi berhasil dikembangkan oleh PALYJA bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), dengan supervisi dari SUEZ selaku induk perusahaan yang memegang saham sebesar 51 %, selain Astratel Nusantara (Astra International) sebanyak 49 %.

Kunjungan ke IPA Taman Kota telah membuka wawasan mengenai enam tahapan proses pengolahan air yang dilakukan. Febri, salah seorang petugas IPA Taman Kota dengan telaten menjelaskan tahapan-tahapannya. Para kompasianer, termasuk saya menggunakan helm berwarna hijau, dibagi dua rombongan untuk mengelilingi IPA Taman Kota.

Enam tahapan proses pengolahan air di IPA Taman Kota, yakni

1. Penerimaan air baku

Sumber air baku untuk IPA Taman Kota berasal dari Sungai Cengkareng Drain. Jarak intake (pintu masuk) ke Cengkareng Drain sekitar 1,5 KM. Kondisi air sungai Cengkareng Drain penuh polutan, yakni mengandung kadar amonia tinggi, deterjen, dan limbah rumah tangga.

Melalui intake (pintu masuk) Sungai Cengkareng Drain inilah air bahan baku IPA Taman Kota berasal (dokpri)
Melalui intake (pintu masuk) Sungai Cengkareng Drain inilah air bahan baku IPA Taman Kota berasal (dokpri)

2. Proses koagulasi dan flokulasi

Saat di IPA Taman Kota, terdapat bak-bak penampungan air yang memiliki fungsi masing-masing sebagai bagian proses pengolahan air bersih.Inilah bak pertama. Koagulasi merupakan proses pengadukan cepat dengan menggunakan koagulan (zat kimia tertentu) agar partikel-partikel padat dalam air saling berbenturan dan membentuk flok-flok (gumpalan halus).

Selain itu juga dilakukan flokulasi, yaitu proses pengadukan lambat yang tujuannya memperbesar ukuran flok (gumpalan) sehingga dapat lebih mudah mengendap dikarenakan perbedaan berat jenis.

Proses koagulasi dan flokulasi menggunakan koahulan dilakukan di bak pertama (dokumentasi)
Proses koagulasi dan flokulasi menggunakan koahulan dilakukan di bak pertama (dokumentasi)

3. Sedimentasi dan Pengendapan

Pada bak selanjutnya, dilakukan proses pemisahan lumpur dan air bersih dengan bantuan plate settler untuk mempermudah pengendapan.

4. Biofiltrasi

Pada bak selanjutnya dilakukan Biofiltasi, yang merupakan proses removal polutan amonium, detergen, dan mangan dengan menggunakan mikroorganisme alami yang hidup dalam air. Mikroorganisme alami dalam teknologi Biofiltrasi hidup dalam pada lapisan biofilm yang ada dalam media crosspack. Untuk menjaga mikroorganisme tetap hidup dan bekerja efektif dalam meremoval polutan, digunakan blower dan difusser untuk menghembuskan dan menjaga kandugan oksigen terlarut.

5. Fitltrasi (Penyaringan)

Proses yang dilakukan untuk menyaring sisa partikel yang kemungkinan masih terbawa dalam air bersih keluaran dari Biofilter dengan menggunakan medua penyaring pasir silika Untuk menjaga fungsi pasir silika dalam kondisi 100 % sebagai media penyarigan, maka dilakukan proses backwash setiap 24 jam sekali.

6. Desinfeksi

Proses terakhir desinfeksi merupakan proses removal bakteri dengan menggunakan zat kimia chlorine dengan durasi waktu 1 jam. Tidak semua chlorine hilang dalam proses ini. Tetap disisakan sesuai peraturan yang berlaku agar dalam distribusi air bersih ke pelanggan juga proses removal bakteri terus berjalan, sehingga air bersih dapat dikonsumsi, sesuai dengan Permenkes no 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum.

Setelah proses koagulasi dan flokulasi dilakukan proses sedimentasi dan pengendapan untuk pemisahan lumpur (dokpri)
Setelah proses koagulasi dan flokulasi dilakukan proses sedimentasi dan pengendapan untuk pemisahan lumpur (dokpri)
Proses biofiltrasi dengan menggunakan mikroorganisme alami yang hidup dalam air untuk menghilangkan polutan amonium, detergen, mangan, dan limbah rumah tangga (dokpri)
Proses biofiltrasi dengan menggunakan mikroorganisme alami yang hidup dalam air untuk menghilangkan polutan amonium, detergen, mangan, dan limbah rumah tangga (dokpri)
Tahapan proses pengolahan air di IPA Taman Kota, yakni penerimaan air baku, koagulasi dan flokulasi, sedimentasi dan pengendapan, biofiltrasi, filtrasi/penyaringan, dan desinfeksi (dokpri)
Tahapan proses pengolahan air di IPA Taman Kota, yakni penerimaan air baku, koagulasi dan flokulasi, sedimentasi dan pengendapan, biofiltrasi, filtrasi/penyaringan, dan desinfeksi (dokpri)

Tahapan proses yang ditunjukkan di IPA Taman Kota menyadarkan saya jika untuk memperoleh air bersih tidaklah mudah akibat pencemaran yang terjadi. Bahkan membutuhkan biaya yang mahal, seperti kata Budi Susilo, Direktur Customer Service PAM Lyonnaise Jaya (PALYJA)

 Vita Chandra Dewi, Kepala IPA Taman Kota, yang tengah hamil tua dan saat visit Kompasiana merupakan hari terakhirnya bekerja sebelum cuti mengatakan, menjaga air sungai tetap bersih sangat penting meskipun adanya teknologi canggih untuk mengolah air bersih.

Dikatakannya, program pembersihan 13 sungai yang dijalankan Pemda Jakarta terbukti cukup membantu untuk mengurangi kadar limbah air sungai. Jadi, yuk jaga sungai dari limbah dan kotoran agar ketersediaan air bersih untuk warga Jakarta selalu terjamin.

@riapwindhu

Sumber : http://www.kompasiana.com/riapwindhu/mengungkap-teknologi-palyja-untuk-solusi-air-bersih-jakarta-di-ipa-taman-kota_582f3367ae7a614e173912b1

Air adalah salah satu komponen penting bagi kehidupan. Hampir 80 persen tubuh kita terdiri atas air. Kita bisa menahan rasa lapar, namun kita tidak bisa menghindar dari rasa haus. Itulah sebabnya, air adalah bagian penting dari kehidupan.

Pada minggu lalu, 03 November 2016 tepatnya, saya bersama beberapa kompasianer berkunjung ke salah satu pengolahan air bersih di Jakarta dalam rangka Kompasiana Visit bersama Palyja: Optimasi Instalasi sebagai Solusi Defisit Air Bersih Jakarta. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Taman Kota menjadi tujuannya. Namun sebelum kesana, kami berkumpul terlebih dulu di IPA Pejompongan I. Di IPA Pejompongan I, kami di beri pencerahan tentang apa Palyja beserta peran dan tugasnya. Hadir di IPA Pejompongan I kala itu Budi Susilo, Direktur Customer Service Palyja, Meyritha Maryani, Kepala Divisi Corporate Communications dan Social Responsibility Palyja serta Emma Nedi, Kepala Department Produksi Palyja.

Meyritha Maryani, Kepala Divisi Corporate Communications dan Social Responsibility Palyja saat mempresentasikan teknologi Palyja kepada kompasianer di Instalasi Pengolahan Air Pejompongan I, Jalan Penjernihan II, Pejompongan, Jakarta. Foto: Arum sato.
Meyritha Maryani, Kepala Divisi Corporate Communications dan Social Responsibility Palyja saat mempresentasikan teknologi Palyja kepada kompasianer di Instalasi Pengolahan Air Pejompongan I, Jalan Penjernihan II, Pejompongan, Jakarta. Foto: Arum sato.

Sekilas Mengenai Palyja

PT PAM Lyonnaise Jaya atau PALYJA merupakan operator penyedia air bersih di Jakarta bagian barat Sungai Ciliwung. PALYJA adalah bagian dari SUEZ Environment (Perancis) dan PT Astratel Nusantara (divisi infrastruktur dari Astra). Dibentuk pada tahun 1997 dengan tujuan untuk mengolah dan menyediakan air bersih untuk masyarakat Jakarta bagian barat. Untuk masyarakat Jakarta bagian timur dilayani oleh Aetra.

Palyja memiliki 4 instalasi pengolahan air, yaitu: IPA Pejompongan I & II, IPA Cilandak dan IPA Taman Kota. IPA Taman Kota adalah yang terkecil dari IPA lainnya dari jumlah kapasitas air bersih yang dihasilkan, yaitu 150 liter per detik. Sedangkan IPA Cilandak mampu memproduksi sekitar 400 liter per detik. Yang paling besar adalah IPA Pejompongan II dengan kapasitas produksi 3.600 liter per detik. Sedangkan di IPA Pejompongan I dengan kapasitas produksi 2.000 liter per detik.

Selain memiliki 4 instalasi pengolahan air baku menjadi air bersih, Palyja juga memiliki 2 tempat penampungan air bersih sementara atau disebutnya Distribution Central Reservoir (DCR). Ada 2 DCR yaitu: DCR 4 Kebun Jeruk dengan kapasitas 2.000 liter per detik dan DCR 5 Lebak Bulus dengan kapasitas 1.000 liter per detik.

Selain itu, juga terdapat sebuah instalasi pengolahan air sungai menjadi air baku di Kanal Banjir Barat, dengan kapasitas 550 liter per detik.

Jakarta dan Air Bersihnya

Jakarta adalah kota yang memiliki banyak air.  Ada 13 sungai yang mengaliri Jakarta. Bayangkan, betapa melimpahnya air yang tersedia, yang bisa digunakan sebagai sumber air bersih. Saat ini sekitar 10 juta orang tinggal di Jakarta. Ironinya, semakin bertambah jumlah penduduk Jakarta, tak membuat sungai di Jakarta semakin terjaga. Penduduk semakin banyak, sungai pun semakin tak layak. Miris!

Dari 13 sungai yang melewati Jakarta, hanya dua sungai yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber air bersih. Itu pun kondisi ke-dua sungai tersebut dari tahun ke tahun semakin menurun. Dua sungai tersebut yaitu Sungai Krukut dan Sungai Cengkareng drain. Sungai Cengkareng Drain merupakan anak sungai dari Kali Pesanggrahan. Dua sungai ini hanya mampu menyumbang 5,7 persen saja dalam operasional pengolahan air bersih Jakarta.

Ini adalah potret air selokan di sekitar Stasiun Taman Kota, dan selokan di Jakarta pada umumnya. Limbah dari rumah tangga umumnya langsung menuju selokan. Bisa dilihat limbah detergent/sabun dari buih dalam selokan tersebut. Dalam sehari, berapa kali pipa limbah tersebut mengalirkan air sabun? Dan itulah fakta yang terjadi hampir pada setiap selokan yang ada di Jakarta, yang semua bermuara ke sungai. Foto: Arum Sato
Ini adalah potret air selokan di sekitar Stasiun Taman Kota, dan selokan di Jakarta pada umumnya. Limbah dari rumah tangga umumnya langsung menuju selokan. Bisa dilihat limbah detergent/sabun dari buih dalam selokan tersebut. Dalam sehari, berapa kali pipa limbah tersebut mengalirkan air sabun? Dan itulah fakta yang terjadi hampir pada setiap selokan yang ada di Jakarta, yang semua bermuara ke sungai. Foto: Arum Sato

Untuk bisa memenuhi kebutuhan air bersih warga Jakarta, selanjutnya Palyja mengimpor atau membeli air baku dari Waduk Jatiluhur, di Kecamatan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Pasokan air baku dari Waduk Jatiluhur ke Jakarta saat ini mencapai 62,5 persen atau 19.000 liter per detik. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Serpong “menyumbang” 31 persen, dan IPA Cikokol 0,8 persen.

Dengan kondisi air baku seperti itu, saat ini Palyja dan Aetra hanya mampu memproduksi 17.000 liter per detik. Sedangkan Jakarta, dengan 10-an juta penduduk, membutuhkan pasokan air bersih sekitar 26.100 liter per detik. Angka tersebut dengan ukuran per hari per orang dengan konsumsi air bersih 100 liter per detik. Angka tersebut berdasarkan studi yang pernah dilakukan oleh Palyja. Jadi, kekurangan 9.100 liter per detik yang menjadi tantangan Palyja untuk bisa mengairi Jakarta dengan air bersih, dengan kendala minim air baku.

Untuk itulah, Palyja terus berupaya mengembangkan teknologi untuk bisa memanfaatkan air sungai di Jakarta yang masih layak olah. Demi kebutuhan khalayak banyak.

Mengenal Lebih Dekat IPA Taman Kota

IPA Taman Kota berada di Jl. Komplek Taman Kota, Jakarta Barat. Kompasianer melakukan kunjungan pada 03 November 2016, guna melihat dari dekat proses pengolahan air bersih. Foto: Arum Sato
IPA Taman Kota berada di Jl. Komplek Taman Kota, Jakarta Barat. Kompasianer melakukan kunjungan pada 03 November 2016, guna melihat dari dekat proses pengolahan air bersih. Foto: Arum Sato

Dengan segala kendala tentang air baku, Palyja tetap berusaha meningkatkan produksinya. Salah satunya dengan menciptakan teknologi baru untuk membantu pengolahan air baku.

Dan dengan inovasinya, Palyja berhasil memberdayakan kembali IPA Taman Kota dari mati surinya. Ya, tahun 2007 IPA Taman Kota pernah ditutup karena masalah air baku. Air baku dari Sungai Cengkareng Drain mengandung amonium dengan kadar yang sangat tinggi yaitu 8 ppm, jauh dari jumlah normal 1 ppm yang menjadi standar pengolahan air bersih. Instalasi pengolahan air yang berdiri dan beroperasi sejak 1982 itu beroperasi kembali pada Juli 2012, berkat teknologi.

Instalasi Pengolahan Air Taman Kota berada di kawasan perumahan padat penduduk. Beralamat di Jl. Komplek Taman Kota A1 No. 1, Jakarta Barat. Nah, IPA Taman Kota beroperasi kembali dengan teknologi Biofiltrasi, memanfaatkan mikroorganisme alami yang hidup di dalam air tawar. Teknologi ini dikembangkan oleh Palyja bekerjasama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), di bawah pengawasan supervisi SUEZ Environment sebagai pemegang saham terbesar Palyja.

Menurut Vita, Kepala IPA Taman Kota, air baku IPA Taman Kota sangat tinggi akan amonium. Amonium ini banyak berasal dari limbah domestik yang didominasi oleh limbah rumah tangga. Hal tersebut juga diamini oleh Meyritha Maryani. Dengan teknologi Biofiltrasi ini, kadar amonium dalam air baku bisa dikurangi hingga 87 persen.

“Teknologi Biofiltrasi dengan mikroorganisme alami yang hidup di dalam air, dengan bantuan media tumbuh. Bentuknya kayak plastik yang di crosspack gitu,” terang Vita di meja kerjanya.

Teknologi yang sama juga digunakan di Instalasi Pengambilan Air Baku Kanal Banjir Barat dengan dengan bantuan media yang disebut meteor. Kalau di IPA Taman Kota disebut teknologi Biofiltrasi, di Kanal Banjir Barat disebut dengan teknologi Moving Bed Biofilm Reactor (MBBR). Dan teknologi MBBR ini merupakan teknologi pertama di Indonesia dan Asia Tenggara di bidang pengolahan air.

Ini adalah pintu air/intake IPA Taman Kota. Berada di kawasan Kembangan Utara, Jakarta Barat. Dari sungai ini, air diolah dengan teknologi Biofiltrasi dan bisa langsung dikonsumsi. Foto: Riap Windu.
Ini adalah pintu air/intake IPA Taman Kota. Berada di kawasan Kembangan Utara, Jakarta Barat. Dari sungai ini, air diolah dengan teknologi Biofiltrasi dan bisa langsung dikonsumsi. Foto: Riap Windu.
Kompasianer juga melakukan blusukan ke Stasiun Pompa, tempat pengambilan air baku IPA Taman Kota. Foto: Arum Sato
Kompasianer juga melakukan blusukan ke Stasiun Pompa, tempat pengambilan air baku IPA Taman Kota. Foto: Arum Sato

Namun kelemahaan dari teknologi Biofiltrasi adalah, ketika ada air laut teknologi ini tidak berfungsi maksimal. Untuk info, IPA Taman Kota berjarak hanya 5 km dari laut. Itu sebabnya, kenaikan (intrusi) air laut adalah masalah kedua bagi instalasi ini. Meski sudah dikembangkan teknologi pendeteksi air air laut, namun itu belum maksimal. Mengingat, pasokan air baku berkurang yang berakibat pada berkurangnya kapasitas produksi air bersi. Bahkan bisa berhenti beroperasi.

“Karena teknologi Biofiltrasi dirancang khusus untuk mengolah air tawar. Jadi, ketika air laut masuk ke sini, kita stop produksi karena mikroorganismenya mati. Tapi sekarang sudah ada teknologi baru untuk mendeteksi masuknya air laut,” terang Vita lebih lanjut.

Pada tahun 2015 lalu, Palyja telah mengembangkan teknologi yang bernama Total Dissolve Solid (TDS) Online Analyzer. Alat ini berfungsi untuk mendeteksi masuknya air laut. Dengan keberadaan TDS Online Analyzer ini, ketika air laut menyentuh intake maka dapat segera diambil tindakan pencegahan. Yaitu, dengan menutup pintu masuk air/intake. Di saat seperti ini, maka produksi IPA Taman Kota menurun bahkan mati suri, karena tidak mendapatkan air baku untuk berproduksi.

Menurut Vita, ada satu cara yang bisa dilakukan agar IPA Taman Kota tetap berproduksi meski intrusi air laut sedang terjadi. Yaitu dengan menutup pintu air Sungai Cengkareng Drain. Dulu, hal ini yang dilakukan ketika air laut pasang sedang terjadi. Namun kini masalahnya, apabila dilakukan penutupan pintu air Sungai Cengkareng Drain, akan mengakibatkan banjir di area Pantai Indak Kapuk. Dilema yang harus segera dicarikan solusi bersama oleh Palyja maupun Pemda DKI.

Meski diakui Vita, bahwa dengan pengerukan kali yang terus dilakukan oleh Dinas Kebersihan DKI saat ini, sedikit banyak telah membantu kondisi air baku lebih baik, terutama di Cengkareng Drain.

Solusi untuk mencegah air masuk ke intake adalah dengan menutup pintu air Cengkareng Drain. Masalah timbul ketika ada daerah yang kebanjiran akibat ditutupnya pintu air ini. Dilema yang harus segera dicarikan solusinya, demi kebutuhan bersama. Foto: @KebersihanDKI
Solusi untuk mencegah air masuk ke intake adalah dengan menutup pintu air Cengkareng Drain. Masalah timbul ketika ada daerah yang kebanjiran akibat ditutupnya pintu air ini. Dilema yang harus segera dicarikan solusinya, demi kebutuhan bersama. Foto: @KebersihanDKI

Kompasianer Blusukan di IPA Taman Kota

Di IPA Taman Kota, dengan area kurang lebih seluas 5.000 meter persegi, terjadi pemrosesan air baku menjadi air bersih. Dengan dikembangkannya teknologi Biofiltrasi, pemrosesan air baku menjadi air bersih di IPA Taman Kota bisa kembali dilakukan.

“Pipa coklat ini adalah jalur pertama air baku yang berasal dari intake di Cengkareng Drain,” terang Febri, staff IPA Taman Kota saat mengawal kompasianer blusukan.

Intake adalah pintu pengambilan air IPA Taman Kota yang berlokasi di Sungai Cengkareng Drain. Sungai Cengkareng Drain merupakan anak sungai dari Kali Pesanggrahan. Jaraknya 1,5 km dari IPA Taman Kota. Terdapat 4 pompa air dipasang di Sungai Cengkareng Drain yang memompa air untuk dialirkan menuju IPA Taman Kota ini.

Di pipa besar inilah proses Koagulasi terjadi. Pada proses ini penambahan zat kimia dilakukan. Foto: Arum Sato
Di pipa besar inilah proses Koagulasi terjadi. Pada proses ini penambahan zat kimia dilakukan. Foto: Arum Sato
Pipa coklat berisi air baku dari Cengkareng Drain. Di pipa besar inilah proses Koagulasi terjadi. Pada proses ini penambahan zat kimia dilakukan. Diantara pipa dan Febri adalah TDS Oline Analyzer. Alat ini berguna untuk mendeteksi tingkat kekeruhan air, keasaman air serta kelembaban air. TDS Online Analyzer juga dipasang di intake, guna mendeteksi masuknya air laut. Foto: Arum Sato
Pipa coklat berisi air baku dari Cengkareng Drain. Di pipa besar inilah proses Koagulasi terjadi. Pada proses ini penambahan zat kimia dilakukan. Diantara pipa dan Febri adalah TDS Oline Analyzer. Alat ini berguna untuk mendeteksi tingkat kekeruhan air, keasaman air serta kelembaban air. TDS Online Analyzer juga dipasang di intake, guna mendeteksi masuknya air laut. Foto: Arum Sato
Bentuk depan TDS Oline Analyzer yang terpasang di IPA Taman Kota. Alat ini berguna untuk mendeteksi tingkat kekeruhan air, keasaman air serta kelembaban air. Online Analyzer juga dipasang di intake, guna mendeteksi masuknya air laut. Foto: Arum Sato
Bentuk depan TDS Oline Analyzer yang terpasang di IPA Taman Kota. Alat ini berguna untuk mendeteksi tingkat kekeruhan air, keasaman air serta kelembaban air. Online Analyzer juga dipasang di intake, guna mendeteksi masuknya air laut. Foto: Arum Sato
Pada pengolahan air, beberapa zat kimia ditambahkan. Penambahan zat kimia ini untuk membuang polutan yang ada di dalam air. Foto: Arum Sato
Pada pengolahan air, beberapa zat kimia ditambahkan. Penambahan zat kimia ini untuk membuang polutan yang ada di dalam air. Foto: Arum Sato

Pengolahan air baku menjadi air bersih di IPA Taman Kota harus melalui beberapa tahapan. Dimulai dengan proses Koagulasi, Flokulasi, Sedimentasi, Biofiltrasi, Filtrasi, dan Desinfeksi.

Selain itu juga ada beberapa jenis zat kimia yang ditambahkan ketika air diolah. Zat kimia tersebut antara lain: karbon aktiv, koagulan, soda ash dan chlorine.

Proses yang pertama adalah pengambilan air dari intake di Sungai Cengkareng Drain. Dari sana, air dipompa dan dialirkan ke IPA Taman Kota. Selanjutnya, air akan mengalami proses pertama yaitu proses Koagulasi.

Yang dimaksud dengan Koagulasi adalah proses pengadukan cepat antara air baku dan zat kimia yang dibutuhkan untuk membersihkan air. Zat karbon aktiv, koagulan, maupun soda ash, dengan tugas dan fungsinya masing-masing dicampurkan ke dalam air. Zat karbon aktiv berguna untuk menghilangkan detergent dan bau. Sedangkan Koagulan yang dipakai disini adalah jenis ach, atau Aluminium chlorohydrate.

“Koagulan ini bersifat seperti lem. Dia akan mengikat atau merekatkan partikel-partikel padat yang ada di dalam air supaya lebih besar dan membentuk flok, agar lebih mudah mengendap. Sedangkan soda ash, dimanfaatkan untuk menetralisir keasaman air (ph air),” tutur Febri menjelaskan.

Setelah proses Koagulasi, air akan dialirkan ke bak-bak penampungan. Tahapan selanjutnya adalah Flokulasi. Dalam proses Flokulasi, pengadukan air dilakukan secara lambat. Supaya apa? Supaya gumpalan partikel-partikel atau flok-flok yang terbentuk dari proses Koagulasi tadi lebih besar lagi dan bisa dengan mudah mengendap.

Tahapan selanjutnya adalah proses Sedimentasi atau pengendapan. Air dari bak Flokulasi dialirkan menuju bak Sedimentasi. Flok-flok yang menggumpal membentuk lumpur dan akhirnya mengendap. Di dalam bak Sedimentasi, terjadi proses pemisahan lumpur dan air bersih. Proses ini dibantu dengan bantuan plate settler untuk mempermudah pengendapan. Pada bak Sedimentasi ini, pada bagian permukaan bak, air sudah kelihatan lebih jernih. Sedangkan lumpur kelihatan menghitam di bagian bawah bak.

Ini adalah bak Flokulasi, dimana air diaduk secara lambat. Air ini sudah mengalami proses Koagulasi dan tambahan zat kimia. Namun polutan masih terlihat di permukaan air. Foto: Arum Sato
Ini adalah bak Flokulasi, dimana air diaduk secara lambat. Air ini sudah mengalami proses Koagulasi dan tambahan zat kimia. Namun polutan masih terlihat di permukaan air. Foto: Arum Sato
Ini adalah bak Sedimentasi. dari bak Flokulasi, air dialirkan ke sini. Permukaan sudah nampak jernih. Dari bak ini, air akan mengalir menuju bak Biofiltrasi. Foto: Arum Sato
Ini adalah bak Sedimentasi. dari bak Flokulasi, air dialirkan ke sini. Permukaan sudah nampak jernih. Dari bak ini, air akan mengalir menuju bak Biofiltrasi. Foto: Arum Sato

Selanjutnya air dialirkan menuju bak Biofiltrasi. Pada bak inilah terjadi apa yang disebut Biofiltrasi. Yaitu proses removal polutan amonium, detergent, mangan dan lainnya dengan menggunakan mikroorganisme alami. Migroorganisme ini memang hidup di dalam air. Dengan bantuan media crosspack, mikroorganisme alami dalam teknologi Biofiltrasi ini hidup pada lapisan Biofilm yang ada pada media crosspack tersebut.

Untuk menjaga mikroorganisme tetap hidup dan bekerja efektif, digunakan blower dan diffuser. Ini untuk menjaga aliran air terus mengalir dan mengembuskan udara ke dalam air.

Ini adalah bak Biofiltrasi, dimana proses removal polutan amonium, detergent, mangan dan lainnya dengan menggunakan mikroorganisme alami terjadi. di bak ini, air terus menerus dialirkan guna menghidupi mikroorganisme di dalamnya. Pada bak ini dipasang semacam teralis penutup, guna menahan busa yang kadang sangat banyak, supaya tidak melimpah. Foto: Arum Sato
Ini adalah bak Biofiltrasi, dimana proses removal polutan amonium, detergent, mangan dan lainnya dengan menggunakan mikroorganisme alami terjadi. di bak ini, air terus menerus dialirkan guna menghidupi mikroorganisme di dalamnya. Pada bak ini dipasang semacam teralis penutup, guna menahan busa yang kadang sangat banyak, supaya tidak melimpah. Foto: Arum Sato

etelah tahapan Biofiltrasi, air ditampung pada bak pengumpul pertama yang lebih besar, Bak Biofilter/Kelder Biofilter, untuk diendapkan. IPA Taman Kota memiliki 2 bak pengumpul sementara: Bak Biofilter/Kelder Biofilter dan Bak Air Bersih.

Dari  Bak Biofilter/Kelder Biofilter, air dipompa untuk selanjutnya melalui tahapan Filtrasi atau penyaringan. Proses penyaringan ini di lakukan di tempat terpisah dari ke-tiga tahapan sebelumnya.

Pada tahapan Filtrasi ini, dilakukan penyaringan sisa partikel padat yang kemungkinan masih terbawa dalam air bersih keluaran dari proses Biofiltrasi. Proses penyaringan ini menggunakan media pasir silika dan pasir gravel. Supaya pasir tetap berfungsi maksimal sebagai media penyaring, dilakukan proses pencucian pasir atau backwash per 24 jam sekali.

“Proses Filtrasi atau penyaringan ini adalah proses untuk menjernihkan air ke tahap maksimalnya,” jelas Febri, staff IPA Taman Kota yang menjadi komandan saat kompasianer blusukan ke bak-bak pengolahan air.

Selanjutnya, air hasil penyaringan ini akan ditampung di bak pengumpul ke-dua, Bak Air Bersih. Nah, tahapan proses pengolahan air yang terakhir adalah Desinfektan, yang dilakukan di dalam Bak Air Bersih tersebut. Yaitu proses removal bakteri dengan menggunakan zat kimia chlorine, atau bahasa umumnya kaporit.

Sebelum didistribusikan, air mengalami pengecekan terlebih dahulu, termasuk kadar chlorine yang perbolehkan. Ketika belum memenuhi angka standar yang ditetapkan, air akan diproses ulang hingga benar-benar sesuai standar. Foto: Arum Sato
Sebelum didistribusikan, air mengalami pengecekan terlebih dahulu, termasuk kadar chlorine yang perbolehkan. Ketika belum memenuhi angka standar yang ditetapkan, air akan diproses ulang hingga benar-benar sesuai standar. Foto: Arum Sato
Setelah bersih dan sesuai standar yang ditetapkan, air dipompa untuk didistribusikan ke pelanggan. Ini pompa yang ada di IPA Taman Kota. Foto: Aum Sato
Setelah bersih dan sesuai standar yang ditetapkan, air dipompa untuk didistribusikan ke pelanggan. Ini pompa yang ada di IPA Taman Kota. Foto: Aum Sato

Dalam proses Desinfektan, tidak semua chlorine hilang. Dalam persentase tertentu (sesuai peraturan yang ditetapkan Kemenkes) disisakan agar dalam proses distribusi air bersih ke pelanggan, proses removal bakteri terus berjalan. Sehingga air yang diterima oleh pelanggan aman untuk dikonsumsi. Dari Bak Air Bersih, dicek terlebih dulu untuk memenuhi standar air bersih sesuai peraturan yang berlaku. Baru setelahnya dipompa dan siap didistribusikan.

“Air dari sini dipompain ke pipa Daan Mogot (pipa 800) dan bercampur air bersih di Distribution Central Reservoir (DCR) 4. Dari Daan Mogot barulah air itu di sebar ke pelanggan. Kawasan Kembangan Utara, Rawa Buaya, Kedaung Kali Angke, Kapuk, Cengkareng Timur, Cengkareng Barat, Tegal Alur, Kamal, Kamal Muara, Pegadungan, Kalideres adalah kawasan yang menjadi pelanggan,” jelas Vita disela obrolan menunggu kompasianer lain selesai blusukan.

sumber: http://www.kompasiana.com/setyaningrum/di-jakarta-air-sungai-menjadi-air-minum-berkat-teknologi-biofiltrasi_582f2b4fc923bd151877e798

INSTALASI Pengolahan Air (IPA) Taman Kota, Jakarta Barat adalah instalasi pengolah air baku milik Palyja, yang mengolah air baku dari Cengkareng Drain, Jakarta Barat. Meski kapasitas produksinya paling kecil diantara IPA milik PT PAM Lyonnaise Jaya (Palyja) lainnya, keberadaannya cukup signifikan untuk melayani kebutuhan air bersih di kawasan Jakarta Barat. Kapasitas produksi yang dihasilkan IPA Taman Kota mempunyai arti penting, mengingat IPA ini sempat ‘stop’ produksi dikarenakan ‘kewalahan’ mengolah air baku yang berkualitas sangat buruk. Polutan sebesar 8 ppm (part per million) menjadi penyebabnya. Polutan yang jauh diambang standar semestinya sekitar 1 ppm.

Namun belakangan dengan ‘jurus’ teknologi terbaru, IPA Taman Kota, mampu beroperasi kembali. Teknologi Biofiltrasi namanya. Sebuah teknologi yang digunakan sejak Juli 2012 itu, mampu meremoval kandungan amonia dan deterjen dalam air. Air baku pun mampu diolah sesuai persyaratan yang tertuang dalam Permenkes no 492 tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum. Saat ini kapasitas produksi sebesar150 lps (litre per second) telah dinikmati warga Jakarta Barat yang menjadi daerah layanannya.

Lalu seperti apakah teknologi Biofiltrasi itu? Bagaimana kondisi air baku di ibukota, masih cukupkah untuk diolah melayani penggunanya? Apa tantangan terberat yang dihadapi IPA Palyja? Apa saja yang sudah dan akan dilakukan Palyja dalam pelayanan air bersih?  

Kompasiana Visit ke IPA Taman Kota Jakbar (Foto GANENDRA)
Kompasiana Visit ke IPA Taman Kota Jakbar (Foto GANENDRA)

Turut ‘blusukan’ ke IPA Taman Kota, Kembangan Utara,  Jakarta Barat dalam acara Kompasiana Visit, pada bertema “Optimasi Instalasi sebagai Solusi Defisit Air Bersih Jakarta” pada Kamis (3/11/2016) yang lalu, aku memperoleh banyak informasi dan wawasan baru. Bukan hanya soal seluk beluk layanan Palyja, namun juga mengetahui sendiri bagaimana IPA Taman Kota mengolah air baku yang polutannya tinggi menjadi air bersih. Bersama kompasianer lainya, aku berkesempatan melihat-lihat proses pengolahan air baku di IPA Taman Kota, juga memperoleh informasi tentang Palyja saat berkunjung ke IPA 1 Pejompongan di Jalan Penjernihan 2, Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Oh iya untuk diketahui IPA Taman Kota ini adalah salah satu IPA yang dimiliki Palyja. Di sini  kapasitas produksi  paling kecil, sebesar 150 lps. Maklum saja areanya meliputi hanya Luasnya 4000 m3 saja. Sementara IPA lainnya ada IPA 1 Pejompongan dengan kapasitas produksi 2.000 liter/detiklps, IPA 2 Pejompongan dengan kapastitas produksi 3.600 lps, dan IPA Cilandak dengan kapasitas produksi 400 lps. Nah khusus kali ini aku ceritain IPA Taman Kota yang sudah berdiri dan beroperasi sejak 1982 ini, sesuai dengan lokasi yang aku kunjungi saat Kompasiana Visit.

IPA Taman Kota (Foto Ganendra)
IPA Taman Kota (Foto Ganendra)

Ini Dia, Cara Pengolahan Air Baku IPA Taman Kota

Sosok muda berperawakan tubuh kecil itu sabar menjelaskan per tahapan pengolahan air baku. Suaranya lantang terdengar dari megafon yang dipegangnya. Febri, salah seorang petugas dari IPA Taman Kota menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Kompasianer saat ‘blusukan’ ke jantung pengolahan air baku IPA Taman Kota.

Diantara bak-bak semen, pipa-pipa saluran air, dan suara aliran air, Febri menjelaskan satu persatu cara pengolahan air baku di tempatnya bekerja.

“Nah ini adalah tahap pertama, air baku dari intake Cengkareng Drain ditampung di sini,” katanya kepada rombongan kompasianer di salah satu sudut lokasi IPA Taman Kota, Kamis (3/11/2016).

Intake Cengkareng drain. (Foto Ganendra)
Intake Cengkareng drain. (Foto Ganendra)
4 Pompa di intake Cengkareng drain (Foto Ganendra)
4 Pompa di intake Cengkareng drain (Foto Ganendra)
Stasiun pompa di Kembangan utara, Jakbar. (Foto Ganendra)
Stasiun pompa di Kembangan utara, Jakbar. (Foto Ganendra)

Air baku itu didatangkan dari intake 150-160 lps Cengkareng drain. Ada 4 pompa yang mendorong air baku ke lokasi penampungan air pengolahan IPA Taman Kota. Jaraknya sekitar 2 km. Durasi yang dibutuhkan air sampai ke lokasi pengolahan sekitar 20an menit. Di sinilah tahap awal pengolahan air baku dimulai.

Oya sebelumnya untuk diketahui ada tahapan proses pengolahan di IPA Taman Kota ini. Sesuai penjelasan Vita Chandra Dewi, Kepala IPA Taman Kota dan juga Febri saat ‘blusukan’ ke bak-bak pengolahan air baku. Intinya ada 5 tahap proses pengolahan sampai menjadi air bersih. Tahapan proses pengolahan tersebut adalah koagulasi dan flokulasi, sedimentasi, biofiltrasi, filtrasi, serta  desinfeksi.

Melalui pipa-pipa panjang berukuran besar berjajar di lokasi yang bersebelahan dengan pemukiman warga Taman Kota ini, nampak alat-alat pengukur tersedia dengan angka-angka digital yang menunjukkan parameter ukuran air baku yang masuk. Dan tahapan dimulai.

“Tahapan pertama adalah koagulasi,” kata Febri.

Febri (Foto Ganendra)
Febri (Foto Ganendra)

Dalam proses ini dicampurkan bahan kimia (koagulan) dengan air baku sehingga membentuk campuran yang homogen dengan disertai pengadukan cepat.  Air baku dicek tingkat kekeruhannya maupun PH-nya. Di sini ditentukan bahan kimia yang akan ditambahkan dalam prosesnya. Namanya Koagulan. Koagulan, ada partikel-partikel kecil dalam air. Koagulan menyatukan menjadi gumpalan/ flok, yang membuat lebih berat dan mudah mengendap. Jadi dikatakan bahwa proses Koagulasi, adalah menyatukan partikel-partikel kecil.

“Plat-plat kecil, buat mengaduk air biar rata dan menyatukan dengan campuran yang dimasukkan ke dalam pipa,” jelas Febri.

Perlakuan di sini, bisa ditambahkan Soda A, untuk netralin PH. Sementara Karbon aktif, untuk menghilangkan bau/ limbah detrjen. Pasalnya air baku awal jelas sangat beragam kandungannya. Mulai dari sampah, deterjen, dan lain-lain.

Dilanjutkan pada tahapan berikutnya, tahap kedua yakni flokulasi.Di sini terjadi proses pembentukan partikel flok yang besar dan padat dengan cara pengadukan lambat agar dapat diendapkan.

“Di sini diaduk lambat. Biar flok tergabung,” jelas Febri melalui megaphonenya.

Tahap awal (Foto Ganendra)
Tahap awal (Foto Ganendra)
Sedimentasi (Foto Ganendra)
Sedimentasi (Foto Ganendra)

Selanjutnya dari bak-bak dip roses flokulasi, ada pipa ke bawah, berlanjut ke proses sedimentasi. Tahap sedimentasi ini adalah proses pemisahan padatan dan air berdasarkan perbedaan berat jenis dengan cara pengendapan. Proses dilakukan di ragam bak sedimentasi. Di sini gumpalan yang terbentuk bakal mengendap. Sementara air di atasnya terlihat bening.

Nah setelah proses sedimentasi ini, berlanjut ke biofiltrasi. Inilah teknologi dengan menggunakan mikroorganisme ‘pemakan’ amonia dan deterjen. Teknologi yang menjadi kunci pengolahan dari air baku yang berkadar 8 ppm diubah menjadi 1 ppm sesuai persyaratan air bersih dari Kementrian kesehatan RI dan Gubernur DKI.

Biofiltrasi, Teknologi Menggunakan Mikroorganisme Pemakan Amonia

Ada bak-bak biofiltrasi yang dialiri dengan air baku. Bak-bak terlindungi dengan besi-besi penghalang di atas bak. Tampilannya berbeda dengan proses sedimentasi dengan air yang tenang. Di tahap biofilterasi  ini air dialirkan terus menerus. Tujuannya untuk menumbuhkan mikroorganisme ‘pemakan’ amonia dan deterjen. Inilah teknologi biofilstrasi, amonia diuraikan dengan menggunakan bakteri. Dengan teknologi ini, mampu menurunkan hingga 87% kadar amonia.

“Bakteri tumbuh di media crosspacknya yang dialiri air baku. Seperti terlihat di batu kali itu Mas,” kata Vita di ruang kerjanya kepada Penulis.

Berarti berbeda dengan di IPA Kanal Barat yang menggunakan sarana meteor yaa. Teknologinya sama-sama menggunakan bakteri ‘baik’ pemakan amonia. Sementara di IPA Cilandak menggunakan teknologimoving bed bio-film reactor(MBBR). MBBR ini,  teknologi pengolahan air bersih terbaru yang pertama diterapkan di Indonesia, bahkan di Asia lhooo.

“Crosspack ini berbentuk lembaran. Di bawahnya ada hembusan udara,” jelas Vita yang sedang hamil 8 bulan ini.

Kandungan amonia tinggi di IPA Taman Kota cukup tinggi, mencapai 8 ppm. Polutan utamanya dari limbah rumah tangga.

Bak biofiltrasi (Foto Ganendra)
Bak biofiltrasi (Foto Ganendra)

Teknologi menggunakan mikroorganisme alami ini, digunakan setelah produksi IPA Taman Kota dihentikan sejak 2007 lalu. Pengembangan teknologi biofiltrasi yang dilakukan Palyja, SUEZ sebagai induk perusahaan bersama BPPT berlanjut Juli 2012 setelah ditemukan teknologi biofiltrasi tersebut.

Cuma teknologi tersebut sangat rentan terhadap air laut yang bisa menyebabkan mikroorganisme mati. Soalnya ‘bakteri baik’ itu hanya bisa hidup di air tawar.  Dan kejadiannya, pernah dialamai tahun lalu, saat IPA menghentikan produksinya karena adanya aliran balik dari laut yang membuat tingginya tingkat keasinan (salinitas) dan total dissolved solid. Akibatnya IPA Taman Kota tidak sanggup mengolah.

“Banyak bakteri yang mati. Kami hentikan instalasi sekitar lebih dari dua minggu,” kata Vita.

Setelahnya pemulihan dilakukan dengan dialiri air sungai. Terus menerus. Hingga kondisi biofiltrasi normal dan bisa dilakukan produksi kembali.  Selanjutnya Palyja mengembangkan teknologi pendeteksi air laut di pintu air, yakni Total Dissolve Solid (TDS) Online Analyzer. Ini dilakukan seperti di intake Cengkareng Drain. Teknologi itu memberikan sinyal saat air laut menapai intake. Jika sinyal/alert berbunyi, maka operasi pengolahan air bisa segera dihentikan. Mikroorganisme bisa selamat dari pembunuh, yakni air laut.

Tahapan Filtrasi dan Desinfeksi

Nah setelah proses biofiltrasi, air baku ditampung di reservoir dan selanjutnya dipompa dan diolah di tahapan filtrasi. Di sini terjadi proses pemisahan padatan dari air melalui media penyaring seperti pasir dan antrasit. Saringan terdiri dari saringan gravitasi, saringan dengan pencucian antar saringan, dan saringan bertekanan. Proses penyaringan sisa partikel padat dilakukan di sini.

Kerja filter di sini 24 jam. Ada silica, nosle dan lain-lain. Ada 8 unit filter. Setahun sekali pasir diganti. Pasir dari Bangka. Ada parameternya,  oleh karenanya ada bagian proses yang meloloskan atau tidak.  8 unit filter itu, isinya sama. Ada nosle untuk menghidupkan udara. Di atasnya ada gravel, pasir yang lebih besar. Ketebalan 10 cm, baru dikasih pasir silica. Tentu saja filter perlu perawatan agar fungsi media penyaringan tetap baik.

“Kerja filter 24 jam jadi harus dibersihkan, karena pasti ada padatan-padatan yang bikin mampet. Operator wajib backwash setiap 24 jam sekali,”jelas Vita.

Pembersihan bak filtrasi (Foto Ganendra)
Pembersihan bak filtrasi (Foto Ganendra)

Aku sempat menyaksikan saat backwash dilakukan petugas di salah satu unit filter. Ada nosle-nosle di dalam unit berwarna biru itu. Tentu saja proses ini sangat penting yaa.

Selanjutnya dilakukan tahapan Desinfeksi. Ini adalah proses pembubuhan bahan kimia untuk mengurangi zat organik pada air baku dan mematikan kuman/organisme. Desinfektan yang digunakan antara lain zat kimia Chlorine. Di sini proses membunuh bakteri berlangsung. Selanjutnya air siap didistribusikan ke pelanggan.

Air siap pakai (Foto Ganendra)
Air siap pakai (Foto Ganendra)

Palyja Diantara Tantangan Layanan Air Bersih

Menurut Meyritha Maryanie, Corporate Communicatuins and Social Responsibility Division Head PALYJA, mengjelaskan bahwa PAM Lyonnaise Jaya adalah merupakan perusahaan swasta yang bekerjasamanya dengan PAM Jaya dengan mendelegasian pengelolaan air bersih. Bentuk kerjasama selama 25 tahun.  Saham mayoritasnya (51%) dikuasai Suez yang bermarkas di Paris, Perancis dan Astratel Nusantara (49%).

Kondisi air sungai di Jakarta dari tahun ke tahun mengkhawatirkan. Ada 13 sungai kualitas jelek. Sampai tak bisa diolah lagi, karena tinggi kadar deterjen, ammonia terutama bersumber dari limbah rumah tangga.

Normalisasi Kali Angke pada 2015. (Foto Ganendra)
Normalisasi Kali Angke pada 2015. (Foto Ganendra)

Menurut Budi Susilo, Direktur Customer Service PAM Lyonnaise Jaya (Palyja), bahwa  air tanggungjawab kita semua. Tanggungjawab akan kelangsungan air.  IA senang Gubernur DKI Jakarta BAsuki TP, ‘kenceng’ sekali melakukan program normalisasi sungai.

“Kita tak makan seminggu bisa. Tapi kalau tidak minum seminggu? Hal itu menggambarkan air itu penting sekali. Oelh karenanya Palyja mencanangkan programnya #Bersamademiair,” kata Budi.

IPA Taman Kota, ambil air baku dari Cengkareng drain. Kondisinya hitam. Amoniak,deterjen tinggi sekali. Sampai pernah stop operasi pada 2007 karena kualitas air tak layak diolah. Buangan RT yg tinggi. (saham Astra. 52% Suez di Paris). Kerjasama BPTT dan SUEZ, mulai 2012 IPA taman kota dibuka kembali dengan adanya teknologi biofiltrasi. Sehingga air bersih sudah memenuhi persyaratan sesuai Kemenkes. Oleh karena itu, mungkin bisa dikopi paste, bisa mengatasi kondisi air sungai yang jelek. Seperti mengembangkan biofiltrasi di banjir kanal (550 lps) pada 2015 yang diresmikan Gubernur DKI Jakarta, Basuki TP alias Ahok. Ahok terkesan. Dibangun lagi di Cilandak, dengan mengambil air baku dari Sungai Krukut.

Tantangan bahwa air baku sulit diperoleh. Meyritha mengatakan bahwa ketahanan air di Jakarta hanya 3%. Kebutuhan manusia air bersih butuh 60 liter per hari per orang. Di Jakarta butuh  100l/hari/orang karena di kota besar. Kebutuhan ini pada 2015 PM Jaya melakukan studi 2007-2008 demand dari Jakarta 26100 lps (2015) yang tersedia 17000lps. Defisit.

Tantangan paling utama yang dihadapi Palyja saat ini adalah tambahan air baku. Sejak 1998 tak ada tambahan air baku yang signifikan.

“Seperti bikin kue 1000 jadi  2000, terigu pasti lebih banyak,” kata Meyritha menganalogikan saat di IPA 1 Pejompongan di Jalan Penjernihan 2, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (3/11/2016).

Meyritha (Foto Ganendra)
Meyritha (Foto Ganendra)

Maka menurutnya, saat ini Palyja melakukan langkah-langkah, seperti menurunkan tingkat kehilangan air. Efesiensi. Penambahan jaringan distribusi. Penanganan tindakan illegal, atasi pencurian.

“Menggalakkan kepedulian air bersih dengan mengajak warga bertanggungjawab bersama dengan kampanye #BersamaDemiAir,” katanya.

Seperti halnya saat ini air baku dari Waduk  Jatiluhur sampai didatangkan, dan diolah Palyja, melibatkan banyak pihak di dalamnya. Artinya harus dilakukan bersama pihak-pihak lain. Bersama-sama melayani warga Jakarta lebih baik. #BersamaDemiAir

http://www.kompasiana.com/rahab2/biofiltrasi-teknologi-ipa-taman-kota-mengolah-air-baku-kualitas-buruk_582ee7491d23bd3b0b1fe1bd